Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 32 Mafia AHM


__ADS_3

Setelah acara ulang tahun sederhana di Panti Asuhan itu selesai, Flower Michelin dan Maggie Smith beserta rombongan pelayan dan pengawalnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan di Pusat kota.


Berbagai macam kebutuhan pokok dua bayi kembar itu ingin Flower beli. George yang selama ini menjadi kepala keluarga dan mengurusi semua kebutuhan Zack dan Zoey kini tidak ada di rumah. Dan akhirnya perempuan itu memutuskan untuk melakukan semuanya sendiri.


"Apa kamu merasa kita sedang diikuti oleh seseorang Flo?" tanya Maggie Smith dengan perasaan yang tiba-tiba khawatir. Ia menghentikan langkahnya kemudian memandang sekeliling area pertokoan itu dengan sikap waspada.


Flower Michelin yang sedang memilih pakaian yang lucu-lucu bagi putra-putrinya itu tersenyum dan mengabaikan perkataan dokter perempuan itu. Ia terus melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak yang berisi bermacam-macam pakaian bayi yang sangat menarik perhatiannya.


"Flo, kamu tidak mendengarkan Aku?" tanya Maggie Smith dengan wajah kesalnya. Meskipun begitu Ia tetap saja mendorong salah satu trolley bayi kembar itu mengikuti kemana pun kaki perempuan itu melangkah.


"Aku mendengarmu Mag. Akan tetapi buang saja jauh-jauh apa yang ada di dalam pikiranmu itu. Lagipula untuk apa orang itu mengikuti kita? kita ini kan bukanlah orang penting dan terkenal," jawab Flower seraya menatap Maggie Smith.


"Lihat! ini lucu sekali 'kan? apakah pakaian ini cocok untuk Zoey?' Flower berusaha mengalihkan perhatian Maggie dengan memperlihatkan satu set gaun untuk anak perempuan yang sangat cantik.


"Iya. Itu sangat lucu tapi sepertinya masih belum pas untuk Zoey yang baru berusia 3 bulan. Coba yang ini, ini bagus dan cocok untuk si cantik Zoey."


"Ah ya, kita ambil itu tetapi tetap mengambil ini juga untuk persiapan Zoey besar nanti," putus perempuan itu dengan wajah senangnya. Setelah itu ia memasukkan beberapa mainan lagi yang cocok digunakan untuk anak seusia Zack dan juga Zoey.


Maggie Smith akhirnya berusaha mengabaikan perasaan khawatirnya. Ia cukup senang melihat keceriaan Flower Michelin yang selama ini tidak pernah ia lihat.


Perempuan itu benar-benar sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya sekarang. Usianya yang masih sangat muda membuatnya kuat berjalan menyusuri rak dan etalase toko untuk mengambil ini dan itu.


"Kurasa ini saatnya kita ke kasir Flo. Hentikan belanjamu. Kamu sudah hampir mengambil semua isi toko ini," ujar Maggie Smith berusaha menghentikan kegilaan perempuan itu dalam berbelanja.


"Sedikit lagi Mag, ini benar-benar menyenangkan. Kurasa lain kali Aku tidak akan menyuruh George lagi untuk melakukan semuanya untukku hehehe." Flower Michelin terkekeh dengan wajahnya yang semakin tampak cantik karena bahagia.


"Hey, kita bisa melakukan ini lain kali okey?" Sepertinya bayimu juga sudah ingin minum saat ini." ujar dokter perempuan itu dengan wajah serius. Flower Michelin langsung menyentuh buah dada*nya yang baru ia rasakan mengeras.


"Oh my, Aku minta maaf Mag. Aku rasa Aku sudah melupakan bayi-bayiku. Kita ke kasir sekarang!" ucap Flower Michelin dengan wajah meringis. Maggie Smith dan beberapa pelayannya pun mengikuti semua keinginannya.


