
"Aku hanya membantumu Nona. Bukankah anda ingin memasuki klan ini dengan mudah?" Vivian mengelus lengannya yang tampak merah karena perbuatan tangan pimpinannya itu.
"Benarkah itu Vivian? Kamu sedang tidak berniat untuk mengkhianati aku 'kan?" ujar Rose Byrne dengan tatapan tajam kearah mata coklat asistennya itu.
"Tidak Nona. Aku tidak pernah berpikir tentang itu. Aku hanya ingin mendekati Tuan Patria senior karena sepertinya ia sangat tertarik padaku," jawab Vivian setengah berbohong.
Bukan pria tua itu yang tertarik padanya tetapi malah sebaliknya. Gadis itu sudah mulai tergila-gila pada pria yang lebih pantas menjadi Ayahnya itu.
"Baiklah Vivian, Aku percaya padamu. Sekarang pastikan Flower Michelin bisa Aku temui secara pribadi."
"Tapi Nona, bagaimana dengan Tuan Patria senior. Kau takut ia sudah menungguku di kamar itu." Vivian White tampak ragu. Hatinya mulai terbagi. Antara mendengarkan perintah Rose Byrne atau menemui pria tua yang sangat memacu adrenalinnya itu.
"Vivian! kamu mau mendengarkan Aku atau tidak?!" teriak Rose Brynn dengan suara tertahan diantara gigi-giginya. Wajah gadis itu langsung memucat. Ia sangat takut pada perempuan kejam dihadapannya itu.
"Baiklah, Aku akan membawa Flower Michelin kepadamu Nona," ujar gadis itu dengan suara mantap. Ia harus menyelesaikan misi ini sesegera mungkin kemudian akan menikmati waktu yang sangat berharga dengan pimpinan klan Patria itu.
Gadis itu pun langsung keluar dari Toilet dengan senyum cerah diwajahnya. Pikirannya masih saja berada pada Ferguson Patria yang sedang menunggunya di kamar itu.
Maafkan Aku Tuan Patria. Semoga saja anda tidak bosan menungguku.
Aku akan segera menemui mu setelah misi ini selesai.
Vivian White mencoba menyapa pelayan dan menanyakan keberadaan menantu keluarga Patria itu.
"Ah, Nyonya muda ada di meja sana Nona," jawab sang seraya menunjuk meja VVIP yang sedang ditempati oleh Flower Michelin.
"Terima kasih banyak," ujarnya kemudian melangkahkan kakinya ke arah meja yang sedang yang berada di sudut ruangan. Disana ia bisa melihat Flower Michelin sedang duduk sendirian dan menikmati minumannya yang berwarna kuning.
"Hai, Nyonya Patria, saya adalah Vivian White. Senang berjumpa denganmu," sapa gadis itu dengan wajah ramahnya. Usia mereka yang mungkin hanya berselisih 2 tahun saja membuat mereka langsung akrab.
"Hai Vivi, Aku juga sangat senang berjumpa denganmu." jawab Flower Michelin dengan wajah yang tak kalah ramahnya. Mereka pun mengobrol tentang banyak hal. Dimulai dari cuaca sampai pada kebiasaan mereka dan hobi mereka.
"Hum, Nyonya..."
"Aku sudah katakan padamu Vivi. Kamu jangan memanggil Aku Nyonya. Aku ini lebih muda dari usiamu. Jadi panggil Aku Flo saja, Okey?"
__ADS_1
"Hum Baiklah Flo. Sekarang, maukah kamu menolong Aku?"
"Tentu saja. Katakan ada apa?" tanya Flower Michelin dengan wajah antusias. Ia paling suka jika ada yang meminta pertolongannya.
"Seseorang menungguku membawakan benda ini di depan pintu utara Gedung ini Flo. Sedangkan Aku juga harus menemui seseorang lagi di kamar 123. Bisakah kamu menggantikan Aku?"
"Tidak masalah. Aku juga sedang malas duduk sendirian di sini. Berikan benda itu padaku." Vivian White tersenyum senang. Ia berharap Rose Byrne sudah berdiri di pintu utara Gedung ini sehingga ia bisa segera menemui Ferguson Patria sesuai perjanjian mereka.
