Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 57 Mafia AHM


__ADS_3

"Siapa yang berani membawa Flower pergi dari sini!" geram Frederico Patria seraya memukul meja dihadapannya dengan sangat keras.


Pria itu sudah memeriksa rekaman CCTV yang ada di dalam gedung itu. Akan tetapi semuanya tidak menunjukkan sesuatu yang bisa melacak kemana flower Michelin pergi.


"Sepertinya semua rekaman pada saat kejadian itu telah dihapus atau sengaja di non aktifkan Tuan," ujar George memberikan pendapatnya. Frederico semakin mengeratkan rahangnya marah.


"Dimana para pengawalmu George?! apa saja yang mereka lakukan hingga kecolongan seperti ini hah?!" Pria itu kembali memukul meja kaca di hadapannya hingga retak.


"Gadis bergaun merah itu, ya dimana dia?" Putra Ferguson Patria itu tiba-tiba mengingat kalau sebelum istrinya itu melangkah ke arah pintu Utara gedung. Ia sempat melihat Flower bercanda tawa dengan seorang gadis muda bergaun merah terang.


"Ah ya dimana gadis itu George. Cari tahu sekarang! Pasti ada rekaman CCTV sebelum kejadian ini yang telah menangkap pergerakan gadis itu!"


George mengangguk dan segera memutar kembali suasana gedung beberapa jam yang lalu sejak lelang mulai di lakukan.


Matanya melotot tidak percaya ketika melihat dalam rekaman itu, sang gadis bergaun merah yang mereka curigai ternyata datang bersama dengan Rose Byrne.


"Apa jangan-jangan mereka berdua bekerjasama Tuan?" tanya George dengan wajah mulai khawatir. Pria itu sudah mulai merasakan kalau ia telah melakukan banyak kesalahan besar saat ini.


Frederico Patria melompat kearah asisten pribadinya itu dan mencengkeram kelopak jas George dengan keras.


"Kamu melakukan kesalahan dengan mengundang perempuan ular itu George!" geram Frederico dengan tatapan membunuh. Andaikan ia tidak mengingat jasa baik pria yang selama ini menjaganya maka ia tidak segan-segan melepaskan satu butir peluru di kepala suami Maggie Smith ini.


🌺


"Brengsek kamu Vivian! Bangun!" Ferguson Patria berteriak ke arah Vivian White yang sudah siuman itu. Tangannya menjambak rambut panjang gadis bergaun merah itu kemudian menariknya ke arahnya.


"Katakan dimana Rose Byrne membawa menantuku pergi sialan!" geram pria tua itu dengan tatapan tajam ke wajah cantik yang sudah tampak pucat dan berdarah itu.


"Maafkan Aku Tuan. Awwwwww!" Vivian berteriak keras karena kulit kepalanya terasa sangat nyeri akibat tarikan tangan Ferguson pada rambutnya.


"Gadis ular! berani kamu bermain-main dengan keluargaku hah?!"

__ADS_1


"Kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu padaku Aku akan membiarkanmu masuk ke dalam keluargaku dan menghancurkannya hah?!"


Plak!


Tangan besar Ferguson Patria langsung melayang dan mendarat dengan sangat kasar di pipi gadis cantik itu.


"Aaargh, ampun Tuan!' teriak gadis itu dengan suara tercekat. Pipinya yang sangat lembut itu kini ia rasakan memanas. Ujung bibirnya sampai mengeluarkan darah. Kupingnya ia rasakan berdenging.


"Nona Rose Byrne yang memaksaku Tuan. Maafkan aku Awwwww!" Sekali lagi ia meringis sakit karena tarikan tangan kiri pria itu semakin keras menarik kulit kepalanya.


"Ayo katakan sekarang juga dimana Rose Byrne sialan itu membawa Flower hah?!"


"Akan Aku tunjukkan tapi kumohon lepaskan Aku Tuan, hiks," mohon gadis itu dengan airmata bening yang semakin memaksa keluar dari kelopak matanya.


Bola mata coklatnya yang sangat indah itu sudah tergenang dengan cairan bening itu. Vivian White bukan hanya merasakan sakit pada tubuhnya tetapi juga hatinya bagaikan diremas dengan sangat kasar.


Seorang pria yang ia sukai sejak pertama bertemu dan rela ia berikan segala yang ia miliki ternyata memperlakukannya dengan sangat buruk dan juga kejam. Rasanya ia begitu menyesal telah terpesona pada pria tua sialan itu.


"Berdirilah dan tunjukkan dimana posisi mereka sekarang!" titahnya dengan suara yang sudah tidak kasar dan keras seperti beberapa saat yang lalu.


Vivian pun berusaha berdiri dari lantai dingin itu tetapi ujung gaunnya rupanya terinjak oleh kakinya sendiri hingga ia terjatuh kembali dengan tampilan yang sangat terbuka karena gaun tanpa kerah itu akhirnya melorot kebawah.


Ferguson Patria mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sesuatu dari dalam dirinya yang selama ini sudah ia kubur dalam-dalam sejak kematian mendiang istrinya kini bergolak kembali melihat begitu indah pemandangan dihadapannya.


Begitu segar dan juga ranum.


Vivian dengan tangan gemetar karena takut segera memperbaiki letak gaunnya yang sudah menunjukkan kedua asetnya. Ia begitu takut pada pria kejam dan berbahaya di hadapannya.


Gadis itu berusaha untuk berdiri dari rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar itu.


"Berhenti! mau kemana kamu?!" teriak Ferguson dengan nada yang kembali meninggi karena emosi.

__ADS_1


"Bukankah Tuan ingin Aku tunjukkan dimana Nona Rose Byrne membawa Flower Michelin?" jawab Vivian White dengan suara gemetar takut. Ia tidak membalikkan badannya karena benar-benar tidak ingin bertemu pandang dengan pria tua dan kejam itu.


"Pakai ini!" Vivian merasa sangat kaget karena tubuh bagian atasnya yang terbuka tiba-tiba ditutupi oleh jas yang baru saja dipakai oleh pria tua itu. Aroma tubuhnya masih sangat terasa pada kain dari bahan wool yang sangat mahal itu.


Vivian menyentuh jas itu dengan perasaan campur aduk. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu diikuti oleh Ferguson Patria dibelakangnya.


"Ayah?!" Frederico yang sedang ada di depan kamar itu untuk melaporkan perkembangan informasi tentang hilangnya istrinya begitu kaget dengan apa yang ia lihat dihadapan matanya.


"Akan Ayah jelaskan nanti Fred. Kita ikuti saja kemana gadis ini membawa kita untuk menemukan Rose Byrne!" seru pimpinan tertinggi klan Patria itu tanpa ekspresi.


Ferguson Patria segera melangkahkan kakinya mendahului semua orang yang tampak begitu kaget dengan apa yang mereka lihat.


🌺


Flower Michelin membuka matanya perlahan. Ia pun berusaha untuk menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan lampu yang sangat terang di ruangan itu.


Perempuan cantik itu kemudian menutup kembali matanya setelah merasakan kepalanya terasa sangat sakit.


Matanya tiba-tiba membelalak karena teringat kejadian beberapa saat yang lalu. Perkelahiannya dengan seorang perempuan yang sudah ia curigai ingin menggoda suaminya ternyata benar-benar telah menunjukkan niat jahatnya.


Perempuan cantik itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dengan wajah bingung. Yang ia ingat perempuan itu menyemprotkan sebuah cairan ke wajahnya dan Langsung membuatnya jatuh tak berdaya.


"Dimana Aku?" gumamnya pelan.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2