
Seorang pria paruh baya menatap George dengan tatapan tajam. Tangannya mengarahkan sebuah senapan ke arah kepala asisten pribadi Frederico Patria itu dengan jari telunjuk siap menarik pelatuknya.
Ia nampak begitu marah melihat seorang pria asing berkeliaran di dalam Rumahnya di saat tengah malam seperti ini.
"Siapa kamu?!" tanya pria itu yang tidak lain adalah Howard Smith ayah dari perempuan cantik yang baru saja ia ungkapkan perasaannya.
"Apa yang kamu lakukan di Rumahku hah?!" Howard Smith melangkah semakin mendekat ke arah George yang tidak bergerak samasekali. Senapan yang biasa ia pakai untuk berburu itu masih ia todongkan ke arah kepala pria muda yang tidak ia kenal itu.
"Saya George Herbert, Tuan Smith. Saya mengantar Putrimu ke kamarnya karena ini sudah sangat larut," jawab pria itu dengan wajah tenangnya.
"Berani sekali kamu memasuki kamar Maggie tanpa izin dariku Hah?!" geram Howard Smith seraya memberikan satu tendangan keras pada tulang kering George.
"Sshh!" Pria itu meringis pelan karena kaki tuanya merasa sangat kesakitan dengan apa yang ia lakukan itu. Ia tak menyangka kalau pria itu memiliki otot yang sangat kuat.
"Maafkan Saya Tuan Smith. Apa anda tidak apa-apa?" tanya George dengan perasaan khawatir. Ia lalu meraih pria paruh baya yang sedang meringis itu dengan cepat.
"Apa hubunganmu dengan putriku?!" Howard Smith menepis tangan George dengan menggunakan senapannya.
"Saya mencintai Maggie Tuan. Dan saya ingin menjadikannya istriku. Anda tidak keberatan 'kan?" Howard Smith langsung tertawa dan menepuk bahu George dengan keras.
"Saya suka caramu George. Tapi sayangnya saya belum mengenal dirimu."
"Saya hanya orang biasa Tuan. Dan Maggie begitu istimewa dalam hidupku. Kalau anda mengijinkan, saya ingin sekali menikahinya saat matahari sudah terbit." Mata Howard Smith membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kamu jangan bercanda George. Kamu pikir gampang menikahi putriku hah?!"
"Tidak Tuan."
"Kalau begitu pulanglah sekarang juga. Saya menunggumu besok pagi untuk melamar Maggie dengan benar."
"Ah ya terimakasih karena Anda tidak menembak kepalaku dengan senapan Anda itu."
"Hahahaha, senapan ini hanya senapan angin untuk menakut-nakuti orang yang berniat menggoda dan mempermainkan putriku."
"Selamat malam Tuan Smith. Saya permisi." George langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah ringan. Sekali lagi ia berterima kasih pada alam yang telah memberi dukungannya malam ini. Hati Maggie dan juga Ayahnya sudah ia dapatkan.
Dengan bersiul-siul kecil ia pun segera melajukan mobilnya untuk pulang. Tak ada lagi hal yang ia khawatirkan sekarang. Ayah Maggie sudah memberikan restunya dan itu merupakan hal yang sangat luar biasa ia dapatkan.
__ADS_1
Pria itu pun memandang jam tangannya. Waktu sudah sangat larut untuk pulang ke Rumah kediaman Frederico Patria. Semua orang mungkin sudah beristirahat saat ini. Dan ia merasa lebih baik kalau ia kembali ke Apartemennya saja.
Hanya memakan waktu 15 menit karena jalanan yang sangat lengang, ia pun sampai di Apartemennya. Sebuah password ia tekan untuk membuka pintu unit tempat tinggal sementaranya itu dan membuat pintu terbuka.
"Kamu darimana saja George!?" tanya sebuah suara dari arah ruang dapur minimalisnya. George tersentak kaget karena ternyata Frederico Patria ada disana sedang menikmati secangkir kopi.
"Ah Tuan. Saya baru saja melamar Maggie Smith pada Ayahnya."
