
"George?!" Flower Michelin dan Maggie Smith bersamaan mengucapkan nama itu saat melihat pria itu berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka semua.
"Nyonya Flo," ujar pria itu seraya membungkukkan badannya lebih rendah.
"Kamu darimana saja George?!" tanya Flower Michelin dengan wajah kesalnya. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat jengkel dengan ketiadaan pria itu bersamanya.
Sebuah penyerangan yang cukup berbahaya beberapa jam yang lalu membuatnya sangat khawatir akan keselamatan dua bayi kembarnya. Dan pria yang selama ini bersedia menjaganya kini baru muncul setelah mereka semua dibuat takut dan khawatir.
George tidak menjawab. Ia sudah tahu apa yang terjadi karena para pengawal sudah menghubunginya dan memberi tahu akan hal itu.
"George!" panggil Maggie Smith karena pria itu hanya diam. Gadis itu ikut-ikutan kesal karena pria datar dan dingin itu seperti tidak perduli pada apa yang telah terjadi.
"Maafkan saya karena mengurus sesuatu beberapa hari ini dan akhirnya tidak bisa menenami kalian," jawab pria itu setelah lama terdiam.
"Keadaan di luar sana sangat berbahaya untuk anda dan para junior. Makanya Itulah mengapa saya tidak membiarkan anda keluar rumah." jelas pria itu dengan wajah serius.
"Tuan Patria sudah memerintahkan saya untuk itu Nyonya," lanjutnya lagi dengan ekspresi yang masih sama.
"Ah persetan dengan Tuanmu itu! Dia telah menyisakan banyak masalah yang sangat pelik seperti ini! Dan kamu juga meninggalkan rumah tanpa memberi pesan padaku," pungkas Flower Michelin dengan tatapan tajam pada pria yang masih berdiri kaku itu.
George tidak menjawab. Ia mengakui semua yang dikatakan oleh perempuan itu benar adanya. Dan sekarang ia tidak punya kata-kata lagi untuk membantah.
"Andai saja Fred ada di sini, ingin Aku memukulnya lagi dan lagi. Rasanya apa yang Aku lakukan padanya saat itu belumlah cukup. Dan kamu tahu Goerge? Kalian berdua adalah pasangan partner yang sangat jahat!" Tunjuk perempuan itu dengan wajah mengeras. Perempuan itu pun berlari ke dalam kamarnya dengan perasaan kembali kesal.
Maggie Smith menatap George yang masih berdiri dengan tegak bak patung liberti itu dengan wajah yang sama kesal. Kali ini kekesalan yang ia rasakan tidak seperti yang dirasakan oleh Flower Michelin.
"George!" panggilnya dengan nada kesal. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya pada dokter cantik dihadapannya.
"Apa hatimu terbuat dari batu?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu tidak meminta maaf padaku karena mengabaikan Aku?!" tanya Maggie Smith lagi dengan bibir mencebik kesal.
"Kamu yang mengabaikan Aku dengan berkencan dengan dokter brengsek itu," jawab George dengan wajah yang masih sama. Datar tanpa ekspresi.
"Kamu marah George?" tanya perempuan itu dengan dada berdebar. Ia sangat berharap pria itu mau mengakui perasaannya padanya.
"Apakah Aku harus mengatakannya Mag?" tanya pria itu lalu berlalu dari hadapan dokter perempuan itu. Maggie Smith langsung tersenyum kemudian menjawab, "Tentu saja. Aku ingin kamu mengatakan padaku kamu cemburu atau tidak."
"Kalau begitu, Aku tidak perlu mengatakannya," ujar pria itu dan benar-benar pergi dari hadapan dokter perempuan itu.
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang Aku sudah bisa menentukan keputusan ku. Aku akan berkencan lagi dengannya Sabtu malam ini," balas Maggie Smith dengan hati berubah kesal kembali.
Langkah George terhenti. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya kemudian menjawab, "Lakukan itu lagi Mag. Dan kamu akan lihat dokter itu akan berubah jadi Pasien!"
πΊπΊπΊ
John Galliano mengerang kesal karena jalan di depan mereka sudah tidak menampakkan limousin yang dikendarai oleh istri Frederico Patria.
