Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 26 Mafia AHM


__ADS_3

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan itu membuat Flower Michelin merasakan pinggangnya terasa keram dan kaku. Ia sampai meminta agar mobil sesekali berhenti di rest area untuk beristirahat.


Seperti biasa, George akan merasa menyesal telah mengizinkan perempuan hamil itu untuk bepergian jauh padahal kondisinya saat ini sedang tidak begitu bagus.


"Sudahlah George, jangan terlalu protektif seperti itu. Kan Ada Aku dan juga Nyonya Hudson yang akan menjaga Nyonya mudamu," ujar Maggie Smith saat melihat sang asisten nampak tidak nyaman dengan keluhan yang dirasakan oleh perempuan hamil itu.


George hanya menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Maggie Smith tentang kekhawatirannya saat ini. Membawa istri dari Frederico Patria keluar rumah dengan kondisi seperti itu bukanlah pilihan yang tepat sebenarnya.


Akan tetapi ia harus melakukannya karena perempuan itu butuh suasana baru untuk menghibur dirinya sendiri dengan kejadian buruk yang telah dialaminya.


"Bagaimana Nyonya? apakah kita sudah bisa melanjutkan perjalanan kita?" tanya George saat melihat perempuan hamil itu sudah nampak ceria kembali.


"Ah iya George. Kita bisa melanjutkan perjalanan kita. Bibi Matilda pasti sudah lama menungguku dengan segala masakan yang sudah ia buat," jawab Flower Michelin dengan senyum lebar di wajahnya. Perempuan itu sudah nampak lebih baik setelah berjalan-jalan di dalam taman rest area itu.


"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan," ujar George dan membuka pintu mobil untuk Nyonya muda keluarga Patria itu. Perempuan itu pun kembali naik ke atas kendaraan mewah itu bersama dengan Maggie Smith dan juga Brenda Hudson.


Tak cukup tiga puluh menit, mereka pun sampai di depan Rumah Bibi Matilda. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan batu. Flower Michelin turun dari mobil itu yang langsung disambut oleh Bibi Matilda.


"Selamat datang Flo. Bibi sudah lama menantikan kedatanganmu sayang," sambut perempuan tua bersambut putih itu dengan mengembangkan tangannya dan langsung meraih Flower Michelin ke dalam pelukannya.


"Apa kabarmu Bibi?" tanya Flower Michelin setelah pelukan mereka terlepas.


"Bibi sehat sayangku, dan kamu bagaimana keadaanmu dan keluargamu?" Bibi Matilda balas bertanya seraya memandang semua tamunya yang nampak sangat banyak itu.


"Aku juga sehat Bibi. Seperti yang kamu lihat. Cucumu ini hampir lahir ke dunia ini."

__ADS_1


"Oh syukurlah sayang. Tapi ngomong-ngomong Apa kamu membawa semua penghuni rumahmu Flo?" Bibi Matilda merasakan hal yang luar biasa karena pekarangannya yang tidak begitu luas kini sudah penuh dengan Mobil-mobil keluarga Patria.


"Bibi tidak melihat suamimu Flo, Apa Tuan Patria tidak ikut denganmu sayang?" Bibi Matilda memandang wajah perempuan hamil dihadapannya itu dengan tatapan tanya sekaligus heran.


Flower Michelin tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya kemudian menangis sesenggukan. Semua orang di Rumahnya tidak pernah ada yang mau membahas tentang kepergian suaminya karena perbuatannya.


George memerintahkan semua orang untuk menutupi kematian Frederico Patria karena sebuah alasan yang pria itu saja yang tahu.


"Baiklah sayang, masuklah ke Rumah. Kita tidak akan membahasnya jika kamu tidak ingin." ujar Bibi Matilda seraya membawa perempuan hamil itu untuk memasuki rumahnya yang sederhana. Brenda Hudson dan Maggie Smith juga ikut masuk ke dalam. Sedangkan George hanya berdiri di beranda Rumah itu memperhatikan keadaan sekitar.


