
Linda Brown melambaikan tangannya pada rombongan mobil mewah yang dikendarai oleh Frederico Patria dan para anggotanya itu.
Mereka semua meninggalkan Panti Asuhan dengan membawa Flower Michelin yang akan bekerja sebagai asisten pribadi Mafia kejam dan berbahaya itu.
Linda Brown merasa sangat lega karena gadis yang sedang mempunyai masalah dalam keluarganya itu akhirnya mempunyai satu tempat bernaung yang akan menyayanginya.
Frederico Patria sebelum membawa gadis itu memintanya untuk berbicara secara pribadi dengannya.
"Aku sangat menyukai gadis itu Miss Brown. Dan Aku bahkan merasa telah jatuh cinta padanya pada saat pertama kali berjumpa," ujar pria itu dengan senyum samar diwajahnya.
"Dan Aku pastikan ia akan bahagia bersamaku," lanjutnya dengan wajah yakin. Linda Brown hanya tersenyum dengan ucapan pria tampan dan sangat berbahaya itu.
"Buktikan kata-katamu Tuan. Karena dinas sosial yang akan selalu memantaumu," balasnya seraya menjabat tangan pria itu.
Frederico Patria pun membalas jabatan tangannya dengan cepat. Pria itu tersenyum lebar kemudian menjawab, "Aku tak akan mengecewakanmu Miss Brown."
🌺
Dalam perjalanan menuju Rumah kediaman Frederico Patria.
Pria tampan, maskulin, dan berbahaya itu sedang berusaha untuk santai dan menikmati perjalanannya dengan Flower Michelin yang berada di sampingnya. Ia pun meraih handphonenya untuk mengisi rasa gelisah yang hampir membunuhnya.
Flower Michelin tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hingga membuat suasana mobil mewah itu bagaikan kuburan yang menyeramkan. Frederico sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.
Akhirnya Ia pun melakukan pengecekan email yang ada di dalam kotak masuknya bermaksud untuk menyibukkan dirinya. Akan tetapi ia tetap merasa gelisah.
Ekor matanya selalu berusaha merekam apa saja yang dilakukan oleh gadis muda dan cantik di sampingnya.
"George, percepat laju mobilnya!" titahnya pada sang asisten. Ia sudah merasa gerah berada dengan gadis yang sangat menggoda hasratnya itu tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Baik Tuan."
Broom
Goerge menambah kecepatan laju mobil itu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia tahu betul sifat pimpinannya itu. Jika pria itu dalam keadaan gelisah maka ia justru semakin mencari pemacu adrenalin yang membuat jantungnya semakin tertantang.
"Ini terlalu kencang Tuan," ujar Flower Michelin dengan dada berdebar. Tangannya mencengkram jok mobil yang sedang didudukinya dengan rasa khawatir.
__ADS_1
Frederico Patria tersenyum samar. Ia sudah lama menginginkan gadis itu bersuara dan ternyata ia telah berhasil melakukannya.
"Kita harus segera sampai di Rumah Nona Michelin. Untuk itu George harus meningkatkan laju kendaraannya," jawab pria itu dengan wajah santai.
Door
Door
Semua penumpang yang ada di dalam mobil itu tersentak kaget karena merasakan dua tembakan sedang menyerang bodi mobil mereka. Flower Michelin menatap pria disampingnya itu dengan tatapan tanya.
"Tenanglah. Tidak akan ada yang terjadi. Itu mungkin hanya tikus kecil yang sedang ingin bermain-main denganku," ujar Frederico Patria seraya menyentuh tangan gadis itu dan meremasnya lembut. Ia ingin memberikan rasa tenang pada gadis yang sudah nampak ketakutan itu.
Door
Door
Sekali lagi rentetan tembakan menyerang mobil mereka dari arah samping. Flower Michelin menyembunyikan dirinya ke samping pintu mobil itu karena merasakan takut akan tembakan-tembakan itu.
