Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 25 Mafia AHM


__ADS_3

Flower Michelin menatap foto-foto pernikahannya dengan Frederico Patria dengan perasaan yang kembali teriris sakit. Rasa marah, benci, dan rindu kembali datang menyapa.


Kenangan indah selama beberapa hari bersama pria itu berputar kembali di dalam memorinya. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Frederico Patria seakan ia rasakan kembali. Ciumannya, belaiannya, dan rayuannya yang sangat memabukkan membuatnya begitu sangat rindu.


"Apa mungkin kamu sudah tahu kalau kamu akan pergi selamanya Fred?" gumamnya dengan suara lirih.


"Dan kamu berikan semua hartamu untukku dan anak-anakmu hah?!"


"Aku membencimu Fred!"


"Kamu berikan semua cinta dan perhatianmu padaku agar Aku bisa tersiksa seperti ini Hah?!"


"Aaaargh Frederico Patria kamu jahat huaaaaa!" Flower Michelin berteriak seraya memeluk tubuhnya sendiri. Ia benar-benar rindu pada sosok suaminya.


Tetapi tiba-tiba saja siluet seseorang dengan tatapan tajam dan berbahaya dalam mimpinya seakan datang mengganggu kenangan indah itu. Ia mulai menghubungkan mimpi buruknya itu dengan suaminya yang memilki tatapan yang sama.


Sekelebatan ingatan tentang kekejaman pria itu yang telah menghabisi kedua orangtuanya membuat rasa rindunya berubah menjadi benci dalam sekejap mata. Ia pun melempar Album foto itu ke sembarang arah.


"Aaaaaaargh! Fred sialan!" Ia kembali berteriak dengan keras seraya menjambak rambutnya. Isak tangis kembali terdengar di dalam kamar yang terasa sangat sepi dan menyeramkan itu.


"Aku membencimu Fred!"


"Aku membencimu Fred! kamu jahat! Huaaaaa,"


Brak


Prang


Prang


Berbagai macam benda pun ia lemparkan ke sembarang arah hingga menimbulkan kegaduhan di dalam kamar itu yang tadinya sepi dan hening. Brenda Hudson yang ditugaskan selalu berada di sekitar kamar itu langsung berlari masuk ke dalam untuk menenangkan perempuan itu.

__ADS_1


Tak lupa ia menghubungi George untuk datang ke kamar Nyonya muda yang sedang hamil itu. Dengan wajah panik ia pun segera meraih perempuan itu kedalam rengkuhannya.


"Flo sayangku ada apa?" tanya perempuan itu seraya memeluk tubuh Flower Michelin.


"Aku tidak kuat Nyonya. Aku ingin mati saja," keluh perempuan itu dengan tangan memukul-mukul dadanya. Ia sungguh merasakan sesak yang teramat sangat.


"Hentikan sayangku. Jangan menyakiti dirimu seperti itu Flo..." Brenda Hudson meraih tangan perempuan itu agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.


"Bukankah kamu sudah berjanji kalau kamu akan hidup untuk bayi-bayimu itu?" Lanjutnya seraya membelai lembut rambut panjang perempuan itu.


"Tapi Aku tidak kuat Nyonya. Fred sungguh jahat padaku, hiks," balas Flower Michelin sesenggukan. Ia terus menerus mengatakan benci tetapi juga sangat rindu.


Brenda Hudson tidak tahu lagi harus berkata apa. Sungguh ia mengakui kalau jarak benci dan cinta itu sangatlah tipis. Ia hanya berharap Flower Michelin bisa melewati semua ini dengan kuat.


"Apakah kamu ingin menyegarkan sedikit perasaanmu sayang?" tanya perempuan itu setelah melihat Flower Michelin sudah agak tenang.


"Kita akan keluar rumah ini untuk mencari tempat yang menarik. Bertemu dengan banyak orang dan melakukan sesuatu yang bermanfaat."


"Ah ya, Aku mau Nyonya Hudson. Aku juga ingin mengunjungi Bibi Matilda terlebih dahulu," jawab Flower Michelin dengan wajah mulai menampakkan aura positif.