"Di tengah malam seperti ini?" tanya pria itu dengan bibir terangkat. Ia mencibir dengan tawa di dalam hatinya.
"Saya tidak punya pilihan lain Tuan."
"Dan itu adalah pilihan yang hanya dimiliki oleh pria tidak romantis seperti dirimu," balas Frederico Patria seraya menyeruput kopinya. Aroma minuman berwarna gelap itu benar-benar memancing George untuk mendekat.
"Ya ya ya, hanya anda pria romantis yang sangat dirindukan sekaligus dibenci oleh seorang perempuan bernama Flower Michelin." pungkas George dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.
"Berani kamu mengatakan itu George?!" geram Frederico Patria dengan tatapan tajam pada asisten kepercayaannya itu.
"Tentu saja saya berani. Anda 'kan bukan lagi Bos saya sekarang. Nyonya Flower Michelin adalah orang yang menggaji saya selama beberapa bulan ini."
"Heh! meskipun istriku yang menggaji kamu tapi itu dari harta Aku semuanya!" seru pria itu dengan tangan memukul meja di hadapannya. Cangkir kopinya sampai terlonjak kaget dengan apa yang dilakukannya.
George tidak mau kalah. Ia sengaja menantang pria itu untuk mempermainkannya.
Frederico tersenyum samar kemudian berucap dengan wajah kembali santai, "Tidak masalah. Aku akan meminta Flo untuk memecat kamu. Jadi bersiap saja George!'
"Itu kalau Nyonya muda mau menerima Anda kembali." balas George lagi dengan wajah yang berubah menyebalkan.
"Oh my. Apa karena kamu sedang jatuh cinta hingga kamu sengaja membuat Aku marah hah?!"
"Tidak!"
"Lalu?
"Temani saya besok ke Rumah Howard Smith."
"Untuk apa?!"
__ADS_1
"Saya harus membawa anda untuk menemaniku melamar Maggie dengan sangat baik besok pagi."
"Enak saja!" Frederico Patria tersenyum mencibir kemudian menghabiskan segera kopinya. Pria itu berdiri dari duduknya dan meninggalkan George di dapur itu sendirian.
"Tuan!"
"Tidak!"
"Saya akan mengatakan pada Nyonya Flower kalau anda selama ini hanya membohonginya. Anda berpura-pura mati karena tidak ingin menemuinya merawat dua bayi kembarnya!"
"Apa?! ancaman apa itu?!" Federico Patria berbalik kemudian melipat tangannya di depan dadanya.
"Cih! ancamanmu seperti anak kecil George! cari ancaman yang lain!"
Malam itu mereka berdua masih berdebat dengan cara mereka sendiri sendiri.
Sementara itu Howard Smith memasuki kamar putrinya dengan mengendap-endap. Ia ingin memastikan gadis cantik yang sangat disayanginya itu baik-baik saja setelah pria itu keluar dari kamarnya.
"Daddy? apakah itu kamu?" tanya Maggie Smith dari balik selimutnya. Rupanya ia belum tertidur karena masih membayangkan George yang baru saja mengungkapkan perasaannya itu.
Lampu tidur di dalam kamar yang mengeluarkan cahaya remang-remang itu hanya menampakkan bayangan hitam dari sang Ayah.
"Kamu belum tidur Mag?" tanya Howard Smith seraya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sang putri.
"Aku tidak bisa tidur Dad," jawab Maggie sembari bangun dari posisinya.
"Apakah karena pria itu?" tanya sang sang Ayah dengan tatapan sayang pada putrinya itu. Maggie tersentak kaget karena Ayahnya mengetahui tentang George. Ia pun menatap ayahnya dengan wajah takut-takut.
"Apakah Daddy melihat pria itu dari dalam kamarku?"
"Kamu sudah dewasa Mag. Kamu tahu apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan. Sebagian besar pria hanya ingin bermain-main saja dengan perempuan. Saya cuma berharap ia benar-benar bersungguh-sungguh padamu sayang."
Maggie langsung memeluk sang Ayah dengan rasa haru di dalam hatinya. Ia membenarkan kata pria paruh baya itu. Ia juga berharap George benar-benar serius padanya.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π