
Vivian White merasa bahwa dirinya adalah seorang penghianat bagi kelompok gangster mawar hitam yang selama ini dinaunginya. Ia terus saja menangisi kesalahannya ini sejak ikut di dalam mobil Ferguson Patria.
Gadis itu bahkan berusaha untuk mengambil pistol dari pinggang pimpinan klan Patria untuk membunuh dirinya sendiri.
"Hey apa yang kamu lakukan hah!" teriak Ferguson Patria saat gadis itu mengarahkan moncong pistol itu ke pelipisnya sendiri.
Tadinya ia berpikir untuk mengarahkan senjata api itu ke arah pria berbahaya di hadapannya tetapi sayangnya otaknya masih waras. Ia pasti tidak akan selamat dari sana hidup-hidup.
Beberapa mobil di belakangnya berisi puluhan pengawal dengan senjata lengkap. Bisa-bisa seluruh tubuhnya akan bolong dengan peluru-peluru itu.
"Berikan pistolnya Vivi," bujuk Ferguson pada gadis cantik yang sudah sangat tampak menyedihkan itu. bibirnya yang berdarah sedangkan pipinya yang putih kini tercetak telapak tangannya yang besar. Sungguh perasaan iba pria itu kembali tersentuh.
"Biarkan Aku mati saja Tuan, Nona Rose Byrne pun akan membunuhku kalau tahu Aku berkhianat, hiks," ujar Vivian seraya menarik pelatuk pistol itu dengan cepat sebelum Ferguson Patria merebutnya dari tangannya.
Bush
"Aaargh!" Vivian berteriak nyaring kemudian membuka matanya. Bola mata coklat itu berkedip-kedip lucu di depan wajah Ferguson Patria.
"Kenapa kamu berteriak hah?!" tanya pria itu seraya menahan senyumnya untuk tidak tampak.
"Kamu ingin bunuh diri tapi takut mati iyya?" tanyanya lagi kemudian meraih pistol itu dan memperlihatkan beberapa butir peluru dari tangan kirinya.
"Ular betina sepertimu tidak bisa dipercaya Vivi. Wajah cantikmu bisa menipu banyak pria tetapi tidak denganku," ujar pria itu kemudian memasukkan kembali pistolnya ke dalam sarungnya.
"Aku benar-benar ingin bunuh diri Tuan. Sungguh Aku ingin mati saja, hiks." Vivian kembali menyusut airmatanya.
"Kamu pikir mudah untuk mati hah?! Flower Michelin harus kita temukan terlebih dahulu baru kamu bebas meminta mau mati dengan cara apa!" geram Ferguson Patria dengan pandangan ia alihkan ke arah jalanan berbukit yang mereka lalui.
Ia tidak mau memandang mata coklat itu atau ia benar-benar lupa diri lagi dan berakhir mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan gadis itu.
Suasana mobil itu pun hening. Yang ada hanya bunyi isakan dari sisa tangis Vivian White. Ferguson Patria berusaha untuk waras dan mengabaikan suara dari gadis yang sedang sangat mengganggu kelelakiannya.
Mobil mereka pun tiba di depan sebuah gerbang besar berlogo Mawar hitam di setiap sisinya.
"Kita sudah sampai Tuan," ujar sang sopir dengan sikap waspada.
__ADS_1
"Nah, Vivi kita sudah sampai di sarang kalian. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" ujar Ferguson dengan seringai diwajahnya.
"Iya Tuan."
"Dan jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi. karena engkau masih mempunyai hutang padaku, mengerti?!" ujar pria itu seraya mengarahkan ibu jarinya pada bibir milik Vivian. Ia mengelusmya sangat lembut hingga gadis itu menutup matanya.
"Turunlah. Setelah pintu gerbang terbuka Frederico dan yang lainnya akan masuk. Jadi jaga dirimu, Okey?" titah Ferguson Patria kemudian mengecup lembut bibir gadis itu dengan perasaan yang tidak bisa ia tahan lagi.
Vivian White tersentak kaget dengan perlakuan yang tiba-tiba sangat manis dari pria berbahaya itu.