Di depan kamar, George yang baru datang dengan wajah panik langsung menyapa mereka, "Apa yang terjadi Nyonya?" tanyanya dengan tatapan bingung.


"Maafkan saya Tuan. Nyonya muda sedang ingin keluar rumah mengunjungi seseorang," jawab Brenda Hudson yang di iyakan oleh Flower Michelin dengan cepat.


"Itu betul sekali George. Aku sangat rindu pada Bibi Matilda. Jadi boleh kan Aku pergi untuk sepanjang hari ini?"


"Boleh saja. Tapi Saya juga harus ikut begitu pun dengan dokter Maggie Smith," jawab George seraya menunjuk dokter perempuan yang sedang berjalan ke arah mereka bertiga.


Sebuah hal yang kebetulan karena Dokter perempuan yang mulai tampak spesial dimatanya itu datang diwaktu yang sangat tepat.


"Bagaimana kabarmu calon ibu?" sapa Maggie Smith seraya memeluk dan mencium pipi Flower Michelin.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat dokter. Aku sering sekali membuat semua orang jadi khawatir hehehe," jawab perempuan itu dengan kekehan di bibirnya.


"Tidak masalah sayang, kami semua senang karena kamu begitu merepotkan hihihi," jawab Dokter cantik itu ikut terkekeh lalu menambahkan, "Itu jadi menambah pekerjaan George dan juga Nyonya Hudson, betul?"


Flower Michelin jadi semakin tertawa dibuatnya. Entah kenapa jika bertemu dengan dokter cantik itu ia selalu merasa terhibur.


"Aku datang membawakan vitamin untukmu Flo. Sebentar lagi kamu akan melahirkan sayang," lanjut dokter itu seraya menyentuh perut istri Frederico Patria itu dengan lembut.


"Ah iya terimakasih banyak dokter. Kamu baik sekali padaku," jawab Flower Michelin dengan wajah yang berubah haru. Ia bersyukur karena orang-orang kepercayaan suaminya selalu ada untuknya.


Dalam hati ia masih berharap Frederico Patria ada bersamanya saat ini untuk menantikan kehadiran bayi-bayinya ke dunia ini.


"Hey, jangan bersedih. Ayo minum dulu vitaminnya kemudian kamu bisa melakukan apa saja okey?"


"Baiklah. Aku akan meminumnya," jawab Flower Michelin kemudian melangkahkan kakinya ke arah tempat makan. Ia akan duduk di sana untuk minum susu dan vitaminnya terlebih dahulu sebelum berangkat. Brenda Hudson dengan setia menemaninya melakukan itu semua.


"Jadi? bolehkan Aku ikut bersama dengan kalian?" tanya dokter itu meminta izin setelah melihat semua orang sudah bersiap untuk berangkat. Beberapa pelayan sudah siap dengan membawa semua perlengkapan yang mungkin dibutuhkan oleh majikan mereka yang sedang hamil itu.


"Tentu saja dokter. Kita akan pergi bersama."


"Terimakasih banyak Flo. Aku sangat senang. Bepergian keluar dari rutinitas yang membosankan memang bisa membuat perasaan kembali baik."


Flower Michelin tersenyum dengan kata-kata dokter cantik itu. Ia juga sangat berharap akan merasakan hal yang lebih baik setelah perjalanan ini.


Dan yang paling ia ingin kunjungi sebenarnya adalah rumah peninggalan kedua orangtuanya dan juga kuburan mereka berdua. Ingin ia bercerita apa saja di sana. Mengungkapkan segala gundah hatinya pada mereka yang telah meninggalkannya di dunia ini.


Tak lama kemudian mereka semua pun berangkat dengan rombongan beberapa mobil yang diisi oleh pengawal dan juga pelayan. Sebuah kota yang cukup membawa kenangan buruk bagi hidup Flower Michelin dan juga Frederico Patria akan mereka kunjungi. George hanya berharap apa yang dilakukannya sekarang adalah tepat.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2