
Vivian mengetuk pintu gerbang yang terbuat dari baja itu dengan menggunakan alat khusus serta nada yang khusus pula. Sebuah kode rahasia yang digunakannya lewat nada ketukan yang begitu unik. Kode itu digunakan untuk hanya anggota gangster Black Rose Mawar Hitam.
Frederico Patria dan beberapa anggota klan Patria sedang bersembunyi di sisi kiri kanan gerbang dengan senjata lengkap. Mereka belum tahu kekuatan gangster Black Rose itu seperti apa. Mata mereka begitu awas memperhatikan gerak-gerik Vivian White yang masih berdiri dengan gelisah di depan gerbang itu.
Tak lama kemudian pintu gerbang yang terbuat dari bahan baja keras itu pun terbuka. Vivian melangkah masuk dengan diikuti oleh gerakan cepat Frederico Patria dan beberapa orang lainnya.
Door
Door
Door
Kedatangan Frederico Patria dan beberapa anggota lainnya ternyata langsung disambut oleh sistem keamanan yang sangat baik di tempat itu. Tamu yang berjenis kelamin pria sudah pasti dianggap penyusup karena semua anggota dalam markas itu adalah perempuan.
Beruntung karena mereka sudah dilengkapi oleh rompi anti peluru. Hingga tubuh mereka tidak langsung menjadi sasaran empuk dari peluru-peluru yang sudah lama mencari mangsa itu.
Door
Door
Bugh
"Aaaargh!"
Frederico Patria berhasil melumpuhkan beberapa penembak jitu dengan melempari tangan mereka dengan kayu hingga senjata mereka terlepas dan jatuh ke lantai.
Door
Door
Masih terdengar bunyi mesin yang memuntahkan peluru-peluru pencari mangsa dari dua kubu yang sudah lama saling memiliki dendam kesumat itu. Vivian White sendiri berhasil mengamankan dirinya dengan bersembunyi di balik dinding.
Frederico Patria terus meringsek maju setelah berhasil melumpuhkan banyak sniper handal Gangster mawar hitam itu. Ia berlari menyusuri ruangan demi ruangan sembari terus waspada dengan pergerakan lawan.
Door
"Aaargh!"
__ADS_1
Sekali lagi ia membuat satu orang yang sedang berjaga di depan sebuah ruangan yang nampak khusus itu jatuh. Ia pun mendorong pintu itu karena merasa Flower Michelin sang istri ada di dalam sana.
Dengan langkah pelan dan mengendap-endap pria itu mengarahkan senjata api ditangannya ke segala arah.
Kosong dan sepi. Beberapa ruangan ia periksa tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hingga ia sampai pada satu ruangan yang tampak sangat terang dari celah-celah pintunya. Ia pun mendorong pintu itu dan menarik dengan cepat pelatuk senjatanya.
Door
"Aaargh!"
"Fred!"
Rose Byrne yang sudah berada pada titik sekarat itu ternyata masih sempat ingin melemparkan pisau beracun pada tubuh Flower Michelin yang sudah bersiap meninggalkannya. Untungnya Frederico Patria datang tepat waktu. Pria itu langsung melepaskan satu peluru yang tersisa untuk pimpinan Black Rose Mawar hitam.
"Flo, kamu tidak apa-apa sayang?" tanya pria itu seraya memeluk istrinya yang nampak sangat menyedihkan. Rambutnya yang pirang dan diikat tinggi kini sudah tidak rapih lagi. Sedangkan wajahnya pun terdapat luka lebam dimana-mana.
"Flower!" Frederico Patria berteriak seraya mengangkat tubuh istrinya yang melorot ke lantai karena tak sadarkan diri. Ia yakin Flower pasti kelelahan karena sudah berhasil melumpuhkan perempuan jahat si Rose Byrne.
"Oh ya ampun bau apa ini?" Frederico mulai mengendus bau yang aneh di dalam kamar itu. Pria itu menyadari kalau Rose Byrne sebelum meregang nyawa justru menekan satu tombol kecil yang bisa mengeluarkan gas beracun.
