
"Kamu bajingan! keparat!"
"Aku membencimu!"
"Kamu pantas mati!"
Flower Michelin terus berteriak histeris setelah tubuh Frederico Patria dibawa ke Rumah sakit dalam keadaan kritis. Ceceran darah pria itu yang sangat banyak telah memenuhi kolam renang yang ada di dalam tempat itu. Alhasil seluruh air di dalam kolam itu berubah menjadi merah karena darah.
"Aaaaaaargh! Aku membencimu Fred!" perempuan hamil itu menjambak rambutnya seraya berlutut di depan kolam itu dengan tangis pilu. Brenda Hudson menghampiri istri dari majikannya itu kemudian memeluknya dengan sayang.
"Tenangkan dirimu sayang, semua akan baik-baik saja okey?" bisik perempuan tua itu seraya mengelus lembut punggung Flower Michelin.
"Tidak ada yang baik Nyonya. Semuanya telah hancur. Aku ingin ia mati huaaaaa!" perempuan itu menjawab disertai tangis pilu yang memenuhi ruangan yang sudah sangat kacau itu.
"Tidak sayang. Jangan berkata seperti itu. Sekarang saya akan mengantarmu ke kamarmu," ujar Brenda Hudson seraya mengangkat tubuh Flower Michelin yang sedang berlutut itu.
"Aku benci pada pria bajingan itu Nyonya. Aku sangat membencinya. Aku ingin ia membayar semua penderitaan yang Aku alami."
"Baiklah. Semua sudah kamu lakukan sayang. Tuan Patria saat ini sedang berjuang melawan kematian. Ia sekarang sedang menderita. Jadi dendammu sudah terbayar."
Brenda Hudson meraih kembali perempuan hamil itu agar berdiri. Ia sungguh tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada kesehatan Flower Michelin dan bayi-bayi yang dalam kandungannya.
"Ayo sayang, kasihan bayi-bayimu. Mereka akan terganggu jika kamu seperti ini Flo," ucap kepala pelayan itu dengan hati mengharu biru. Ia sudah menganggap perempuan cantik dan hamil ini seperti anaknya sendiri.
Flower Michelin akhirnya berdiri dari tempat itu dengan tubuh yang juga penuh darah dari suaminya. Frederico Patria sempat memeluknya tadi dan berusaha menolongnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam renang.
"Kamu harus membersihkan dirimu juga sayang," ucap Brenda Hudson seraya membawa Flower Michelin ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Frederico Patria.
__ADS_1
Setelah perempuan hamil itu sudah bersih dan mengganti pakaiannya, ia pun dibawa ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Brenda Hudson merawatnya dengan sangat baik sampai perempuan itu tertidur.
Ia pun meninggalkan kamar itu setelah memastikan Flower Michelin nampak lebih tenang. Ia berharap setelah bangun nanti perempuan itu sudah bisa melupakan kejadian buruk ini.
Sementara itu di Ruang Sakit, untuk pertama kalinya George yang tidak mempercayai adanya Tuhan dalam hidupnya terus berharap dan berdoa pada penguasa semesta ini agar Frederico Patria selamat dari maut.
Luka tusukan yang begitu banyak ditubuh pria itu membuat dokter sendiri kehilangan harapan. Darah yang sudah hampir habis karena mereka terlambat membawanya ke Rumah sakit membuat Frederico Patria hanya menunggu keajaiban.
"Apa yang terjadi George?" tanya Maggie Smith yang kebetulan berada di Rumah Sakit itu. Dokter cantik itu merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada pria itu. Pakaian George yang dipenuhi darah belum juga dibersihkan apalagi diganti.
"Tuan muda Patria sedang kritis dokter," jawab Goerge dengan suara tercekat. Dadanya sungguh sesak jika membayangkan hal buruk ini kedepannya. Bagaimana organisasi dan perusahaan yang dipimpin oleh pria itu akan kacau jika sesuatu yang ia takutkan terjadi.
"Hey, apa yang terjadi padanya George?!" tanya Maggie Smith lagi dengan wajah penasaran. Yang ia tahu pria itu baru saja menikah dengan seorang gadis yang menjadi pembantu di Rumahnya. Dan jika sekarang dilaporkan kritis sungguh ia sangat tidak mengerti.
"Tuan muda ada sedikit masalah dengan istrinya dokter. Dan saya sangat menyesal karena tidak berada di sekitar mereka saat itu."
George meraup wajahnya kasar. Sungguh tingkat kewaspadaannya akhir-akhir ini sangat menurun. Dan sekali lagi ia sangat menyesali hal itu.
"Aaargh!" Pria itu meninju dinding Rumah Sakit dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya mengeluarkan darah segar.
"Oh My, apa yang kamu lakukan George?!" Maggie Smith berteriak keras dan langsung meraih tangan pria itu agar tidak lagi melakukan hal yang sama.
"Aaaargh!" George melepaskan tangannya dari genggaman Maggie Smith dan meninju kembali dinding Rumah Sakit itu tetapi bukan dinding yang ia dapatkan tetapi tangan dokter cantik itu yang pukul.
"Aaawwwww!" Maggie Smith berteriak keras karena kesakitan.
"Oh tidak. Maafkan Saya dokter," ujar George semakin merasa bersalah. Dengan cepat ia meraih tangan dokter cantik itu dan mengelusnya lembut.
__ADS_1
"Maafkan Saya dokter. Pasti sakit sekali ya?" lanjutnya dengan wajah sangat khawatir. Maggie Smith tersenyum kemudian menjawab,"Tangan kamu lebih sakit George. Lihat darahnya, sangat banyak."
George berusaha meraih tangannya kembali tetapi ditahan oleh dokter perempuan itu, "Aku akan mengobati kamu Goerge. Jangan membantah!" seru Maggie Smith seraya memaksa George memasuki sebuah ruangan tindakan untuk mengobati luka ditangan pria itu.
Maggie Smith membalut tangan pria itu dengan kain kasa setelah memberinya obat merah. George mengucapkan terimakasih seraya memandang tangannya itu dengan terkekeh kesal.
"Luka sekecil ini dengan perawatan yang sangat luar biasa. Saya benar-benar tidak berguna lagi, Hhhhh," ujar pria itu seraya mendengus kesal. Ia benar-benar sangat kesal dan kecewa dengan apa yang sudah terjadi. Kembali ia menyalahkan dirinya lagi dan lagi.
"Kamu harus sehat George. Tuan muda Patria dan keluarganya membutuhkanmu. Jadi jangan berpikir untuk merusak dirimu sendiri seperti ini!" ujar dokter cantik itu seraya menyerahkan handuk yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Handuk untuk apa dokter?" tanya George dengan wajah bingung.
"Bersihkan dirimu George! kamu sangat kotor dan tidak wangi!"
"Hah?"
"Lihat dirimu di depan kaca. Kamu sangat kotor dan menyedihkan!" gerutu Maggie Smith dengan wajah dibuat jijik.
"Tuan Patria akan bangun dan sembuh saat kamu sudah membersikan dirimu!" titah Maggie Smith dengan suara tegasnya. George mengalah. Untuk pertama kalinya ia patuh pada seorang perempuan seperti Maggie Smith di hadapannya ini.
Ia tidak ingin lagi membantah. Pria itu pun segera memasuki Toilet yang ada di dalam ruangan itu untuk membersihkan dirinya. Ia benar-benar berharap Frederico Patria akan segera bangun dan sembuh seperti sedia kala.
Maggie Smith tersenyum kemudian meminta seseorang untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk pria itu setelah membersihkan dirinya. Entah kenapa ia yakin pria itu sedang butuh teman untuk membagi masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π