Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 38 Mafia AHM


__ADS_3

Matahari bersinar sangat cerah pagi itu. Cahayanya yang mulai menghangatkan alam sekitar membuat semua orang bersemangat. Maklum musim panas yang baru tiba di negara itu rupanya sudah cukup lama dirindukan oleh semua orang. Musim dingin yang lembab dan membosankan membuat mereka malas untuk keluar rumah.


Rasa gembira semua orang ternyata tidak dirasakan oleh Flower Michelin. Sejak bangun dari tidurnya pagi itu, ia hanya bermalas-malasan di atas ranjang bersama dengan putra-putrinya yang ia bawa tidur dengannya sejak semalam.


Zack dan Zoey begitu rewel. Dua anak kembar itu hanya menangis dan menangis saja. Mereka berdua bahkan tidak ingin meminum susu dari botolnya seperti biasa. Flower Michelin sang ibu sampai kewalahan karena semuanya ingin dimanjakan oleh dirinya.


Beruntunglah Brenda Hudson selalu menemaninya bagaikan seorang ibu atau seorang nenek yang ikut merawat dan menenangkan mereka berdua saat sedang rewel seperti itu.


"Hmmmpt," Flower Michelin menggeliat pelan di bawah selimutnya. Ia benar-benar merasa sangat lelah dan juga mengantuk.


"Aaaargh!" perempuan itu tiba-tiba melompat dari ranjangnya karena teringat sesuatu.


"Oh tidak!" teriaknya tertahan kemudian menutup mulutnya dengan cepat. Ia baru menyadari kalau dua baby twinsnya baru saja tertidur. Dan mereka berdua tampak sangat nyenyak.


Dengan gerakan perlahan. Ia pun turun dari ranjangnya itu dan segera ke kamar mandi. Ia harus mandi karena ada janji dengan seseorang pagi ini.


"Selamat tidur sayangku Zack dan Zoey," ujarnya pelan seraya mencium jauh putra-putrinya itu. Nampak sekali kalau ia sangat berat meninggalkan dua bayi kembarnya itu. Akan tetapi ia tetap harus pergi atas saran dari George.


Perusahaan saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik. Untuk itu ia sebagai pimpinan yang menggantikan Frederico haruslah turun tangan. Minimal ia harus belajar terlebih dahulu agar ia bisa mengetahui setiap hal yang berhubungan dengan usaha besar itu.


Karena ini adalah hari pertamanya keluar Rumah sejak kejadian mengerikan beberapa bulan yang lalu itu maka pengawal yang bersamanya pun berlipat ganda sesuai dengan instruksi George.


"Apa menurutmu ini terlalu berlebihan Goerge?!" ujarnya dengan perasaan sangat kesal saat melihat beberapa orang berpakaian hitam-hitam berdiri berjejer di depan tiga buah mobil di depan Rumahnya.


"Tidak Nyonya. Ini sudah sesuai dengan perintah Tuan Patria junior."


"Apa pria itu memerintahkan mu dari kuburan hah?!" tanya Flower Michelin dengan wajah semakin kesal. Ia paling tidak suka jika asistennya itu selalu melakukan sesuatu atas nama Frederico Patria. Padahal pria itu sudah tidak ada di dunia ini.

__ADS_1


"Tidak Nyonya."


"Kalau begitu Aku tidak mau diantar oleh mereka!" sentak Flower Michelin dengan tatapan tajam.


"Tapi kenapa Nyonya? Hidup anda sangat berharga untuk keluarga Patria. Jadi saya akan bertanggung jawab untuk hal itu selama saya masih hidup."


"Tapi mereka terlalu mengundang perhatian orang banyak George. Aku ini bukanlah seorang putri Presiden yang harus dikawal seperti ini!" sentak Flower Michelin dengan wajah masih ditekuk tidak suka.


"Baiklah Nyonya. Kita akan pergi tanpa pengawalan dari mereka." putus George mengalah. Pria itu pun memberikan perintah kepada para pengawal kalau jasa mereka tidak dibutuhkan saat ini. Akan tetapi itu hanya sebuah kode belaka. Mereka tetap akan ikut dibelakang mereka dengan jarak yang tidak begitu jauh.


