
George memasuki ruangan itu dengan cepat dikuti oleh Maggie Smith yang sangat khawatir dengan apa yang terjadi di dalam sana. Pria itu langsung mengangkat tubuh Flower Michelin ke arah kamar terdekat di dalam ruangan itu.
"Ini sudah sangat buruk George. Kita harus membawa Flower ke Rumah Sakit. Keadaannya yang terus-menerus seperti ini bisa menggangu pertumbuhan dan perkembangan kandungannya," ujar Maggie Smith seraya memeriksa tubuh perempuan hamil itu.
"Bagaimana Tuan?" tanya George pada Ferguson Patria yang sedang berdiri di depan jendela besar di dalam kamar itu. Ia menunggu petunjuk dari pria yang sangat dihormatinya itu.
"Perempuan itu benar George. Kita harus membawa Flower ke Rumah Sakit sekarang juga. Keadaan cucuku haruslah baik-baik saja."
"Baik Tuan. Kita akan berangkat sekarang juga.," jawab asisten kepercayaan pria itu dan segera meminta semua orang untuk bersiap.
"Kita akan ke Rumah Sakit sekarang juga Nyonya Hudson. Jadi siapkan segala sesuatunya saat ini juga!" titah pria itu kepada Brenda Hudson sang kepala pelayan.
"Baik Tuan," jawab perempuan itu dan segera mencari pelayan yang lainnya agar segera mempersiapkan segala sesuatu yang Nyonya muda itu butuhkan.
"Apa Bibi bisa ikut Tuan George?" Bibi Matilda menghampiri pria yang bernama George itu untuk meminta izin.
"Tentu saja Bibi. Dengan senang hati saya mengizinkan anda. Nyonya Flower pun pasti senang kalau kamu ikut dengan kami semua." George menjawab dengan senyum tipis diwajahnya. Bibi Matilda pun langsung menunjukkan wajahnya yang gembira.
Mereka semua pun bersiap untuk berangkat sedangkan di dalam sana. Flower Michelin sudah kembali sadar dari pingsannya.
Perempuan cantik itu menatap Maggie Smith dengan wajah yang masih nampak sangat bersedih.
"Apa sisa hidupku akan selalu merepotkan orang lain seperti ini?" tanyanya pada dokter perempuan yang sedang duduk di samping tempat tidurnya.
"Tidak Flo. Kamu tidak merepotkan orang sayang," jawab Maggie Smith seraya mengelus lembut kepalanya.
"Sudah Aku bilang 'kan kalau kami semua senang kalau kamu membuat kami repot hehehe," kekeh Maggie Smith dengan wajah yang dibuat lucu. Flower Michelin langsung tersenyum dan menampakkan deretan giginya yang rapih. Maggie Smith merasa senang dengan perubahan emosi pada perempuan muda ini.
Sungguh ia begitu takjub dengan keadaan psikologis yang sedang terjadi pada perempuan berusia hampir 18 tahun itu. Flower Michelin gampang sekali bersedih tetapi ia juga bisa kembali ceria dalam waktu yang sangat cepat.
"Aaawwwww, pinggangku terasa melilit dokter." Maggie Smith tersentak kaget karena senyum Flower Michelin kini dengan cepat berubah menjadi ringisan kesakitan.
"Bertahan ya, kita akan segera ke Rumah Sakit sekarang juga," ujar dokter perempuan itu dan langsung berdiri dari duduknya. Ia pun segera membantu perempuan hamil itu untuk bangun.
__ADS_1
"Bayi-bayiku sepertinya akan segera lahir dokter. Ini sungguh sakit sekali," ujar Flower dengan wajah meringis sakit. Tangannya terus meremas pinggang bagian belakangnya yang ia rasakan seperti akan patah.
"Ayo Flo kamu pasti kuat. Kita akan berangkat sekarang juga," bujuk Maggie Smith dengan tangan ikut membantu perempuan hamil itu untuk terus berjalan ke arah depan rumah itu.
George rupanya sudah sangat siap dengan mobil yang sudah terbuka pintunya itu. Ia langsung memerintahkan sopirnya untuk segera berangkat. Sedangkan Ferguson Patria mengikuti mereka dengan mobilnya sendiri.
