Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 6 Mafia AHM


__ADS_3

Maggie Smith menyimpan alat-alat kesehatan yang sudah ia gunakan untuk memeriksa pasiennya itu ke dalam tas kerjanya. Ia menatap pria tampan yang sedang berbaring itu dengan senyum diwajahnya.


"Anda sebenarnya tidak sakit Tuan Patria," ujarnya seraya memperbaiki letak duduknya. Frederico Patria mendengus dan menutup kedua matanya. Ia sungguh tidak percaya dengan perkataan dokter perempuan itu padanya.


"Sebaiknya kamu kembali ke Universitas dan belajar lebih banyak lagi Nona Smith. Aku ini sedang sakit keras sedangkan kamu mengatakan Aku baik-baik saja."


"Kondisi tubuhmu bagus Tuan. Tekanan darah pun bagus. Lalu apa yang sebenarnya anda keluhkan?" bibir Maggie kembali tersenyum.


"Aku merasa tidak nyaman. Semua urusan pekerjaan tidak ada yang beres akhir-akhir ini. Dan kamu tahu? Aku sangat tidak suka hal ini," ujar Frederico Patria dengan wajah kusut.


"Katakan apalagi yang anda rasakan Tuan?" Maggie dengan sabar menunggu pria itu menceritakan masalah yang sedang ia alami sekarang ini. Frederico Patria terdiam.


Ia takut untuk jujur kalau rintihan gadis itu selalu terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Belum lagi hasratnya akan memuncak saat ia mengingat kejadian itu.


"Aku rasa akan gila sebentar lagi, Nona Smith. Ini benar-benar seperti akan membunuhku pelan-pelan." Frederico Patria menutup matanya dengan tangan meremas rambutnya dengan keras. Bayangan malam kelam itu kembali lagi terbayang.


"Aaaargh!" pria itu mengerang kesakitan dengan rasa tak nyaman di dalam hatinya. Inti dirinya kembali menggeliat keras dan meminta untuk dilepaskan.


"Bantu Aku Nona Smith, aaargh!" Frederico Patria bergerak tidak nyaman di atas ranjangnya. Ia mengerang keras dengan tangan mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya.


Maggie Smith langsung berdiri karena sedikit khawatir. Ia belum pernah melihat Pria tampan dan maskulin ini menunjukkan sisi lain dari dirinya ini.


"George! Tolong!" Dokter cantik itu berteriak memanggil asisten kepercayaan Frederico Patria karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Anda bisa menunggu di luar Dokter. Aku akan menangani Tuan Patria di sini maafkan saya," ujar George tidak enak hati.


"Hum, baiklah. Aku akan menunggu di luar. Tetapi jika kamu tidak bisa membuatnya tenang, kamu bisa memanggilku kembali George," ujar Maggie seraya meninggalkan kamar itu dengan langkah cepat. George tersenyum kemudian menghampiri ranjang dimana Frederico Patria berbaring dengan perasaan gelisah.


"Apakah kamu baik-baik saja Tuan?" tanya sang asisten dengan perasaan khawatir. Sudah seringkali peristiwa seperti ini ia saksikan pada Pimpinannya ini dan ia begitu kasihan padanya.


"George, bawa aku ke tempat pemakaman keluarga Yousef Michelin berada. Aku ingin memohon ampun pada mereka yang telah Aku habisi."

__ADS_1


George melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya. Seorang mafia kejam tak punya hati seperti Frederico Patria ingin meminta maaf? sungguh merupakan hal yang sangat luar biasa jika itu terjadi.


"George kamu dengarkan aku?!"


"Ah iya Tuan. Aku mendengarmu. Aku akan mencari tahu dimana pemakaman keluarga Michelin berada," jawab sang asisten tersenyum.


Frederico Patria pun tersenyum kemudian mencoba menutup matanya. Hasratnya yang menggila beberapa saat yang lalu sudah bisa ia atasi dan redakan dengan meminta Maggie untuk menolongnya.


