Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 15 Mafia AHM


__ADS_3

Sejak kejadian pagi itu, Flower Michelin mulai menghindari pertemuan langsung dengan Frederico Patria. Gadis itu merasakan aura yang sangat berbahaya dan juga sangat meresahkan hatinya jika berdekatan dengan pria itu.


Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur dengan para koki untuk belajar memasak. Mencicipi semua makanan sebelum dihidangkan adalah hobinya yang sangat ia nikmati.


Berat badannya pun ia rasakan mulai meningkat. Ia nampaknya semakin cantik dan segar. Apalagi bagian-bagian penting yang sangat menarik pada tubuhnya juga mengalami perubahan ukuran.


Pagi itu ia tidak ingin lagi mencicipi semua makanan yang akan disajikan. Ia berusaha keras untuk menolak semua menu yang nampak sangat sedap itu karena takut perutnya semakin besar.


"Aku tidak ingin makan lagi Nyonya. Dan kumohon jangan memaksaku," ujar gadis itu dengan tatapan tak rela pada semua menu yang sangat lezat di hadapannya. Air liurnya sudah hampir menetes karena berusaha untuk menolak padahal ia sangat ingin.


"Ada apa denganmu Nona. Semua makanan ini sangat lezat." Brenda Hudson menghampiri gadis yang sedang duduk itu dengan wajah penasaran. Ia baru melihat kalau gadis cantik itu menolak makanan yang disajikan.


"Kamu tidak lihat Nyonya Hudson, perutku saja sudah semakin besar hanya karena permintaan Tuan Patria." Brenda Hudson menahan tawanya karena ekspresi merajuk dari gadis itu.


Ia menyadari kalau beberapa waktu belakangan ini, gadis itu memang sangat aneh dengan keinginan makan yang sangat berlebih. Dan anehnya Frederico Patria juga tidak pernah mau makan kalau Flower Michelin belum mencicipi makanan itu terlebih dahulu.


Sebuah hubungan emosional yang sangat membingungkan diantara keduanya. Dan ia semakin yakin kalau ada hal yang tidak beres dengan keduanya.


"Aku lapar, tapi lihatlah perutku kenapa jadi semakin besar seperti ini Nyonya?" Flower Michelin berdiri dari duduknya kemudian memperlihatkan perut dan dua buah da*danya yang juga nampak semakin bertambah ukuran saja.


Mata tua Brenda Hudson merasakan ada kejanggalan pada tubuh sang gadis kesayangan Tuan muda Patria itu. Tangannya pun bergerak menyentuh perut Flower Michelin yang sedang nampak membuncit dan agar keras itu.


"Nona, apakah masa periodemu lancar?" tanya perempuan tua itu dengan wajah berubah khawatir. Otaknya sudah mulai menduga-duga sesuatu yang sangat meresahkannya.


"Tidak Nyonya. Aku sudah lama tidak lagi kedatangan tamu bulanan. Apakah karena itu perutku jadi sebesar ini?" Flower Michelin balas bertanya dengan wajah yang mulai takut dan khawatir. Sebuah kata yang sangat ia takutkan adalah kata "Hamil."


"Apakah anda pernah melakukan sebuah hubungan khusus dengan lawan jenis?" tanya Brenda Hudson dengan suara hati-hati. Ia tentu tidak ingin gadis itu merasa tersinggung dengan pertanyaannya.

__ADS_1


Flower Michelin tersentak kaget. Ia tidak menyangka kalau apa yang ia pikirkan juga sama dengan yang dipikirkan oleh perempuan tua itu. Dengan pelan ia menganggukkan kepalanya.


Brenda Hudson meraih tubuh gadis muda itu kedalam pelukannya. Ia menciumi pucuk kepala Flower Michelin dengan rasa sedih dihatinya.


"Dimana pria itu Nona? Anda bisa meminta pertanggung jawaban padanya atas apa yang sudah kalian lakukan," ujarnya dengan perasaan mengharu biru.


"Tidak Nyonya. Aku tidak ingin meminta pertanggung jawabannya. Aku benci padanya dan jika Aku bertemu dengannya, aku akan membunuhnya!" geram gadis itu dengan wajah mengeras.


