
Flower Michelin memandang pria berkacamata hitam itu seraya menggigit ujung pensilnya. Ia sudah berusaha menyimak penjelasan pria bernama Freddy itu dengan serius tetapi ia tidak berhasil. Aksen dan suara guru dalam hal bisnis ini sangat menggangu perasaannya.
Bayangan mendiang suaminya tiba-tiba terus menghantuinya dan membuatnya begitu sangat merindukan sosok itu.
"Apakah anda sudah mengerti Nyonya?" tanya Frederico Patria alias Freddy padanya. Perempuan cantik itu tersentak kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Ah iya, eh tidak. Aku tidak bisa memahami apa yang sedang anda jelaskan Tuan. Maafkan Aku," jawab Flower Michelin dengan perasaan yang tidak nyaman. Perempuan itu menggigit kembali ujung pensilnya dan menunjukkannya pada Freddy.
"Bahkan pensil ku pun sudah hampir habis tetapi Aku belum mengerti penjelasan anda. Maafkan Aku," lanjut Flower dengan mata berkedip-kedip lucu. Freddy hanya tersenyum samar dengan ekspresi istrinya yang sangat menggemaskan itu. Sungguh ia ingin sekali memeluk dan mencium perempuan cantik itu saat ini.
"Tidak masalah. Memang tidak gampang belajar tentang bisnis. Kamu harus benar-benar menyiapkan banyak waktu untuk itu."
"Ah, ini sungguh berat Tuan. Aku ingin pulang saja. Aku tidak mau belajar lagi," gerutu Flower Michelin dengan wajah ditekuk kesal. Otaknya benar-benar tidak bisa diajak untuk berpikir saat ini. Suara pria itu membuatnya sangat gelisah. Ingin ia mengadu secara pribadi pada suara yang sangat dirindukannya itu.
"Kenapa? bukankah kamu harus berkompeten dalam bisnis yang ditinggalkan oleh suamimu itu?"' Frederico menatap dalam wajah istrinya dari balik kacamatanya.
"Hhhh, Aku tidak bisa Tuan. Aku tidak sanggup mengelola perusahaan itu. Sungguh Aku ingin ia hadir di sini dan Aku akan menyerahkan semuanya kembali padanya," dengus Flower seraya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Hey kenapa? bukankah banyak orang di luar sana yang sangat menginginkan posisi yang sedang kamu dapatkan saat ini?" tanya pria itu dengan tatapan rindunya pada sang istri.
"Aku sangat marah pada suamiku yang meninggalkanku dengan banyak permasalahan yang sangat pelik ini," lanjut perempuan itu dengan wajah yang berubah muram.
Ada mendung bergelayut diwajah cantik itu sekarang. Sungguh ia ingin menjadi perempuan yang kuat tetapi ia tidak bisa jika ia mengingat bagaimana takdir mempermainkannya seperti ini.
"Dan Aku tidak membutuhkan harta darinya. Aku...Aku hanya ingin ia kembali padaku. Akan tetapi itu tidak mungkin bukan?" Flower Michelin merasakan air mata jatuh membasahi pipinya. Sedangkan Frederico Patria merasakan hatinya nyeri dan sakit melihat kesedihan istrinya itu. Ia pun segera memberinya beberapa lembar tissue untuk menghapus airmatanya.
"Maafkan Aku Tuan. Seharusnya Aku tidak lemah seperti ini. Aku cuma ingin anda tahu kalau ini sangatlah berat buatku. Aku lebih ingin menghabiskan waktuku dengan Baby twins ku saat ini daripada belajar," ujar perempuan itu seraya memasukkan semua perlengkapan menulisnya ke dalam tas kecil yang ia bawa.
Flower Michelin tidak mungkin mengatakan kalau ia juga sangat terganggu dengan suara dan aksen pria itu yang sangat mengganggu perasaannya.
__ADS_1
Frederico Patria menghembuskan nafasnya pelan kemudian menjawab, "Ah ya kamu bisa pulang saja sekarang. Dan jika kamu tidak keberatan bolehkah Aku melihat putra-putrimu itu?"
"Apa?" Flower Michelin menatap pria itu dengan tatapan heran. Ini adalah hari pertama mereka bertemu tetapi pria itu sudah nampak mengakrabkan diri padanya. Dan bahkan ingin bertemu dengan baby twinsnya. Wow luar biasa.
