Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 53 Mafia AHM


__ADS_3

Rose Byrne dan Vivian White berjalan dengan anggun ke dalam sebuah gedung luas dan juga sangat mewah. Dua perempuan muda itu sedang menghadiri sebuah acara amal diadakan oleh keluarga Patria.


"Duduklah Nona, acara lelang sepertinya akan segera dimulai," ujar Vivian White pada Rose Byrne sang Bos.


"Terimakasih banyak Vivi. Kamu juga bisa duduk di sampingku," balas Rose Byrne dengan tatapan lurus ke arah depan.


"Tidak Nona. Saya akan duduk di tempat yang terpisah saja. Ada banyak pengawal yang berjaga disini. Dan itu harus saya awasi."


"Baiklah Vivi, lakukan tugasmu dengan baik."


"Baik Nona. Silahkan nikmati pestanya." Asisten pribadi dari Rose Byrne itu pun segera keluar dari barisan kursi-kursi untuk tamu undangan itu.


Perempuan itu harus mencari posisi yang sangat bagus untuk memperhatikan keadaan sekeliling agar rencana mereka bisa berjalan dengan baik hari ini.


Rose Byrne merasakan tubuhnya seketika membeku. Sosok pria tampan yang sedang lewat di bagian depan kursi-kursi para undangan seketika membuat dadanya berdesir hebat.


"Itu pasti Frederico Patria yang terkenal sangat tampan dan juga berbahaya," ujarnya pelan dengan mata tajam terus mengawasi pergerakan pria itu. Ia begitu senang karena bisa melihat sosok Brondon Rios Patria pada sosok pria itu.


"Setidaknya saudara kembarmu bisa mengobati rinduku padamu Brondon," bisiknya dengan suara yang sangat pelan. Entah kenapa adrenalin nya terpacu sangat kuat saat matanya beradu tatap hanya sepersekian detik dengan pria yang ia yakini adalah Frederico Patria.


"Tatapannya sungguh sangat berbahaya dan oh ya ampun, Aku tidak tahu apakah bisa menaklukkannya di sebuah tempat yang sangat istimewa," ujarnya lagi dengan senyum aneh diwajahnya. Perempuan itu benar-benar sudah membayangkan hal yang tidak-tidak hanya dengan melihat pria tampan itu.


Acara lelang pun dimulai. Barang-barang berharga yang dimiliki oleh Klan Patria sejak puluhan tahun yang lalu yang masih sangat bernilai jual tinggi mulai ditunjukkan satu persatu di depan para undangan.


Rose Byrne ikut melakukan penawaran yang cukup tinggi dari sebuah liontin perak yang sepertinya pernah ditunjukkan gambarnya oleh Brondon Rios sang kekasih. Ia ingin memiliki benda itu sebagai kenangan yang sangat indah untuk mengingat pria yang pernah memberinya banyak cinta dan sekaligus luka.

__ADS_1


"Penawaran tertinggi dari Rose Byrne. Untuk itu liontin ini akan menjadi milik Nona Mawar hitam Rose Byrne!" ucap pemandu lelang dengan suara yang sangat heboh. Tepuk tangan pun bergema di ruangan itu.


Semua mata tertuju pada perempuan cantik dengan tampilan gaun yang sangat terbuka di bagian dada juga pahanya. Mereka semua begitu heran dengan penawaran yang dilakukan oleh perempuan bernama Rose Byrne itu. Hanya karena sebuah liontin perak yang menurut mereka sangat tidak berharga setinggi itu berani dibayar mahal oleh sang perempuan.


Rose Byrne keluar dari kursinya dan langsung menuju ke panggung untuk mengambil liontin itu setelah memastikan Vivian White sudah mentransfer sejumlah jutaan dollar untuk menebus barang berharga itu.


"Aku ingin sekali liontin ini dipasangkan langsung di leherku oleh pewaris satu-satunya klan Patria," ucapnya dengan suara lantang. Ia menunjuk kursi Frederico Patria yang sedang duduk di kursi VVIP paling depan bersisian dengan Ayahnya Ferguson Patria dan juga Flower Michelin istrinya.