Dengan cepat ia keluar dari kamar itu dan menutupnya. Ia segera menggendong istrinya untuk meninggalkan tempat itu. Nyawa Flower Michelin sedang dalam bahaya sekarang.
"Ah ya selamatkan istrimu cepat. Karena Saya akan meledakkan tempat ini!" jawab pimpinan tertinggi klan Patria itu dengan seringai diwajahnya.
"Baik Ayah!" Frederico tidak menoleh lagi, ia langsung menuju mobilnya bersama dengan George. Pria itu yang akan mengemudi sedangkan dirinya akan memangku istrinya yang belum juga membuka matanya itu.
"Ayo George. Kita langsung ke Rumah Sakit!" titahnya pada pria kepercayaannya itu.
"Baik Tuan!"
"Flo, bangun sayang, jangan membuatku takut," bisik Frederico seraya menciumi keseluruhan wajah istrinya. Baru kali ini merasakan ketakutan yang teramat sangat melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Flower Michelin tidak bergerak sama sekali meskipun ia sudah menyentuh semua anggota tubuhnya.
"Flo, ingat baby Zack dan baby Zoey sayang, mereka menunggumu. Ayo bangun Flo." Tak berhenti Frederico Patria memanggil dan membujuk istrinya itu untuk bangun.
Ciiit
__ADS_1
Mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai juga di sebuah Rumah Sakit terdekat di daerah itu. Frederico Patria setidaknya bisa bernafas lega karena sudah mendapatkan tempat untuk memberikan pertolongan pada isterinya secepatnya.
Ia pun segera turun dari mobil itu dan menggendong istrinya ke Ruang Emergency room. Beberapa dokter langsung menangani pasien. Frederico tidak ingin meninggalkan istrinya meskipun sedetik.
Pria itu tetap berada di dalam sana dengan perasaan khawatir. Meskipun begitu ia tetap saja menampakkan aura berbahaya pada Wajahnya.
"Apakah mungkin istriku terkena gas beracun dokter?" tanyanya pada seorang dokter di dalam ruangan itu.
"Gejala-gejala akibat gas beracun, di antaranya adalah, Air mata korban akan mengalir terus. Air liur juga mengalir."
"Dua gejala ini akan muncul apabila korban mencium gas yang bisa menyebabkan pembengkakan. Sementara itu, gejala korban yang keracunan gas karbonmonoksida adalah Wajah menjadi merah. Batuk terus-menerus, biasanya batuk kering. Kepala pusing, berkunang-kunang.
Tubuh menjadi lemas. Bisa mengakibatkan kejang-kejang. Dan tak jarang korban jatuh pingsan."
"Kalau kami lihat istri anda belum sempat menghirup gas seperti yang anda curigai Tuan. Tak ada gejala yang seperti itu pada Nyonya Flower."
"Lalu kenapa ia belum membuka matanya dokter?!" tanya Frederico Patria dengan tatapan tajam ke arah bola mata dokter itu.
"Beberapa menit lagi pasti sadar. Kami sudah memberikannya injeksi. Lagipula ia sepertinya hanya kelelahan setelah berolahraga terlalu ekstrim," jawab sang dokter seraya meminta perawat untuk membersihkan luka pada wajah pasien.
Ia juga memerintahkan untuk memberinya salep agar luka-luka lebam diwajah Flower bisa segera sembuh dan tidak terlalu sakit saat sadar nanti.
Menit berikutnya, Frederico Patria tersenyum senang saat melihat tangan istrinya itu bergerak dan akhirnya membuka matanya dengan pelan.
"Flo sayangku," sapa pria itu seraya menyentuh tangan istrinya kemudian menggenggamnya erat. Flower membuka dan menutup kembali matanya karena masih merasakan pusing di kepalanya. Belum lagi tubuhnya yang ia paksa untuk melawan Rose Byrne kini baru ia rasakan sakitnya.
"Flo, Aku disini sayangku," ujar Frederico Patria seraya menciumi punggung tangan istrinya yang ternyata sangat kuat melawan pimpinan Gangster Mawar hitam itu sendirian.
"Fred..."
"Iya sayangku."
"Apa hubunganmu dengan perempuan bernama Rose Byrne itu?!"
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π