"Aaawwwww ya ampun, ini sakit sekali dokter. Aku sudah tidak kuat," keluh Flower Michelin dengan tangan mencengkram kuat lengan dokter perempuan itu.
"Sabar ya Flo. Kita hampir sampai. Iyyakan George?!" Maggie Smith terus menerus memberikan motivasi untuk Flower Michelin dengan berharap George yang duduk di bagian depan mobil itu ikut membantunya.
"Ah iya, kita hampir sampai," jawab pria itu dengan suara yang terdengar ragu. Pria itu rupanya sedang menyiapkan senjatanya karena sebuah mobil mencurigakan sedang mengikuti dan terus berusaha menyerempet kendaraan mereka.
"Seatbelt kalian terpasang dengan benar 'kan?" tanyanya seraya menatap kaca kecil di atas kepalanya. Maggie Smith yang kebetulan sedang memandang ke arah yang sama langsung mengangguk. Ia juga mencurigai adanya hal yang buruk yang sedang mengintai perjalanan mereka.
Brakk
"Aaawwwww, dokter!" Flower Michelin berteriak keras bersamaan dengan bunyi gesekan dari kendaraan mencurigakan yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Percepat lajunya!" seru George pada sang sopir seraya mengarahkan senjatanya ke arah mobil yang sedang memburunya itu.
Door
"Awwww dokter, Uuhh Ahhh," Flower Michelin meringis kembali saat rasa sakit yang menyerang perutnya terasa lagi. Dan ini semakin sering datang.
Door
Semua penumpang di dalam mobil itu semakin tegang. Bunyi tembakan dari arah George semakin memekakkan telinga begitu pun dengan suara Flower Michelin yang tidak berhenti mengeluarkan keluhan sakit.
George kewalahan. Ia tidak seperti Frederico Patria dalam hal membidik Lawan. Kelebihannya adalah mengendarai mobil dengan cepat.
Brakkk
"Awwwww ahhh sssh," Flower Michelin semakin merengek kesakitan. Darah pun sepertinya sudah mulai keluar dari pangkal pahanya.
__ADS_1
Brakkk
Mobil itu kembali ditabrak dari arah belakang. George hanya berharap mereka bisa lolos dari keadaan darurat ini dan segera memasuki jalanan yang lebih ramai.
Brakkk
Boom
George terpana. Mobil yang sedang memburunya itu tiba-tiba terserempet oleh mobil lain dan berakhir menabrak pembatas jalan. Mobil itu meledak saat mereka semua sudah menjauh.
"Ah Aku lupa kalau Tuan besar Patria ada di belakang dan mengikuti kendaraan ini," gumamnya pelan. Hatinya sedikit lega karena musuh yang ia tidak tahu siapa, sudah hancur dan tidak mungkin mengikuti mereka lagi.
"Kita sudah sampai Tuan," ujar sang sopir yang langsung menghentikan mobilnya di depan Rumah Sakit.
"Maggie Smith langsung berlari turun dan meminta perawat dan dokter untuk segera menyiapkan operasi. Ia yakin sekali tubuh Flower Michelin sudah tidak sanggup lagi untuk melahirkan secara normal.
Sebuah Brangkar pun datang dibawa oleh beberapa perawat. Mereka langsung mengangkat tubuh Flower Michelin ke atasnya dan kemudian didorong ke ruangan operasi.
"Pastikan semuanya selamat!" titah Ferguson Patria kepada Tim dokter Rumah sakit itu.
"Kami pastikan itu Tuan!" jawab mereka serentak kemudian segera berlalu dari hadapan pimpinan dunia hitam itu. Mereka harus memberikan tindakan pada perempuan hamil yang mereka yakini adalah kerabat dekat dari Ferguson Patria itu.
"Apakah kamu tahu siapa yang berusaha mencelakai kalian tadi?" Ferguson memandang wajah George dengan tatapan tajam.
"Saya juga tidak tahu Tuan. Akan tetapi ini sudah dua kali terjadi dalam waktu yang sangat dekat."
"Saya harus tahu siapa yang berani melawan klan Patria di daerah kekuasaanku!" geram pria paruh baya itu dengan wajah mengeras. George hanya menunduk dan ikut memikirkan siapa musuh mereka saat ini.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π