Troley belanjaan perempuan itu sudah sangat penuh dengan perlengkapan untuk si kembar. Mereka pun berniat pulang setelah selesai dengan urusan di kasir.

__ADS_1


Flower Michelin memutuskan untuk memberi Asi bayi-bayinya di atas mobil saja saat mereka dalam perjalanan pulang.


Akan tetapi langkah Flower Michelin terhenti oleh seorang pria asing yang mengajak perempuan itu untuk berbicara.


"Permisi Nyonya, apakah kita bisa bicara?" tanya pria asing yang nampak sangat rapih dengan setelan jasnya. Flower Michelin segera memerintahkan bayi-bayinya dibawa ke mobil terlebih dahulu. Perempuan itu pun memandang pria itu dengan tatapan tanya.


"Maaf, anda siapa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Tidak Nyonya. Kita belum pernah bertemu sebelum ini. Akan tetapi saya mengenal anda sebagai istri dari Tuan Frederico Patria," jawab pria itu seraya mengarahkan tangannya ke sebuah meja di depan Toko yang baru di kunjunginya.


Maggie Smith yang berada di sana memandang Flower Michelin dengan maksud melarangnya untuk menanggapi pria asing itu. Akan tetapi Flower michelin mengindahkannya.


"Lalu apa yang bisa saya bantu Tuan?" tanya perempuan itu lagi kepada sang pria. Ia tetap tidak bergerak di depan Toko itu untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan.


"Anda harus ikut denganku Nyonya!'


"Untuk apa?"


"Apa? Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang anda bicarakan. Fred kan sudah..." Seketika Flower terdiam.


Ia tidak mungkin mengatakan kalau Suaminya telah lama tiada. Bagaimana pun juga ia harus patuh pada George untuk tidak memberitahu ketiadaan suaminya di dunia ini. Karena menurut pria itu ada banyak orang yang ingin mengambil kekuasaannya di dunia hitam jika itu terjadi.


"Kenapa diam? Ada apa dengan bajingan tengik itu, hah?! Apa ia masih hidup?!" Flower Michelin merasakan darahnya mendidih saat ada seseorang yang mengatakan hal yang buruk pada pria yang telah memberinya dua bayi kembar.


"Jaga mulut Anda ya!!" Aku ingin pulang dan tidak punya urusan denganmu!" sentak perempuan itu kemudian meninggalkan pria itu bersama dengan Maggie Smith.


"Hey nyonya Patria. Jangan pergi dari sini." seru pria itu karena Flower Michelin sepertinya tidak ingin mendengarkan apa yang ia inginkan. Ia pun mengejar langkah Flower Michelin dan Maggie Smith yang sudah hampir sampai di mobilnya.


"Anda ingin Aku berbuat kasar?" Tanya pria itu dengan tatapan tajam dan memaksa. Ia benar-benar ingin perempuan itu menjadi Sandranya agar Frederico Patria, musuhnya yang sangat berbahaya itu bisa ia hancurkan.


Bugh

__ADS_1


Bugh


Flower Michelin langsung meninju wajah itu dengan tangan kanannya. Kekuatan tangannya yang pernah ia latih beberapa bulan lalu itu nampaknya sudah lama mencari lawan.


"Brengsek Kamu!" seru pria itu dengan emosi diwajahnya. Tangannya segera menghapus darah yang keluar dari hidungnya.


Bugh


Bugh


Flower Michelin tidak tinggal diam. Ia lalu menyerang pria itu dengan tendangan yang cukup keras pada dadanya.


"Hey hebat juga kamu kucing kecil," ujar pria itu dengan seringaian di wajahnya.


Kyaaaa


Bugh


Bugh


Mereka berdua saling menyerang dengan pukulan dan tendangan. Flower Michelin merasakan adrenalinnya terbakar. Ia begitu senang karena ia sudah lama menginginkan ini terjadi, yaitu mendapatkan lawan yang setimpal.


Bugh


Desh


⭐⭐⭐


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2