Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 17 Mafia AHM


__ADS_3

Frederico Patria menatap Gadis cantik bergaun putih dihadapannya dengan tatapan takjub penuh cinta. Flower Michelin didampingi oleh Bibi Matilda sebagai keluarga terdekatnya menghadiri pernikahan yang begitu sangat tiba-tiba itu.


Janji suci pernikahan telah mereka ucapkan dihadapan semua orang yang hadir di pesta yang sangat meriah itu. Setelah itu Frederico Patria diminta oleh sang pendeta untuk mencium pengantin perempuan.


Kedua pasangan itu benar-benar nampak seperti pasangan yang sangat berbahagia. Bibi Matilda saja sampai merasa sangat heran dengan perubahan yang terjadi pada Flower Michelin.


Perempuan tua itu tidak menyangka kalau gadis cantik putri Merlin sahabatnya itu bisa membuka hatinya pada seorang pria secepat itu. Meskipun begitu ia tetap merasa sangat bahagia karena ada seorang pria yang mau menikahi gadis yang sangat disayanginya disaat ia sedang hamil.


"Kamu cantik sekali Flo, ibu dan Ayahmu pasti sangat bahagia di surga melihat kamu bisa sangat cantik seperti ini sayang," puji Bibi Matilda dengan wajah berseri-seri gembira.


Perempuan tua itu pun memeluk dan mencium gadis yang baru dinikahi oleh Frederico Patria itu dengan perasaan haru dan juga bahagia.


"Suamimu juga sangat tampan. Bibi yakin dia pasti bisa membahagiakanmu nak," lanjut perempuan tua itu lagi seraya memperhatikan dari jauh pria tampan dan sangat maskulin itu.


Flower Michelin hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri masih meraba perasaannya. Hanya karena ia sedang hamil dan takut tidak bisa menghadapi kenyataan buruk ini sendirian, ia jadi menerima lamaran pria itu.


Apalagi janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya sekarang ini adalah sepasang bayi kembar yang sehat. Ia jadi tidak tega melenyapkannya meskipun sangat membenci penabur benih itu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" tanya Bibi Matilda saat melihat pengantin perempuan itu diam saja. Flower Michelin tersentak kaget. Ia memandang perempuan tua itu dengan wajah bingung.


"Apakah menurutmu apa yang Aku lakukan ini sudah benar Bibi?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa aneh yang tiba-tiba berkelebatan dalam hatinya.


Sebuah rasa yang sangat menyesakkan dan membuatnya ingin marah dan menangis secara bersamaan.


"Tentu saja sayang. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Demi bayi-bayi lucu yang ada di dalam kandunganmu kamu telah melakukan hal yang benar."


"Tetapi bagaimana dengan Tuan Patria, apakah ia berjanji akan menyayangi dan mencintai bayimu juga?" tanya perempuan tua itu seraya mengarahkan kembali pandangannya ke arah sudut ruangan.


Disana ia melihat pengantin pria yang sedang menggunakan stelan jas yang sangat cocok di tubuhnya yang sangat tampan itu juga sedang memandang kearah mereka berdua.

__ADS_1


Deg


Dada perempuan tua itu tiba-tiba berdebar keras. Ia seperti pernah melihat pria itu tapi ia lupa entah dimana dan kapan.


Seketika Ia menyesalkan usianya yang telah tua dan pelupa. Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Flo sayangku, apakah suamimu berjanji akan menyayangi anak-anakmu nantinya?" ulangnya dengan tatapan serius pada Flower Michelin yang tampak sedang memandang ke arah lain dengan tatapan kosong.


"Iya bibi. Tuan Patria berjanji akan menyayangi bayi-bayiku seperti anaknya sendiri. Ia bahkan sudah memberikan semua hartanya pada kami bertiga."


"Hah? benarkah itu sayangku?" Bibi Matilda merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Perempuan tua itu memegang dadanya dengan tarikan nafas sesak.


"Iya Bibi, Semua sudah diberikannya padaku atas namaku dan kedua anakku," jawab gadis cantik itu seraya menyentuh tangan Bibi Matilda yang nampak susah bernafas.


