
Lyli baru saja akan naik ke lantai dua ketika suara ketukan pintu terdengar. Melirik jam tangannya, jam sembilan. Gadis itu berjalan menuju pintu. Begitu dia membuka pintu, bola matanya membulat sempurna.
"Ngapain kamu ke sini?"
Lyli mendelik melihat Ian yang berdiri di depan pintunya. "Apelin kamulah." Jawab Ian santai.
"Gak ada. Pulang sana. Nanti digerebek sama warga. Bahaya."
"Bagus dong. Kita langsung dinikahin."
Kata Ian, sambil menerobos masuk ke rumah Lyli. Gadis itu berteriak ingin protes. Tapi yang namanya Ian dilarang ya tidak mempan. Pria itu dengan santai duduk di sofa ruang tamu. Mengabaikan protes Lyli.
Lyli hanya bisa mendesaahh kesal. Dengan sifat Ian akan sulit mengusir pria itu, jika bukan karena kemauan Ian sendiri untuk pergi. Begitu Lyli menutup pintu. Baru Ian menyadari dengan pakaian Lyli.
"Astaga, Ly. Kamu mau aku nerkam kamu?"
Kata Ian, melihat Lyli tanpa berkedip. Gadis itu tampak biasa saat Ian memandangi paha putih mulusnya yang hanya terbalut hot pants ketat berwarna hitam. Untungnya Lyli memakai kaos oversize hingga lekuk tubuh gadis itu sedikit tersamarkan.
"Kenapa? Kamu kan bukan anak SD lagi. Masak sih belum pernah lihat cewek seksi."
Balas Lyli acuh, lantas duduk di depan Ian. Ian menatap Lyli intens. Yang dikatakan Lyli benar. Dia pernah menikah, sering one night stand saat masih di negara M. Boleh dikatakan Ian sudah kenyang dengan yang namanya sekkksss. Tapi setelah bangun dari komanya. Pria itu banyak berubah. Dia bukan lagi K yang tiap malam harus disediakan gadis perawan untuk memuaskan dirinya. Setelah puas, K akan menghabisinya. Dia yang dulu benar-benar mengerikan.
"Benar juga. Aku dulu tiap malam, satu bisa sampai pagi."
Lyli melemparkan bantal ke arah Ian. Tapi pria itu sigap menangkapnya. "Kenapa? Aku normal, Ly."
"Masak setiap malam?" Tukas Lyli dengan wajah manyun. Lyli tahu kalau Ian memang badboy sejak SMA. Waktu sekolah menengah, Lyli bahkan pernah melihat Ian yang mencium teman sekelasnya yang terkenal seksi, penuh naffsuuu. Plus tangan Ian yang bergerak ke mana-mana. Lyli yang kala itu masih polos langsung kabur dari tempat itu.
"Aku bilang dulu. Sekarang dah tobat." Potong Ian cepat. Lyli melengos sambil memanyunkan bibirnya lima senti. Ian mengulum senyumnya melihat reaksi Lyli. Cukup tahu kalau Lyli tidak suka cerita seperti itu.
"Gak dikasih minum Ly? Haus ini."
__ADS_1
"Ambil saja sendiri."
Seulas senyum samar terukir di bibir Ian. Tanpa segan pria itu melenggang ke dapur setelah Lyli memberitahu tempatnya. Ian membuka kulkas besar di dapur itu. Mengambil dua kaleng soda dan sebotol minuman dengan rasa jeruk. Kesukaan Lyli. Saat Ian kembali ke ruang tamu, pria itu melihat kamera di sudut dapur. Pria itu menarik ujung bibirnya. Dan sebuah perintah langsung direspon oleh The Eye tanpa perlu Ian berucap.
Lyli membiarkan Ian meletakkan minuman untuknya di atas meja. Sementara Ian langsung menenggak minumannya. "Ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Ian pada Lyli yang tengah memainkan ponselnya.
"Soal operasi itu. Kenapa kamu menjadi penanggungjawab tunggal?"
"Operasi itu berlangsung tidak seperti biasa."
Ian lantas menjelaskan, jika operasi itu gagal setidaknya hanya namanya yang akan rusak. Sedang semua dokter yang terlibat di dalamnya tidak akan terlalu buruk terkena dampaknya. Lyli sesaat melihat Ian yang terlihat santai saat berucap sambil meminum minumannya.