"Bagaimana rasa kue kering buatanku Nyonya Hudson?" tanya Bibi Matilda pada Brenda Hudson yang nampak sangat menikmati kue-kue bikinannya.


"Ini sangat enak Nyonya. Saya rasa anda seharusnya membuka toko kue di sekitar kompleks ini."


"Ah, terimakasih banyak Nyonya. Ini sungguh pujian yang sangat menggembirakan. Sudah lama saya hanya menikmati kue-kue ini sendiri tanpa orang lain."


"Iya, Saya tinggal sendiri di sini. Beberapa waktu yang lalu saya tidak terlalu merasakan kesendirian ini sewaktu Merlin dan juga Yousef masih hidup tetapi sekarang rasa itu sangat menyiksa juga. Tak ada lagi yang akan memuji masakanku."


"Oh, Bibi jangan katakan itu. Kalau kamu mau Aku akan tinggal di sini saja bersamamu agar Aku semakin sering mengunjungi kuburan Ayah dan Ibuku," ujar Flower Michelin seraya memeluk bahu perempuan tua itu.


"Kamu punya suami dan keluarga yang menyayangimu Flo. Mereka pasti tidak akan membiarkanmu pergi dari sana. Iyyakan Nyonya Hudson?" Bibi Matilda menjawab seraya memandang kepala pelayan di Rumah Flower Michelin.


"Ah iya Nyonya. Anda benar sekali. Nyonya Muda tidak boleh meninggalkan Rumah terlalu lama. Apalagi sekarang ia sedang hamil besar dan sebentar lagi melahirkan."


"Maafkan Aku Bibi. Nanti setelah bayi-bayiku lahir. Aku akan kesini lagi." Flower Michelin mencium pipi perempuan tua itu kemudian meminta diantar ke Pemakaman umum di mana Ayah dan ibunya di kuburkan.

__ADS_1


Mereka pun pergi dari rumah itu menuju pemakaman yang tidak jauh dari Rumah Bibi Matilda. Flower Michelin yang berjalan menyusuri jalan setapak menuju kuburan yang nampak teratur dan rapih itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Ia tidak tahu kalau ada orang lain juga yang sedang ingin mengunjungi makam ayahnya saat ini. Perempuan itu memandang George seakan meminta jawaban.


George tidak menjawab tetapi ekspresi wajah yang ditampakkannya membuat Flower Michelin semakin penasaran. Ia pun menyentuh tangan Bibi Matilda dan menatap perempuan tua itu.


"Apakah kamu mengenalnya Bibi?" tanya Flower Michelin dengan tanda tanya diwajahnya. Ia sungguh tidak pernah melihat pria tua itu selama hidupnya bersama dengan ayah dan ibunya.


"Bibi sering melihatnya belakangan ini sayang, ia tinggal di Rumahmu."


"Hah?"


Mata bulat perempuan hamil itu semakin membulat. Ia tahu kalau rumah peninggalan orangtuanya sudah disita oleh Bank. Akan tetapi ia tidak menyangka kalau orang yang menempati rumah mereka datang berkunjung ke kuburan Ayah dan ibunya.


"Apa mungkin pria itu mengenal Ayahku Bibi?" tanya Flower Michelin sembari terus melangkah ke arah dua kuburan itu. Bibi Matilda tidak menjawab karena ia juga tidak mengenali pria itu. Ia hanya memandang lurus ke arah punggung pria itu yang sedang membelakangi mereka.


"Tuan?!" George membungkukkan badannya hormat pada pria tua yang masih berdiri diantara kuburan Ayah dan ibunya itu.


Flower Michelin memandang George yang masih membungkukkan badannya itu bergantian dengan seorang pria tua yang nampak sangat mirip dengan suaminya.


"George. Apakah perempuan ini putri dari Yousef Michelin?"


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2