Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 56 Mafia AHM


__ADS_3

Vivian White mengetuk pintu kamar yang bernomor 123 itu dengan pelan. Gadis cantik itu menarik nafasnya dengan perasaan tegang. Untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan seorang pria di tempat yang sangat khusus dan juga tertutup itu.


Meskipun seorang pria tua tapi pesona dan auranya yang sangat berbahaya membuat dirinya bagaikan akan bertemu dengan seorang pria idola semua perempuan.


Pintu pun terbuka sedikit dan menampilkan seorang pria dewasa, matang, dan sangat tampan di baliknya. Pria itu tersenyum samar padanya dengan tatapannya yang langsung menembus jantung seorang Vivian White.


"Masuklah Nona White," ujar Ferguson Patria dengan tangan membuka lebar-lebar pintu kamar itu.


"Ah ya, terimakasih Tuan," jawab gadis itu dengan suara bergetar gugup. Ia merutuki dirinya yang mau saja mengikuti permintaan pria itu untuk menemuinya di tempat tertutup seperti itu.


Ia pun melangkahkan kakinya memasuki kamar itu dengan dada berdebar-debar. Ia benar-benar akan menjadi gadis nakal sekarang.


"Saya sudah lama menunggumu Nona White, dan kamu tahu itu sangat tidak benar," ujar Ferguson Patria dengan suara rendah bagaikan bisikan.


Pria itu menatap Vivian yang sudah berada di dalam kamar itu seraya meraih pinggang ramping gadis itu dan merapatkannya pada tubuhnya hingga jarak mereka berdua terkikis.


"Ma-maafkan Aku Tuan," balas Vivian dengan suara bergetar antara takut dan khawatir serta perasaan aneh lainnya yang sejak tadi bergemuruh dalam pembuluh darahnya.


"Apa saja yang kamu lakukan sampai membuatku menunggu seperti ini Nona White?" bisik Ferguson di depan wajah gadis cantik itu. Hingga deru nafasnya yang berbau anggur sangat bisa dirasakan oleh Vivian White.


Gadis itu pun menutup matanya merasakan sebuah rasa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Ia merinding. Sungguh ia belum pernah bersentuhan dengan pria manapun sampai sedekat ini.


"Katakan padaku, apakah kamu menemui Dickinson sebelum menemui ku hem?" bisik pria itu lagi seraya menyentuhkan ujung bibirnya ke bibir Vivian yang terbuka sedikit itu.

__ADS_1


Dada Vivian White sudah terasa sangat sesak sekarang. Ia merasakan pasokan oksigen dalam paru-parunya sudah tidak cukup lagi untuk bernafas.


Apalagi tangan pria matang itu mengelus lembut lengannya.


"Kenapa kamu diam Vivian?" tanya Ferguson lagi dengan suara beratnya. Bibirnya masih berada diujung bibir gadis itu. Vivian tidak kuasa untuk menjawab.


Sungguh ia sudah tidak tahan lagi. Ia begitu tak kuasa dipermainkan oleh pria dewasa ini. Ia pun dengan berani meraup bibir pria itu dan mengulummnya sangat lembut.


Ferguson Patria ikut terpancing. Ia membalas apa yang dilakukan gadis muda itu padanya. Cukup lama mereka berdua saling membelit sampai Vivian merasakan tubuhnya bergetar hebat.


Ferguson Patria melepaskan tautan bibir mereka kemudian menatap wajah Vivian yang memerah. Jari-jarinya bergerak menyentuh wajah cantik itu sampai berhenti dipermukaan bibir Vivian.


"Bibirmu manis juga Vivian. Saya yakin sekali kalau sayalah yang pertama menyentuhnya iyyakan?"


Pria matang itu tersenyum samar. Ia juga sangat ingin memiliki gadis cantik yang masih sangat murni ini. Tangannya pun bergerak semakin ke bawah. Jari-jarinya menyusuri leher jenjang Vivian yang begitu putih dan sangat ingin ia berikan kecupan yang pastinya akan sangat menyiksa gadis itu dalam kenikmatan.


"Aaaargh!" Vivian berteriak tertahan. Ia merasakan lehernya tercekat dan tak bisa bernafas. Tangan kuat Ferguson Patria sedang mencekiknya tanpa perasaan.


"Tu an, le pas kan A ku," mohon gadis cantik itu dengan nafas tersengal-sengal. Ia tidak bisa lagi bernafas dan akhirnya jatuh dengan lemas ke lantai.


"Dasar kucing betina brengsek!" umpat Ferguson Patria seraya meninggalkan tubuh lemas tak berdaya itu di atas lantai dingin kamar itu.


Sementara itu di dalam ruangan pesta. Beberapa pasangan masih saja berdansa di lantai dansa. Mereka benar-benar menikmati acara yang diadakan oleh keluarga Patria.

__ADS_1


Canda tawa menghiasai setiap Meja. Pelayan setiap saat berkeliling ke semua tamu untuk memastikan mereka nyaman dan menikmati acara itu.


"Baby Zack dan Baby Zoey sedang rewel dan mencari ibunya, Tuan," bisik George ditelinga Frederico Patria yang masih sibuk menemani tamu-tamunya. Pria itu baru saja didatangi oleh Maggie sang istri dan memberitahukan tentang informasi ini.


"Dimana Flo?" tanya Frederico Patria dengan wajah penasaran.


"Justru itu Tuan. Kami sudah menghubunginya dan tidak juga bisa tersambung."


"Apa maksudmu George? Flower ada di sekitar sini. Aku melihatnya tadi." Wajah Frederico Patria langsung tampak sangat khawatir. Ia pun meminta izin pada tamu-tamunya untuk meninggalkan tempat itu.


"Cari ke semua ruangan di Gedung ini George!" titahnya dengan rahang mengeras. Ia sungguh tidak bisa membayangkan jika ada hal buruk yang terjadi pada istrinya di dalam daerah kekuasaannya sendiri.


Lampu-lampu dinyalakan dan musik dansa pun dihentikan. Semua orang jadi tampak bingung dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi.


"Tidak ada yang terjadi. Pesta kami hentikan saat ini juga karena sebuah masalah kecil!" jelas Ferguson Patria saat semua tamu tampak sangat bingung dengan suasana ruangan yang tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam.


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2