Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 11 Mafia AHM


__ADS_3

George sangat mengerti apa yang sudah terjadi pada Tuannya itu. Ia pun meminta Frederico Patria untuk menenangkan dirinya. Sebotol Vodka ia tuangkan di hadapan pria itu dengan senyum diwajahnya.


"Tenangkan dirimu Tuan, Flower Michelin pasti akan kamu dapatkan," ujarnya seraya memberikan satu sloki minuman itu kepada sang Bos. Frederico Patria meraih minuman itu kemudian menyeruputnya.


"Aku ingin sekarang George," pinta pria itu merajuk seperti anak kecil. George sekali lagi tersenyum kemudian menuangkan lagi cairan kuning itu kedalam gelas yang sudah kosong itu.


"Apakah Anda ingin memaksanya seperti dulu?" tanya asistennya itu dengan alis terangkat. Ia menatap wajah pria dihadapannya itu dengan tatapan menantang.


"Akan Aku lakukan jika ia begitu sangat keras kepala George," jawabnya dengan seringai diwajahnya. Ia benar-benar sudah sangat terobsesi pada rasa dari gadis cantik itu.


"Dan mungkin anda akan kehilangannya untuk selama-lamanya."


"Apa maksudmu George?"


"Ia tak akan bisa kemana-mana lagi. Rumah ini tak akan mungkin ia tinggalkan. Aku akan mengikatnya di dalam tempat ini George!"


"Dan Linda Brown dari dinas sosial akan datang menuntut anda karena telah melakukan kesalahan yang sangat besar."


Frederico Patria tersentak kaget. Ia baru menyadari tentang janjinya pada perempuan itu untuk memperlakukan Flower Michelin dengan sangat baik.


"Ah ya terimakasih banyak George. Aku akan mendengarkan kata-katamu. Ya bersabar dengan hati yang tersiksa," ujar pria itu dengan wajah yang nampak frustasi.


"Nona Micheline baru saja sampai Tuan. Biarkan ia merasakan kelembutan hati anda. Begitupun perhatian dan perasaan tulus yang anda berikan pasti akan membuat hatinya menerima anda," ujar George dengan wajah serius.


"Tulus katamu?"


"Aku tidak pernah tulus George! Semua yang kulakukan haruslah ada imbalannya. Dan untuk gadis itu, ia pasti akan mendapatkan ganjaran dari apa yang sudah ia berikan padaku."


"Ia harus membayar ku George!"


"Gadis itu telah membuatku gila. Dan Aku sangat tidak suka ini!"

__ADS_1


George menghela nafasnya berat. Ia pun menuang kembali Vodka itu ke dalam gelas pria yang lebih muda dari dirinya itu. Ia tahu bagaimana susahnya menahan hasrat yang menggila seperti pria itu rasakan saat ini.


Akan tetapi ia harus memberinya sedikit nasehat agar tidak lebih hancur dari ini karena tidak bisa menahan hawa naf*su nya.


Ferguson, ayah dari Frederico adalah atasannya dulu. Ia telah menitipkan putranya ini kepadanya untuk ditemani dalam bekerja maupun melakukan hal lainnya.


Pria itu pernah mengalami trauma Seksualitas diwaktu masa kecilnya. Dan jika hal itu kambuh maka pengobatan yang dibutuhkan adalah memberikan apa kemauannya atau ia akan sakit dan tidak bisa tidur sampai berhari-hari.


Akan tetapi penyakit itu kini berubah semakin aneh. Sejak ia merasakan tubuh Flower Michelin, ia jadi tidak berselera pada perempuan mana pun dan hanya menginginkan gadis itu saja. Entah Itu kutukan atau balasan keburukan yang selalu membayanginya karena telah membuat gadis itu menderita.


Frederico Patria sudah nampak mabuk. Dan itulah yang diharapkan oleh George sang asisten. Ia ingin pria itu mabuk dan melupakan keinginannya untuk mendapatkan tubuh Flower Michelin malam ini.


"Berikan obatku George!" teriak pria itu dengan seluruh wajah yang sudah memerah.


"Saya akan membawa anda ke tempat tidur Tuan. Anda butuh istirahat saat ini," ujar George seraya memapah pria tinggi besar itu ke arah ranjang yang terdapat dalam ruang kerjanya itu.


Frederico Patria menurut, matanya sudah sangat berat karena mengantuk. Tak lama kemudian ia pun tertidur bagai seorang bayi.


Malam ini ia bisa bernafas lega karena ia bisa menstimulus otak putra dari Ferguson itu untuk tidak bertindak terburu-buru.


Bagaimana pun juga ia tahu kalau hal yang direncanakan Bosnya itu adalah sebuah kesalahan besar. Akan tetapi jika membayangkan penderitaan yang dialami oleh pria itu ia terkadang ingin membantunya juga.


Huuuft


George menyugar rambutnya ke belakang dengan tarikan nafasnya yang berat. Ia juga bukanlah pria yang baik. Membunuh dan melecehkan perempuan sudah sering juga ia lakukan.


Akan tetapi saat melihat apa yang dialami oleh Tuan mudanya itu, ia baru menyadari satu hal. Bahwa segala kejahatan yang pernah dilakukan di dunia ini pastilah akan mendapatkan ganjaran. Meskipun mereka tidak mengenal Tuhan sekalipun.


Pria itu pun duduk di sebuah sofa di dalam ruangan keluarga itu. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Mengunjungi pemakaman Keluarga Micheline membuatnya seketika ingat mati.


"Permisi Tuan George. Saya ingin mengatakan sesuatu." Pria itu tersentak dari lamunannya ketika mendapati Brenda Hudson berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Ada apa Nyonya Hudson. Apa Ada masalah?" tanyanya seraya menegakkan tubuhnya. Ia menatap kepala pelayan itu dengan tatapan tanya.


"Nona Micheline sudah memasuki kamarnya dan juga sudah tertidur," jawabnya dengan kepala tertunduk. Perempuan tua itu sejak dulu tidak pernah berani menatap wajah Frederico Patria dan juga asisten kepercayaan Tuan mudanya itu.


"Apa ada yang perlu saya lakukan untuk Nona muda itu?"


George tersenyum kemudian menjawab, "Tidak ada Nyonya. Pastikan saja saat ia bangun nanti, ia bisa melayani Tuan muda Patria dengan sangat baik."


"Baik Tuan. Apa ada lagi yang harus Saya lakukan?"


"Tidak Nyonya. Ini sudah larut, kembalilah ke kamar anda dan beristirahat. Besok pagi kita semua akan bekerja kembali."


"Ah iya Tuan. Saya permisi kalau begitu," ujar Brenda Hudson kemudian meninggalkan tempat itu menuju kamarnya sendiri. Tubuhnya yang sudah berumur itu juga sudah butuh istirahat diatas kasurnya yang empuk.


George pun berdiri dari duduknya dan segera meninggalkan ruangan itu juga. Jam dinding besar di ruangan itu sudah menunjukkan waktu yang sudah sangat larut.


Dan sepertinya ia juga sangat butuh istirahat malam ini. Ia pun melangkah ke arah kamarnya yang bersisian dengan ruangan kerja Frederico Patria.


Akan tetapi sebuah suara teriakan dari dalam ruangan kerja Bosnya itu membuatnya segera berlari ke arah tempat itu. Senjata yang selalu ada dibalik setelan jasnya ia raih.


Perlahan ia membuka pintu itu dan menyalakan lampunya. Nampak di depan matanya Frederico Partia berdiri di sana dengan nafas terengah-engah dan sangat kacau.


"Ada apa Tuan? Apa anda bermimpi buruk?"


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2