πΊ
Flower Michelin bangun dari posisinya. Ia kembali memandang ke sekeliling ruangan itu dengan waspada. Beberapa lembar foto ia lihat bertebaran di atas lantai tempatnya duduk.
Tangannya pun meraih kertas-kertas foto itu dan memandangnya dengan mata membulat tak percaya.
Hatinya sangat sakit melihat Frederico Patria yang sangat ia cintai sedang melakukan hubungan intim dengan perempuan bernama Rose Byrne itu. Tangannya meremas foto-foto itu kemudian melemparnya ke sembarang arah.
Ia begitu marah dengan apa yang ia lihat. Pantas saja suaminya melakukan permintaan perempuan itu sewaktu acara lelang berlangsung. Ternyata ia mempunyai hubungan khusus dengan perempuan jahat itu.
"Kuat juga kamu ya," ujar Rose Byrne dengan tatapan benci pada Flower Michelin yang sudah dalam posisi duduk di dalam ruangan yang sangat dingin itu.
Perempuan kesayangan Frederico Patria itu berusaha untuk bangun dengan berpegangan pada dinding dingin kamar sempit itu.
"Apa maumu Nona Byrne?!" tanya Flower dengan tatapan tajam pada perempuan jahat yang sedang berdiri angkuh di hadapannya.
"Kamu tidak hilang ingatan 'kan? Aku sudah memberitahumu apa mauku Flo," jawab Rose Byrne dengan seringai diwajahnya.
"Berikan Frederico padaku!" titah perempuan itu seraya mencengkram rahang Flower Michelin dengan sangat kuat hingga perempuan cantik itu meringis sakit.
"Argh sial!" Rose Byrne mengumpat keras karena tidak menyangka kalau Flower masih mempunyai kekuatan untuk menendang perutnya hingga ia terjungkal ke belakang. Punggungnya menabrak dinding kamar itu dengan sangat kuat.
"Brengsek kamu Flo! Hiyaaa." Rose Byrne melompat ke arah Flower Michelin yang sudah siap dengan kuda-kudanya.
Bugh
__ADS_1
Desh
Seeet
Kembali mereka berdua saling menyerang dan menangkis dengan sangat lincah dan gesit. Flower Michelin semakin bersemangat dan berenergi. Ia paling tidak suka kalau ada perempuan lain yang ingin mengambil Frederico darinya.
Begitu pun dengan Rose Byrne, ia tidak pernah mau mengalah untuk perempuan ingusan seperti Flower Michelin. Tangan dan kakinya terus bergerak mencari titik-titik yang ia bisa ia lumpuhkan.
Kyaaa
Rose Byrne berhasil memukul mundur Flower Michelin sampai terdesak ke dinding. Perempuan itu menyeringai seraya mengunci pergerakan tubuh Flower dengan menekan kakinya pada tubuh ibu beranak kembar itu. Sedangkan kedua tangannya mengunci tangan Flower di atas kepalanya.
"Aku sudah lama menantikan ini terjadi Flo," bisik perempuan itu di depan wajah cantik Flower Michelin.
"Ayahmu Yousef Michelin telah melenyapkan nyawa suamiku. Nyawa dibalas nyawa sayang!"
Bugh
Rose Byrne memukul perut Flower dengan sangat keras sampai perempuan itu meringis kesakitan. Tangannya kembali bersiap memukul tetapi tubuhnya langsung didorong oleh istri dari Frederico Patria itu.
Flower Michelin sudah tidak ingin lagi berlama-lama di dalam kamar yang sangat dingin dan sempit itu. Ia pun melompat ke udara dan menjadikan dinding itu sebagai pijakan untuk memberikan satu tendangan memutar pada leher Rose Byrne.
Hiyaaa
Krek
"Aaargh!" jerit perempuan jahat itu dengan suara tertahan. Ia merasakan tulang lehernya patah karena tendangan memutar dari seorang perempuan muda yang ingin ia taklukkan.
"Sial! kamu pikir Aku mau menyerahkan nyawaku padamu hah?!" ujar Flower dengan tatapan tajam pada perempuan yang sudah tidak berkutik dihadapannya itu.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π