"Oh Shi*t!" Frederico Patria mengumpat dengan keras seraya meraih senjata apinya yang ia simpan disamping jok mobilnya.
"George!" Pria itu memanggil nama Asistennya untuk melakukan sesuatu pada mobil asing yang sedang menyerangnya. Ia pun mulai menarik kokang senjatanya dan membuka sedikit kaca pintu mobil itu.
Door
Satu tembakan tepat sasaran mengenai mobil itu dan langsung meledak dengan jarak yang tidak begitu jauh dari mobil mereka. George tahu betul perintah dari pimpinannya itu. Laju mereka melaju bagaikan terbang di Udara.
"Aaaaaaaa!" Flower Michelin berteriak sangat keras dengan dada hampir meledak karena takut dan khawatir.
"Tenang, semuanya sudah aman Nona Micheline," ujar Frederico Patria dengan senyum samar diwajahnya.
Mobil yang mereka kendarai kembali berjalan normal ketika sudah keluar dari ledakan mobil penyerang itu.
Huuuft
Flower Michelin menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia menatap pria yang ada disampingnya dengan tatapan mata tajam.
"Kembalikan Aku ke tempatku di Dinas sosial. Aku tidak ingin ikut dengan anda!" Flower Michelin tidak ingin lagi bersama dengan pria yang ternyata sangat berbahaya itu.
__ADS_1
"Tenang Nona. Kita harus menghancurkan orang yang berani menggangu kenyamanan kita, bukan begitu?"
Flower Michelin mendengus kesal kemudian melempar pandangannya ke arah luar jendela. Ia benar-benar tidak menyangka kalau akan hidup seatap dengan orang yang berada dalam dunia kekerasan.
Ciiiiiit
Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di depan sebuah rumah mewah dan sangat luas. Frederico Patria mempersilahkan gadis itu untuk turun dari mobilnya.
"Kita sudah sampai Nona. Aku harap kamu menikmati apa yang akan aku berikan padamu," ujar pria itu dengan senyum samar di bibirnya.
"Terimakasih banyak Tuan. Aku harap juga begitu." jawab gadis itu dengan tatapan tak lepas dari pemandangan rumah yang sangat menakjubkan dihadapannya itu.
"Pelayan akan mengantarkan kamu ke kamarmu." ujar pria itu kemudian segera berlalu dari hadapan Flower Michelin. Saat ini ia hanya ingin meminum air dingin untuk meredakan hasrat yang belum juga reda pada gadis cantik ini.
Flower Michelin pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu dengan diantar oleh kepala pelayan di Rumah itu.
Gadis itu tak berhenti merasakan takjub dengan melihat gaya arsitektur bangunan yang terdapat dalam bangunan besar dan mewah itu. Perpaduan antara gaya bangunan Eropa klasik yang sangat memukau.
"Silahkan Nona. Kamar ini yang akan anda tempati," ujar kepala pelayan seraya membuka pintu besar dari kayu yang sangat kuat itu.
"Terimakasih banyak Nyonya," ujar gadis itu dengan senyum diwajahnya. Ia pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar yang sangat luas itu. Sekali lagi mulutnya terbuka dengan segala kemewahan yang terdapat di dalam kamar itu.
"Anda bisa istirahat terlebih dahulu Nona. Makan malam akan segera siap dan saya akan menjemput anda kembali," ujar kepala pelayan itu dengan kepala menunduk sopan.
Flower Michelin tersenyum kemudian menyentuh tangan kepala pelayan itu. Ia sungguh merasa tidak nyaman dengan kebaikan Perempuan paruh baya itu.
"Aku juga pekerja di rumah ini Nyonya. Jadi jangan perlakukan Aku dengan sangat istimewa seperti ini," ujarnya dengan senyum diwajahnya. Brenda Hudson tersenyum kemudian menatap gadis cantik itu.
"Anda istimewa. Jadi Saya harus memperlakukan anda dengan sangat baik."
"Hah?"
🌺 🌺 🌺
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