"Terimakasih banyak Flo. Aku sangat senang mengenalmu. Kita berpisah di sini ya," ujar Vivian dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya yang cantik.
"Sampai bertemu lagi Vivi!"
"Ah ya sampai bertemu lagi," balas Vivian kemudian mengangkat ujung gaunnya yang cukup panjang dan segera menuju kamar 123.
Sedangkan Frederico Patria hanya melirik dengan ekor matanya kemana istrinya itu melangkah karena ia sedang menyapa tamu-tamu penting di dalam acara itu. Ia tidak begitu khawatir karena orang-orang yang hadir dalam acara itu adalah orang-orang yang sangat ia kenal.
Flower Michelin yang tidak biasa menggunakan gaun yang cukup merepotkan itu begitu santai berjalan karena ia hanya memakai gaun sepanjang lutut dengan model lebar dibagian bawahnya. Jadi ia begitu gampang untuk bergerak.
Dengan langkah ringan ia menuju ke bagian pintu Utara sesuai dengan permintaan Vivian White teman barunya.
Istri dari Frederico Patria itu membuka pintu itu dan mendapati ruangan yang kosong dan sepi. Ia pun melongok kanan kiri untuk mencari seseorang yang sedang menunggunya.
"Siapa tahu di depan pintu yang lainnya. Ruangan ini kan memiliki banyak pintu," lanjutnya lagi dengan kaki ia langkahkan menuju pintu yang lainnya.
"Hai Nyonya Flower Michelin?!" Sapa seorang perempuan dari arah belakangnya. Ia pun menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya menghadap perempuan itu.
"Anda Nona Rose Byrne bukan?" tanya Flower Michelin untuk memastikan perempuan itu yang bersama dengan suaminya di atas panggung beberapa saat yang lalu.
"Ingatanmu sungguh bagus sekali Flo, Aku suka sayang," ujar Rose Byrne dengan seringai diwajahnya.
"Apakah Vivian juga adalah temanmu?" tanya Flower Michelin dengan waspada. Ia harus berhati-hati dengan perempuan yang aneh ini.
"Bisa dikatakan seperti itu Flo."
"Kalau begitu ambil barang yang dikirimkan gadis itu untukmu," ujar Flower seraya melempar sebuah kotak kecil pada wajah Rose Byrne. Ia ingin cepat keluar dari ruangan itu dan tidak mau terlibat masalah dengan siapapun juga di tempat itu.
__ADS_1
"Aku pikir seorang Nyonya besar seperti dirimu adalah perempuan yang sopan. Ternyata Aku salah," ujar Rose Byrne seraya berusaha menarik sebuah pita besar pada bagian belakang pinggang gadis itu.
Ia tidak ingin perempuan itu pergi begitu saja sebelum ia melenyapkan gadis itu untuk membalas dendamnya.
Krek
Terdengar bunyi sobekan pada gaun yang sedang dipakai oleh perempuan berusia 18 tahun itu. Ia pun berbalik dan langsung mengangkat kakinya dan memberikan satu tendangan pada tubuh Rose Byrne.
"Aaaargh!" Rose Byrne terhenyak. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia tak menyangka kalau seorang Flower Michelin ternyata mempunyai gerakan yang cukup cepat seperti itu.
"Apa maumu Nona Rose Byrne?!" tanya Flower Michelin dengan dagu terangkat.
"Aku ingin kamu mengembalikan Frederico Patria kepadaku," jawab Rose Byrne dengan tatapan tajam diwajahnya.
Bugh
Flower Michelin langsung melompat ke arah perempuan dihadapannya itu dan memberinya satu pukulan dibagian wajahnya. Akan tetapi Rose Byrne berkelit kemudian balas memukul perut Flower Michelin.
Bugh
Desh
Seeet
Mereka berdua saling memukul dan berniat saling melumpuhkan satu sama lainnya. Akan tetapi rupanya mereka berdua mempunyai kekuatan yang sama dan belum berhasil saling melumpuhkan.
Bugh
Flower Michelin berhasil menangkis pukulan dari Rose Byrne. Perempuan itu tersenyum menyeringai kemudian mengangkat gaunnya dan mengarahkan satu tendangan keras lagi ke arah istri Frederico Patria.
"Aaargh!"
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey.
Nikmati alurnya dan happy reading π