"Dimana Limousin itu brengsek!" teriak pria itu pada sopir yang sedang membawa mobil itu dengan kecepatan sedang. Sungguh ia sangat kesal karena bisa kehilangan jejak buruannya.
"Kita sudah kehilangan jejak mereka Tuan, maafkan saya," balas pria itu dengan wajah takut.
Plak
Satu pukulan keras langsung mendarat di kepala sopir itu. Dengan memukul dashboard kendaraan itu ia menatap tajam sang sopir.
"Kenapa bisa?"
"Maafkan Saya Tuan, tapi itu semua karena ada mobil asing yang menabrak kita tadi di keramaian itu.
"Katakan saja kalau kamu sekarang sudah tidak bisa diharapkan! kamu sengaja supaya mereka semua lolos dari tangan kita iyyakan?" John Galliano terus menerus menyalahkan sang sopir yang juga tidak mengharapkan kejadian ini terjadi
"Tidak Tuan." jawab sang sopir dengan hati yang mulai jengkel juga.
Bekerja bersama dengan pria seperti John Galliano adalah kesalahan terburuk yang pernah ada di dalam hidupnya. Pria itu tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Ia adalah pria yang. sangat egois.
Brakkk
"Brengsek! siapa itu?!" Pria temperamen itu kembali berteriak keras.
Mereka berdua tiba-tiba terhuyung ke depan dengan sangat keras. Untungnya mereka menggunakan seatbelt jadi tidak sampai mendapatkan benturan keras. Sang sopir langsung melihat kaca spion dan mendapati mobil yang menabraknya tadi ada di sana.
Brakk
"Brengsek! siapa itu hah?!" John Galliano sudah nampak emosi dengan kejadian seperti ini. Ia langsung meraih senjatanya untuk memberikan pelajaran pada pengendara mobil yang berani bermain-main dengannya.
Brakkk
Mobil mereka ditabrak kembali dengan sangat keras. sampai sang sopir lebih memiliki mempercepat laju mobilnya dan memilih meninggalkan jalanan itu.
Ciiiiiit
__ADS_1
Pria itu menghentikan laju kendaraannya dengan menginjak rem secara mendadak karena mobil asing yang membuat mereka dalam masalah sudah menghadang mereka di tenda jalanan itu.
"Brengsek!" John Galliano mengumpat kembali kemudian turun dari mobilnya dengan membawa senjatanya siap untuk melawan.
"Hey! siapa kalian?! Ayo turun?!" teriak pria itu dengan tangan mengarahkan senjata ke arah mobil yang sangat membuatnya marah itu. Tak ada seorang pun turun dari sana. Hingga ia pun mengendap-endap dan melangkah mendekat.
Door
Ia tidak sabar dan menarik pelatuk senjatanya. Ia menembak mobil itu dengan wajah tegang. Kaca mobil yang serba hitam itu benar-benar tidak menampakkan siapa pemiliknya.
Door
Sekali lagi ia menembak tetapi benda yang terbuat dari campuran baja dan aluminium itu tidak merespon samasekali. Sebuah mobil mewah yang didesain khusus untuk tidak tembus peluru.
"Keluar brengsek!" teriak John Galliano dengan emosi diwajahnya. Ia bahkan menendang pintu mobil itu karena tidak berhasil membuat pengendara atau penumpangnya turun.
"Dasar pecundang!" teriaknya lagi dengan tangan masih mengarahkan senjata itu ke arah pintu mobil.
Bugh
Akhirnya pintu mobil itu terbuka dengan keras. Ia langsung mendapatkan pukulan diwajahnya dari pengendara mobil itu.
"Brengsek!'
Door
"Aaargh!"
Bugh
Desh
John Galliano menarik pelatuk senjatanya kembali tetapi tangannya langsung mendapatkan tendangan keras dari kaki panjang dan kuat pria kejam dan berbahaya di hadapannya. Pistol itu terjatuh ke atas aspal.
"Frederico Patria?!" mulut pria itu membulat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di hadapannya. Seorang pria yang ingin ia balas selama ini ternyata sudah muncul dihadapannya.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π