Satu hal yang berbeda dari rasa aneh yang ia alami saat ini adalah, ketika ia membayangkan akan melepaskan hasratnya yang memuncak pada perempuan lain maka gairah dan ketidaknyamanan ini langsung berubah normal kembali.


"Apakah anda ingin memakan sesuatu Tuan?"


"Ah tidak George. Aku hanya ingin tidur sejenak. Untuk pertama kalinya Aku sangat mengantuk, hoammm." Frederico Patria menguap berkali-kali di depan George, asisten kepercayaannya itu.


George pum tersenyum. Ia cukup senang karena pria itu akhirnya bisa merasakan kantuk setelah hampir sebulan lamanya.


"Jangan lupa untuk mengantar Nona Smith ke depan ya Goerge," ujar Frederico lagi kemudian jatuh tertidur. George sekali lagi tersenyum kemudian menarik selimut untuk menutupinya tubuh bagian atas pimpinannya itu.


Hingga ia sudah mulai merasa mengantuk dan jatuh tertidur dengan sangat pulas seperti itu?


George bergumam dalam hati seraya memandang putra Ferguson Patria yang sedang mendengkur halus itu. Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun segera keluar dari kamar itu dengan membawa tas kerja Maggie Smith.


"Bagaimana dengan Tuan Patria, George?" Maggie langsung menyambut pria muda itu dengan satu kalimat pertanyaan.


"Tuan muda Patria sudah tertidur. Terimakasih banyak dokter."


"Apa? dia bisa tertidur secepat itu?" Meggie Smith melongo tidak percaya dengan kata-kata pria itu padanya. Ia bahkan sudah berpikir untuk menyuntikkannya obat penenang jika pria itu belum juga merasakan rasa kantuk.


"Iya dokter. Anda tidak perlu khawatir. Tuan muda Patria memang terkadang sedikit aneh."


"Ah ya, Aku merasa Tuanmu memang sangat aneh. Sudah kubilang ia sebenarnya tidak sakit tetapi ia memaksa. Dan ya itulah hasilnya."

__ADS_1


Maggie Smith tersenyum kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan lucu. Ia seperti sedang dipermainkan oleh pria tampan itu.


"Rahasiakan apa yang sudah anda lihat tadi dokter," ujar George dengan wajahnya yang datar. Maggie Smith yang sedang berjalan di samping pria itu menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah tampan sang asisten dengan wajah serius.


"Kenapa? anda keberatan Dokter?"


"Cukup anda saja yang tahu tentang keadaan Tuan muda Patria," lanjut George seraya melanjutkan langkahnya menuju pintu. Ia meninggalkan dokter perempuan itu dengan santai.


"Hey, kamu pikir Aku ini dokter yang tidak punya kode etik hah?!" teriak Maggie seraya mengikuti langkah pria itu yang sudah jauh meninggalkannya.


"Aku ini tahu apa yang harus Aku lakukan dengan semua pasienku. Aku sudah mempelajari banyak hal di Universitas George. Jadi kamu tidak perlu mengajariku tentang kode etik." Maggie Smith merasakan nafasnya ngos-ngosan karena berbicara terlalu banyak pada pria datar yang ada di hadapannya.


"Baguslah kalau kamu menyadari profesimu dokter," ujar George dengan wajah datarnya seperti biasa. Ia sepertinya sedang tidak ingin berdebat dengan perempuan yang ada di sampingnya.


"Jangan lupa tas Anda dokter," lanjut pria itu kemudian menyerahkan tas kerja dokter perempuan itu ke tangannya.


"Hem, lain kali pikirkan baik-baik sebelum kamu menghubungi Aku di jam sibukku seperti ini. Tuan Partiamu itu sebenarnya tidak sakit. Ia hanya ingin seseorang untuk menemaninya," ujar Maggie Smith kemudian meninggalkan George yang tiba-tiba merasakan bibirnya berkedut.


Pria itu baru menemukan ada dokter yang sangat cerewet seperti itu selama hidupnya 32 tahun di dunia ini.


"Hati-hati dokter!"


Maggie Smith mendengus kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari area rumah yang sangat besar dan luas itu.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2