"Ah ya, kedua bayimu pasti sangatlah tampan dan cantik. Dan entah kenapa, Aku sangat ingin bertemu dengan mereka. Bolehkan?" Flower Michelin tidak menjawab. Nampak sekali kalau ia sangat shock dengan keinginan pria itu.
"Aku rasa kamu juga bisa belajar dengan santai di Rumahmu saja, bagaimana?"
"Maksudnya anda ingin berkunjung ke Rumahku?" tanya Flower Michelin dengan wajah yang tiba-tiba khawatir. Ia sungguh tidak boleh membawa seorang pria asing ke Rumahnya karena itu adalah peraturan.
"Ya tentu saja Nyonya. Itu kalau kamu tidak keberatan. Dan sebenarnya Aku juga sangat ingin bertemu dengan putra-putrimu."
"Tapi, George tidak mengizinkannya Tuan. Dan juga Aku tidak mungkin membawa seorang pria, maaf, pria asing ke dalam rumahku."
"Apakah Aku seperti pria asing Nyonya?" tanya Frederico Patria seraya membuka kacamatanya. Mata elangnya menatap lurus kedalam bola mata perempuan yang sangat dicintainya itu dengan tatapan mengintimidasi.
Flower Michelin seakan-akan bertemu pandang dengan suaminya yang sangat dirindukannya. Untuk beberapa saat ia terpaku. Dadanya pun berdebar sangat kencang.
"Siapa anda sebenarnya?" tanya perempuan itu setelah berhasil menguasai perasaannya.
"Aku Freddy, guru mu dalam hal bisnis. Dan kamu sudah tahu hal itu," jawab Frederico Patria dengan santai seraya memakai kembali kacamatanya. Flower Michelin tersenyum samar. Hatinya merasakan ada hal yang mencurigakan disini.
"Baiklah Tuan Freddy. Anda bisa berkunjung ke Rumahku sekarang juga," ujar perempuan itu dengan senyum samar diwajahnya.
"Oh, cepat sekali kamu berubah pikiran Nyonya," balas pria itu dengan jari ia ketuk di atas meja di hadapannya. Flower Michelin berdiri dari duduknya kemudian bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
"Kalau anda tidak mau tidak apa. Aku mungkin akan mencari guru lain saja," jawab perempuan itu dengan dada berdebar tidak karuan. Ia segera pergi dari sana dengan ekor mata melirik pria yang bernama Freddy itu.
Sampai ia tiba di mobilnya. Pria itu tidak juga keluar dari Cafetaria apalagi mengikutinya. Perempuan itu begitu kesal karena apa yang ia inginkan tidak tercapai.
__ADS_1
"Awas kamu! Kita lihat saja apa kamu bisa bertahan Tuan Freddy?" gumamnya dengan tangan meraih handphonenya. Ia segera menghubungi seseorang untuk datang ke tempat itu untuk menemuinya.
Sekitar sepuluh menit ia duduk di dalam mobilnya. Seorang pria muda bernama Josh Hutcherson tiba di tempat itu dengan wajah gembira.
"Hai Flo, kamu lama menunggu ya?" tanya pria itu dengan senyum diwajahnya.
"Ah tidak. Apa Aku mengganggu waktumu Josh?" Flower Michelin tersenyum manis dan balik bertanya. Ia pun keluar dari mobilnya dan berdiri di hadapan pria itu.
"Kamu tidak mengganggu ku samasekali Flo. Aku sangat senang karena kamu menghubungiku. Ini sudah waktunya istirahat bekerja."
"Kalau begitu Aku ingin kamu mentraktirku Josh. Aku belum makan sesuatu pun sejak tadi."
"Ah tentu saja Flo. Aku juga sudah mendapatkan gajiku. Jadi kamu bisa makan apa saja."
"Kita makan di dalam." Flower Michelin menarik tangan pria muda itu untuk memasuki kembali Cafetaria yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit yang lalu itu. Josh Hutcherson tersenyum senang. Ia ikut saja pada kemana perempuan itu membawanya.
Frederico Patria melirik Flower Michelin dan pria bernama Josh Hutcherson itu dengan ekor matanya. Dua orang itu sedang duduk di samping mejanya seraya bercanda tawa.
Permukaan meja kembali ia ketuk-ketuk dengan perasaan gelisah. Ia tahu betul kalau Flower Michelin sengaja untuk memancingnya saat ini. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak terpengaruh karena ada hal mencurigakan yang sedang dalam pantauannya saat ini.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya Okey?
Adakah vote untuk babang Fred?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1