Lyli seketika menelan ludahnya, melihat bagaimana seksinya Ian saat menelan minumannya. Astaga, Lyli pacarmu itu siapa. Kenapa yang memenuhi otakmu malah orang lain. Ian memiliki tampilan fisik yang nyaris sempurna sejak dulu. Wajah oriental yang memang tipe Lyli. Ditambah semua proporsi terlihat pas di tubuh Ian.
Kalau pun ada minus adalah sifaf Ian yang memang menyebalkan di mata Lyli sejak dulu. "Ly, kamu serius cinta sama Rio?" Tanya Ian tiba-tiba.
Lyli terdiam mendengar pertanyaan Ian. Hal itu juga yang sering Lyli tanyakan pada dirinya sendiri. Apa dia benar-benar mencintai Rio? Atau hanya karena rasa hutang budi saja.
Setahun lalu sebuah kejadian mempertemukan Rio dan Lyli. Menimbulkan rasa yang membuat Lyli mengatakan iya saat Rio meminta Lyli menjadi kekasihnya. Hingga sekarang. " Kok diam?" Tanya Ian yang rupanya serius memperhatikan perubahan wajah Lyli.
"Dia hanya memanfaatkan Lyli."
Ian seketika mengepalkan tangannya. Sesuai dugaannya, kalau Rio hanya menggunakan Lyli sebagai alat balas dendam. Andai Rio dan Lyli saling mencintai, Ian akan mundur. Tapi ternyata tidak. Jadi dia akan maju terus mengejar Lyli. Selain untuk menyelamatkan Lyli dari tangan Rio, tetapi juga karena dia mencintai Lyli. Ian tidak ingin Lyli terluka.
Mereka masih diam dengan pikiran masing-masing. Hingga suara mobil terdengar masuk ke garasi rumah itu. "Kakak pulang!" Pekik Lyli takut. Gadis itu langsung melihat ke arah Ian yang masih santai meminum air sodanya.
"Apa?" Tanya Ian. Melihat kepanikan di wajah Lyli.
"Sembunyi sana! Nanti kakak marah melihatmu."
"Lah aku memang ingin bertemu kakakmu."
__ADS_1
"Enggak sekarang. Sembunyi dulu sana!"
Ian memberi kode dengan alisnya. Kemana dia harus sembunyi? Dan kode tangan Lyli menunjuk ke atas. Ian langsung melesat naik ke lantai atas. Sementara Lyli membersihkan dua kaleng soda milik Ian. Dalam hati Lyli menggerutu, kenapa juga dia membiarkan Ian masuk ke rumahnya.
Sementara itu di lantai atas. Ian nampak menyusuri lorong kamar di sana. Petunjuk dari The Eye membuat Ian berada di depan kamar Lyli. Mendengar suara pintu dibuka di lantai bawah. Membuat Ian dengan cepat masuk ke kamar Lyli.
Pria itu sesaat terdiam, melihat interior kamar Lyli yang manis. Meski tidak ada warna khusus yang menunjukkan sisi manis kamar itu, tapi di mata Ian, kamar Lyli terlihat begitu.
Samar terdengar suara Leon dan Lyli bicara di lantai bawah. Hingga terdengar langkah Lyli mendekat ke arah kamarnya. Pria itu sembunyi di balik pintu. Sampai ketika Lyli masuk ke kamarnya. Gadis itu berjingkat karena kaget.
"Ngapain kamu di kamarku?"
Tanya Lyli dengan mata membulat melihat Ian berada di kamarnya. "Apalagi? Sembunyilah. Katamu kan begitu."
Jawab Ian santai. "Tapi kenapa di kamarku?" Bisik Lyli.
"Lalu kau menyuruhku sembunyi di kamar kakakmu? Ogah dong. Mending juga di sini, sama kamu bisa berduaan."
Balas Ian sembari menaikturunkan alisnya. Lyli seketika menepuk dahinya pelan. Melihat bagaimana tenangnya Ian sembunyi di kamarnya. Tidak tahu apa, bagaiman reaksi Leon kalau tahu. Ada pria berada di kamarnya.
"Duh bakal ketahuan gak ya?" Batin Lyli panik. Saat itulah terdengar ketukan di pintu kamar Lyli. Diiringi suaraa Leon yang meminta izin untuk masuk ke kamar sang adik. Ian dan Lyli langsung saling pandang panik.
"Begini amat rasanya kucing-kucingan sama kakak ipar yang belum rido." Batin Ian untuk pertama kalinya merasa H2C, harap-harap cemas.
***
Ian dan Lyli
Up lagi readers
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa ya. Terima kasih.
*****