Brenda Hudson tersentak. Ia tidak tahu kalau ternyata gadis dihadapannya ini mempunya pengalaman yang sangat buruk dengan seorang pria.


"Tenangkan dirimu sayang," ujar perempuan itu dengan perasaan mengharu biru. Ia begitu kasihan pada Flower Michelin dengan kondisi yang sedang dialaminya sekarang ini.


Sesungguhnya Ia juga pernah mempunyai pengalaman yang buruk dengan hal yang seperti ini sewaktu ia masih muda. Mengandung anak dan ditinggalkan oleh sang kekasih. Hingga ia merasakan dunia ini hancur di depan matanya.


Semua orang menghinanya karena kesalahannya itu. Sampai akhirnya ia tidak kuat menahan penderitaannya itu dan menggugurkan kandungannya.


Dan sekarang dimasa tuanya ia begitu menyesal karena telah membunuh janinnya sendiri. Janin yang seharusnya menemaninya melalui kerasnya kehidupan ini.


Perempuan itu meraih dagu gadis cantik itu dan mengarahkannya ke wajahnya. Hatinya ia rasakan menghangat. Ia seakan-akan seperti seperti seorang ibu yang sedang menghadapi ketakutan putrinya.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu sayang?" tanyanya dengan nada akrab. Mulai saat ini ia tidak akan berbicara formal lagi pada gadis yang sedang ada masalah ini. Ia akan berlaku sebagai seorang ibu untuknya.


"Tidak Nyonya. Aku sekarang sudah tidak berselera lagi," jawab gadis itu dengan tatapan mata kosong. Awan hitam tiba-tiba ia rasakan menggantung di wajah gadis cantik itu.


"Baiklah, tersenyumlah sayangku. Kita belum bisa memastikan apakah itu benar atau tidak. Jadi tunjukkan kalau kamu baik-baik saja okey?" Flower Michelin tidak menjawab. Perasaannya saat ini sedang kacau balau.


Dendamnya pada pria kejam pembunuh dan pemerkosa itu rasanya semakin berlipat-lipat. Tanpa sadar ia mencengkram kuat pisau yang sedang berada di atas piring dihadapannya.

__ADS_1


"Aaaaakh!"


"Flo, oh Tidak! tanganmu berdarah sayang!" Brenda Hudson berteriak histeris saat melihat telapak tangan gadis itu mengeluarkan darah yang sangat banyak. Ia segera membawa gadis itu ke wastafel dan mencuci telapak tangan itu dengan air.


"Ada apa Nyonya Hudson!?" Frederico Patria langsung melompat ke arah mereka dan meraih tangan gadis itu yang masih mengeluarkan banyak darah.


Pria itu tanpa perasaan jijik sedikitpun mengarahkan tangan Flower Michelin ke mulutnya. Ia berusaha menghentikan kucuran darah itu dengan Lidahnya. Ia terus mendiamkan tangan gadis itu dimulutnya seraya menatap mata Flower Michelin yang nampak berkaca-kaca.


"Pakai ini Tuan," ujar Brenda Hudson seraya memberikan kain kasa dan juga Betadine pada majikannya itu. Ia yakin sekali kalau darah yang banyak itu tidak akan berhenti hanya dengan cara yang sedang dilakukan oleh Tuannya itu.


Frederico Patria mengabaikan ucapan kepala pelayannya. Ia hanya ingin terus menahan darah pada tangan gadis kesayangannya itu dengan lidahnya. Tanpa sadar pun ia sudah banyak menelan darah dari Flower Michelin.


Setelah beberapa saat dalam keadaan seperti itu, ia pun melepaskan tangan gadis itu dari mulutnya. Ternyata darahnya sudah tidak keluar lagi.


Ia tersenyum kemudian membungkus tangan Flower Michelin dengan kain kasa setelah memberinya obat merah.


"Ada apa Flo?" apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya dengan penuh perhatian. Pria itu menatap gadis cantik itu yang masih setia menatap ke arah depan dengan tatapan kosongnya.


"Aku ingin membunuh bajingan itu!"


Deg


Frederico Patria merasakan tubuhnya membeku. Ia tidak menyangka kalau perbuatannya yang buruk pada gadis itu telah membuat luka yang sangat dalam dan menganga.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2