
George meninggalkan tempat itu dengan membawa mobilnya ke sebuah hotel yang ada di sekitar Cafetaria. Pria itu pun tersenyum dan menarik nafas lega. Ia tidak lagi merasa khawatir meninggalkan Flower Michelin di sana karena Frederico Patria sedang bersamanya saat ini. Pria itu akan menjaga istrinya sepanjang waktu.
Memarkirkannya mobilnya di basemen hotel itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah lift dan menekan angka 2 tempatnya mengatur janji dengan istrinya, Maggie Smith di hotel itu.
Sebuah hal yang kebetulan terjadi karena Maggie Smith juga sedang ada acara bersama dengan teman-temannya sesama dokter di tempat itu. Ia akan menunggu perempuan yang baru ia nikahi sepekan yang lalu itu sembari menikmati suguhan kopi Arabika yang terkenal enak di Cafetaria hotel itu.
"Cuaca yang cukup bagus ya?" sapa seorang perempuan cantik seraya duduk di hadapannya. Ia juga membawa secangkir kopi dan beberapa potong cake di tangannya.
George tersenyum kemudian mengangkat cangkir kopinya dan menyeruput kembali cairan hitam beraroma khas itu.
"Boleh saya duduk di sini Tuan?" pinta gadis itu dengan senyum manisnya. George hanya mengangkat telapak tangannya ke arah depan pertanda ia mengizinkan. Lagipula ia tidak punya cara lain untuk tidak mengizinkan perempuan itu karena ia sudah terlanjur mendudukkan dirinya.
"Ah terimakasih banyak Tuan. Kamu bisa lihat 'kan semua meja sedang penuh semua disaat jam sarapan seperti ini."
"Ya, saya bisa melihatnya," jawab George seraya memandang ruangan Cafetaria yang nampak tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa meja yang kosong di sana dan selebihnya masih kosong.
Perempuan itu meringis dengan alasannya yang sangat tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat.
__ADS_1
"Tak Apa, santai saja. Nikmati kopi dan juga cake mu yang sepertinya sangat lezat itu," ujar George berusaha santai dan tidak peduli. Ia ingin perempuan itu tidak malu dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Terimakasih Tuan. Saya Rose Byrne, senang berkenalan dengan anda," ujar perempuan itu memperkenalkan dirinya.
"Saya George Herbert," jawab Pria itu singkat. Ia kembali menyeruput kopinya. Pria itu tidak mau mengangkat wajahnya karena perempuan yang bernama Rose Byrne itu sejak tadi memandangnya dengan pandangan berbeda.
George yang merupakan seorang mantan player itu tahu betul jenis pandangan apa yang ditawarkan oleh perempuan dihadapannya itu. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh apalagi tergoda.
Bayangan wajah dan tubuh Maggie Smith yang lebih cantik dan menarik itu membuatnya tidak ingin memberi ruang pada perempuan itu untuk menggodanya.
"Sebenarnya Aku punya masalah Tuan. Kalau kamu tidak keberatan, bisakah Aku meminta pertolonganmu?"
"Kamu sangat kaku. Apakah istrimu memperlakukan mu dengan baik Tuan Herbert?" tanya perempuan itu seraya menggerakkan tangannya ke arah tangan George di atas meja. Pria itu segera menarik tangannya agar Rose Byrne tidak berhasil menyentuhnya.
"Dan dugaanku ternyata sangat benar Tuan Herbert. Kamu benar-benar takut pada istrimu hihihihi," Rose Byrne menutup mulutnya karena terkikik lucu. Ia semakin bersemangat menggoda pria maskulin itu dengan mendekatkan wajahnya ke arah George.
"Aku sudah bisa menebak kalau istrimu pasti sangat kejam dan juga suka marah-marah, iyyakan?"
__ADS_1
"Kalau kamu tidak bahagia George, Aku bisa memberikan kebahagiaan padamu," ujar perempuan itu semakin diatas angin. Ia yakin betul kalau pria kaya yang ada dihadapannya ini bisa ia raih untuk dijadikan partnernya di atas ranjang.
"Siapa yang tidak bahagia Nona?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Maggie Smith. Dokter perempuan yang baru saja tiba di tempat itu menatap gadis dengan pakaian terbuka itu bergantian dengan George Herbert sang suami suaminya.
"Mag? kamu sudah selesai sayangku?" tanya George dan langsung berdiri dari duduknya. Ia meraih pinggang istrinya kemudian memperkenalkannya pada perempuan di hadapannya.
"Perkenalkan Nona. Ini adalah istriku, Maggie Smith. Ia adalah seorang dokter di sebuah Rumah Sakit besar di ibukota. Kami baru saja menikah." jelas pria itu dengan cepat. Ia tidak mau ada kesalahpahaman diantara mereka bertiga.
"Oh ya?" tanya Rose Byrne dengan tatapan tidak percaya. Hatinya langsung mencelos kecewa. Sungguh ia tidak menyangka kalau George Herbert asisten kepercayaan Frederico Patria itu sudah menikah.
"Tentu saja Nona. Senang berjumpa denganmu," balas Maggie Smith dengan dagu terangkat. Rose Byrne berusaha untuk tersenyum seraya memikirkan bagaimana caranya bisa menyusup ke dalam tubuh klan Patria.
πΊπΊπΊ
"Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π