"Baiklah George. Kita berangkat sekarang." Flower Michelin segera naik ke mobilnya sendiri dan tidak Ingin diantar oleh George. Sekali lagi pria itu mengalah. Ia hanya akan mengikuti dari belakang saja.


Mereka pun berangkat ke sebuah tempat dimana Flower Michelin akan bertemu dengan seseorang yang akan mengajarinya banyak hal.


Perempuan itu merasakan hatinya berdebar-debar. Ia sungguh merasa masih terlalu muda untuk mempelajari tentang perusahaan. Akan tetapi ia harus melakukannya untuk mempertahankan usaha itu agar tetap bertahan tanpa pimpinannya yang keras.


Sebuah Cafetaria ia datangi sebagai tempat untuk bertemu dengan pria itu atas saran dari George. Ia pun memarkirkan mobilnya di depan tempat itu kemudian memperbaiki dandanannya.


"Meskipun ada kantung mata di sini. Oh tidak. Aku seperti perempuan bermata panda sekarang," gumamnya pelan karena menyadari semalam ia hanya tidur sekitar 2 jam saja.


"Zack, Zoey, Maafkan Mommy sayang," lanjutnya lagi karena teringat pada dua bayi kembar itu yang sempat ia bentak karena tidak juga bisa tidur dan hanya bisa menangis semalaman.


Huffft


Ia hampir saja mengalami syndrom baby blues. Dan menyakiti dirinya sendiri ketika ingat dirinya yang masih sangat muda dan merawat dua bayi tanpa seorang suami yang mendampingi.


"Nyonya, Tuan Freddy sudah menunggu anda di dalam," ucap George seraya mengetuk kaca mobilnya. Perempuan itu pun langsung tersentak dari lamunannya. Ia segera membuka pintu mobil itu kemudian meraih tas tangannya.

__ADS_1


"Ah iya George. Apakah kamu mau menemaniku?" tanyanya pada pria itu. George tersenyum kemudian menjawab, "Saya akan menunggu anda di luar saja."


"Apa kamu yakin orang itu baik George?" tanya perempuan itu lagi untuk memastikan apa yang pria lakukan adalah merupakan hal yang tepat.


"Tentu saja Nyonya. Saya sangat merekomendasikan Tuan Freddy karena ia sudah biasa memimpin perusahaan besar. Akan tetapi jika ia macam-macam pada anda. Saya yakin anda tahu apa yang harus dilakukan."


"Ah ya, benar sekali George. Aku akan membuatnya lupa siapa dirinya, hahaha," tawa renyah Flower Michelin menghiasi tempat itu. Perempuan itu pun melangkahkan kakinya ke dalam Cafetaria yang tidak begitu ramai itu.


Setelah bertanya kepada pelayan tentang nomor meja tempat mereka janjian, ia pun melangkahkan kakinya dengan ringan ke arah sebuah meja yang bersisian dengan sebuah jendela kaca.


"Hai Tuan Freddy, Aku Flower Patria," sapanya seraya menyodorkan tangannya pada seorang pria brewokan yang nampak masih muda itu. Ia sendiri tidak percaya akan apa yang diucapkannya karena untuk pertama kalinya ia menyematkan nama belakang suaminya pada namanya.


"Oh hai Nyonya," jawab pria itu tersenyum dibalik cambang dan juga kumisnya yang begitu lebat. Flower Michelin merasakan dadanya berdebar keras. Suara pria itu sangat mirip dengan suara mendiang Frederico Patria, suaminya.


"Apakah anda sudah lama menunggu? eh maafkan Aku Tuan karena sudah membuat anda menunggu terlalu lama," ujar perempuan itu seraya duduk di sebuah kursi yang ditarik oleh pria itu.


"Tidak masalah. Aku mengerti kalau anda harus mengurus dua bayi kembar," jawab pria yang bernama Freddy itu dengan suara tenangnya. Matanya memandang wajah Flower dari balik kaca mata hitamnya dengan rasa rindu yang menggunung.


Ingin ia memeluk tubuh perempuan itu dengan segenap rasa cinta dan kasih yang ia punya akan tetapi ia harus menakar hati perempuan itu terlebih dahulu.


"Anda tahu kalau Aku seorang ibu beranak kembar?"


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Selamat berlibur...


Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess πŸ€­πŸ˜…


__ADS_2