Semua orang langsung tercekat kaget dengan permintaan perempuan itu. Sedangkan Flower Michelin yang sudah bisa melihat ada yang tidak beres dengan tatapan perempuan itu pada suaminya langsung berubah waspada.


Ferguson Patria menatap tajam perempuan yang sedang berdiri menunggu di atas panggung itu. Kepala tuanya langsung mengingat siapa perempuan itu. Perempuan yang sudah membuat saudara kembar Frederico berhasil melakukan pemberontakan padanya.


Perempuan iblis!


"Apakah anda tidak ingin mengabulkan permintaan Aku yang sangat sederhana ini Tuan muda Patria Junior?" pinta Rose Byrne dengan wajah dibuat sangat memohon. Frederico Patria hanya tersenyum samar.


Semua tamu undangan menunggu dengan dada berdebar. Mereka benar-benar ingin melihat apakah seorang Frederico Patria yang terkenal sangat ramah pada semua perempuan akan meloloskan permintaan perempuan itu. Padahal ada istrinya yang masih sangat muda dan cantik sedang duduk di sampingnya.


"Fred, Aku tidak mengizinkanmu," bisik Flower dengan suara rendah agar hanya suaminya saja yang mendengarnya.


Perempuan cantik itu sampai mencengkeramkan tangannya pada lengan suaminya karena takut akan tatapan menggoda dari seorang Rose Byrne.


"Flo, sebagai tuan Rumah kita harus menghargai tamu bukan?" jawab Frederico Patria seraya melepaskan cengkram tangan istrinya pada lengannya. Ia menyimpan tangan halus dan lembut itu keatas paha Flower Michelin kemudian berdiri dari duduknya.


Pria itu akan memenuhi permintaan Rose Byrne yang telah melelang Liontin perak itu dengan harga jutaan dollar. Dimana Hasil penjualan barang-barang berharga itu akan disumbangkan untuk yayasan sosial yang ada di kota Itu.

__ADS_1


"Fred!" panggil Flower Michelin dengan suaranya yang ditekan dengan sangat kesal. Ia begitu marah karena suaminya tidak mendengarkannya.


Awas kamu Frederico Patria! Kamu tidak bisa tidur bersamaku malam ini! geram Flower Michelin dalam hati.


Frederico Patria menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai di depan panggung. Ia menoleh ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan wajah kesal. Ia langsung berkedip dan tersenyum samar pada Flower Michelin. Seolah-olah ia mendengar ancaman tadi perempuan cantik itu.


Ish


Flower Michelin hanya mendengus dan membuang pandangannya kearah lain. Ia tidak sanggup melihat suaminya memasang sebuah liontin pada perempuan lain yang nampak sangat seksih dan menggoda seperti itu.


"Terimakasih Tuan Patria. Aku bahagia sekali karena anda mau memenuhi permintaanku," bisik Rose Byrne saat tangan pria itu sedang bergerak ke belakang lehernya untuk mengaitkan pengait dari benda itu.


"Saya juga mengucapkan terimakasih karena Nona mau menghargai sangat mahal barang ini. Terimakasih banyak." Frederico Patria pun tersenyum kemudian berniat untuk turun dari panggung itu.


"Mungkin kita bisa mengatur waktu untuk bertemu Tuan, Aku yakin engkau tidak akan kecewa denganku," ujar Rose Byrne lagi dengan suara rendah bagaikan bisikan. Sebuah undangan yang sangat berbahaya, begitu pikir Frederico Patria dalam hati.


"Terimakasih banyak Nona. Saya permisi. Istri saya sepertinya sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Saya takut tidak akan mendapatkan izin untuk memeluknya malam ini," jawab Frederico Patria dan langsung meninggalkan panggung itu untuk segera menemui Flower Michelin yang sedang merajuk.


Rose Byrne langsung meremas tas tangannya dengan dada mendidih marah.


Flower Michelin, sepertinya Aku harus segera melenyapkan dirimu sayang...


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2