
Aura panas semakin terasa menyelimuti seluruh ruangan kamar yang sangat luas itu. Dessahan dan erangan kedua orang yang sedang saling memuaskan itu begitu merdu sekaligus membuat seluruh tubuh merinding.
Frederico Patria tak berhenti mempermainkan inti istrinya dengan lidahnya sampai perempuan itu dibuat berteriak tertahan berkali-kali. Flower Michelin merasakan tubuhnya sungguh tidak bertenaga sekarang. Ia lemas tak berdaya.
"Fred aaaaakh hmmmpt plis..." racaunya dengan perasaan yang sangat tersiksa. Tangannya menggapai-gapai ke udara diantara rintihannya yang membuat suaminya semakin diatas angin.
Perempuan itu sudah melakukan pelepasan berkali-kali namun sang dominan belum juga mau memasuki inti permainan.
"Flo, panggil lagi namaku sayang," bisik pria itu dengan tatapan penuh hasrat.
"Fred please, Aku tidak kuat lagi..." ujar perempuan cantik itu seraya melengkungkan dadanya ke atas saat Frederico kembali menyentuhnya dengan sangat indah dan berirama.
"Here we go honey..." bisik Frederico Patria seraya mengarahkan miliknya yang sudah sangat siap untuk mengacaukan sistem pertahanan tubuh istrinya.
Mata Flower Michelin membelalak sempurna saat benda tumpul itu menghunjamnya langsung pada titik sasaran. Ia merasa sesak begitupun dengan suaminya. Mereka berdua terdiam sejenak kemudian saling menatap.
Frederico Patria meraih bibir Istrinya dan melumattnya lembut seraya merasakan inti dirinya seakan dicengkeram dengan sangat kuat dibawah sana.
Sebuah pijatan yang sangat garang ia rasakan pada Juniornya hingga ia seakan-akan merasakan semua kenikmatan dunia ini sudah menjadi miliknya.
"Flo, Kamu begitu nikmat sayangku," ucapnya dengan suara lirih. Ia pun melakukan manuver-manuver yang sangat garang dan berbahaya. Dan berhasil membuat yang punya benteng pertahanan mendesis dengan sangat nikmat.
Selanjutnya tak ada lagi kata lain yang ingin ia ucapkan selain nama Flo, Flo, dan Flo sampai ia meledakkan senjatanya di dalam istana itu dengan sangat nikmat.
"Oh my Flower, Aku sangat mencintaimu sayangku," ujarnya pelan kemudian tumbang disamping tubuh istrinya.
"Aku juga Fred," balas Flower Michelin dengan hati menghangat bahagia. Perempuan itu pun tersenyum kemudian ikut menutup matanya. Mereka berdua bahagia dengan apa yang telah mereka lakukan.
πΊπΊπΊ
Di sisa malam itu semua penghuni rumah tertidur dengan sangat damai. Mereka tidak tahu kalau di sebuah rumah mewah sedang berlangsung rapat khusus untuk mendapatkan akses masuk ke dalam klan Patria.
"Apakah Aku sendiri yang harus melakukan semua ini?" tanya Rose Byrne dengan tatapan tak suka dengan pengaturan Vivian White sang bawahan.
__ADS_1
"Tentu saja Nona. Anda sangat cerdas dan juga cerdik. Jadi Aku yakin semuanya pasti gampang anda taklukkan."
πΊπΊπΊ
"Ada apa sayang?" tanya Maggie saat ia sudah bersiap untuk membaringkan dirinya di atas ranjangnya. Sejak tadi ia perhatikan suaminya itu sedang memikirkan sesuatu yang cukup pelik.
George bahkan tidak meliriknya sama sekali saat ia berjalan di depan suaminya dengan tampilan yang sangat terbuka.
Perempuan itu akhirnya membatalkan niatnya untuk tidur. Ia langkahkan kakinya ke arah sofa single dimana pria itu sedang duduk termenung dengan handphone yang sedang terbuka di tangannya.
"George, apa kamu mendengar ku sayang?" bisik Maggie seraya mengelus lembut lengan pria itu.
"Ah iya, tentu saja Mag. Ada apa?" pria itu tersentak dari lamunannya kemudian menatap istrinya dengan wajah sedikit bingung.
"Aku yang bertanya padamu George, ada apa?" tanya Maggie lagi dengan senyumnya yang menenangkan. Tangannya bergerak naik mengelus rambut suaminya itu dengan penuh kasih sayang. Ia tahu kalau pria itu sedang ada masalah sekarang.
"Kamu ingat perempuan yang kita temui di hotel beberapa waktu yang lalu Mag?" tanyanya seraya menatap wajah istrinya. Tangan Maggie reflek berhenti mengelus. Ia balas menatap mata suaminya dengan perasaan tak nyaman.
"Tidak Maggie sayang. Perempuan itu tidak menarik samasekali. Aku hanya teringat pada sebuah tanda khusus pada tubuhnya."
"Apa? Sebuah tanda khusus? Apa saja yang sudah kamu lihat dari dirinya George?" salak Maggie dengan emosi diwajahnya. Ia langsung beranjak dari sana karena merasa hatinya sangat cemburu pada perempuan itu.
"Maggie, bukan seperti itu maksud Aku sayang?" Tangan besar pria itu langsung meraih pinggang Istrinya kemudian mendudukkannya di pangkuannya.
"Lalu apa George?"
"Tatto mawar hitam yang Aku lihat di lengan perempuan bernama Rose Byrne itu sepertinya mengingatkan Aku tentang sesuatu."
"Lalu?"
"Itulah yang membuat Aku bingung. Entah apa alasan perempuan itu menghampiriku pada saat itu." jawab George dengan wajah kembali tampak serius.
"Apa mungkin kamu pernah menjalin asmara dengannya sebelum ini sayang?" tanya Maggie dengan dada bergemuruh cemburu.
__ADS_1
"Entahlah Mag. Aku tidak ingat."
"Sudah berapa perempuan yang pernah menjadi pemuas hasratmu George?!" Maggie menatap suaminya dengan tatapan tajam.
George sungguh tidak ingin menjawab atau semua sepak terjangnya dengan pata partner ranjangnya akan terbuka semua.
Saat ini Ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan yang sepertinya akan menyudutkannya jika diteruskan.
"Ya ampun Maggie. Ini sungguh tidak ada hubungannya sayang. Sekarang mari kita tidur saja dan tidak membahasnya lagi okey?" ujarnya seraya mengangkat tubuh istrinya ke arah tempat tidur mereka.
"George!"
"Apa sayangku?"
"Katakan padaku kalau kamu tidak akan memikirkan perempuan lain selain diriku!" seru Maggie seraya mencengkram kerah piyama suaminya. George langsung tersenyum samar kemudian mengecup bibir Istrinya lembut.
"Katakan apa lagi permintaanmu Mag," bisik pria itu dengan suara rendah. Maggie tersenyum kemudian menjawab, "Buat Aku sangat bahagia malam ini George."
"Dengan senang hati Nyonya Herbert."
πΊπΊπΊ
Duh Maggie, othor juga mau dong ikut bahagia π€.
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess agar othor semakin bahagia seperti Maggie dan Flower.
Like dan komentar ya sayang ku π
Ada hadiah yang banyak juga boleh lah...
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1