"Apakah Bibi baik-baik saja?" lanjutnya dengan sebuah kalimat tanya. Bibi Matilda mengangguk kemudian tersenyum. Perempuan itu sudah merasakan jantungnya berdetak dengan normal kembali.


"Ah iya Bibi. Aku harap juga seperti itu," jawab Flower Michelin dengan senyum diwajahnya. Ia pun mengajak Bibi Matilda untuk bertemu dengan tamu lainnya yang ada di sana.


"Selamat Flo. Kamu sangat cantik sayangku," ujar Linda Brown dengan wajah gembira. Ia memeluk dan mencium pipi pengantin perempuan itu dengan penuh rasa haru dan bahagia.


"Terimakasih banyak Miss Brown," jawab pengantin perempuan itu dengan wajah ikut bahagia. Ia pun mengalihkan pandangannya pada pria muda yang datang bersama dengan perempuan dari Dinas sosial itu.


"Terimakasih Josh, kamu juga bisa datang," ujarnya dengan senyum diwajahnya. Pria yang bernama Joshua Hudson itu pun balas tersenyum meskipun hatinya sangat kecewa. Ia sangat berharap bahwa gadis itu bisa ia jadikan istrinya suatu saat nanti.


"Jangan katakan seperti itu Flo. Aku adalah temanmu dan seharusnya Aku memang datang untuk memberimu selamat."


Pria itu pun kemudian menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Flower Michelin tetapi bukan tangan pengantin perempuan itu yang ia dapatkan melainkan tangan orang lain yang lebih besar dan juga agak kasar.


"Terimakasih banyak atas kedatanganmu anak muda. Kami berdua sangat senang karena kamu bisa datang bersama dengan Miss Brown dan semua orang di Panti Asuhan," ujar Frederico Patria seraya meraih pinggang istrinya dengan tangan kirinya.

__ADS_1


Pria itu ingin menunjukkan kalau Flower Michelin adalah miliknya seutuhnya saat ini dan selamanya. Tidak boleh ada pria lain yang boleh memandang dan menyentuhnya.


"Anda terlalu posesif Tuan Patria tapi Aku sangat suka dengan kalian," timpal Linda Brown dengan kedipan matanya yang sangat lucu.


Flower Michelin merasa sangat risih diperlakukan seperti itu di depan umum. Ia berusaha melepaskan dirinya tetapi tangan Frederico Patria benar-benar sangat kuat. Pria itu mencengkeram pinggangnya dan merapatkan tubuhnya tanpa jarak samasekali.


"Silahkan nikmati pestanya Miss Brown. Dan kamu siapa namamu?" Frederico Patria menatap pria muda yang ada di hadapan mereka dengan tatapan mengintimidasi.


"Saya Joshua Hudson. Saya adalah teman Flower Michelin Tuan."


"Oh, hanya teman 'kan?" tanya Frederico Patria dengan tatapan tajam. Ia memandang istrinya dan juga Joshua Hudson bergantian.


"Tentu saja Tuan. Kami adalah teman baik dan juga saling memahami. Flo sangat percaya padaku."


"Oh ya? kamu pasti teman yang sangat baik hingga istriku ini bisa mempercayaimu, iyyakan sayang?" Frederico Patria semakin merapatkan tubuh istrinya ke tubuhnya pertanda ia sangat tidak menyukai perkataan pria muda itu.


Flower Michelin tersenyum tipis kemudian mengangguk. Entah kenapa ia sangat suka melihat rasa cemburu yang diperlihatkan oleh suami barunya itu. Hatinya merasa sangat senang jika melihat pria itu menderita.


"Pergilah Josh Hudson. Nikmati pestanya dan jangan pernah menjalin hubungan lagi dengan istriku, faham kamu?" geram pria itu seraya membawa istrinya pergi dari tempat itu.


Ia sekarang sangat tidak rela kalau ada yang melihat dan memuji kecantikan Flower Michelin.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2