Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Tidak Mungkin


__ADS_3

"Lah kan pacarmu marah." Ledek Ian saat melihat mobil Rio di depan rumah Lyli. Gadis itu sedikit gugup. "Berasa selingkuh gue." Gumam Lyli lirih. Ian tersenyum samar mendengar gumamam Lyli.


Wajah Rio sungguh tidak sedap dipandang. Pria itu jelas marah dengan tindakan Lyli. Meski Rio memacari Lyli dengan tujuan tertentu, tetap saja pria itu marah saat melihat Lyli jalan dengan pria lain. Terlebih itu Ian, naik motor lagi.


"Dari mana tadi?" Salak Rio.


"Ada pasien dadakan. Dan pulangnya nebeng dia." Jawab Lyli enteng setelah berhasil mengatasi rasa gugupnya.


"Aku pulang ya?" Ian menyela pembicaraan dua orang itu. Bagi Ian sudah cukup membuat wajah Rio seperti mau makan orang karena cemburu. Untuk urusan lain mereka akan menyelesaikannya di arena duel. Bukan di depan Lyli.


Ian mengedipkan matanya pada Lyli, lantas berlalu pergi dari sana. Meninggalkan gadis itu menggeram kesal. Bisa-bisanya Ian malah mengompori dirinya dan Rio.


Sepeninggal Ian, Rio mengikuti langkah Lyli masuk ke rumahnya. "Bisa jelaskan, Ly."


Gadis itu mendudukkan diri di sofa. Lantas mulai menjelaskan. Meski bagi Rio itu hanya alasan Ian untuk mengganggu hubungannya dengan Lyli. Tidak! Rio tidak mau melepaskan Lyli begitu saja. Ada waktu di mana dia akan melepaskan Lyli. Tapi itu jelas bukan sekarang. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya dalam. Berusaha menetralisir rasa yang berkecamuk dalam dada. Bagaimanapun menjalani hubungan dalam kepura-puraan jelas sangat menyiksa. Tapi Rio belum mau menyerah. Dia akan terus bertahan dalam hubungan palsu ini.


Setelah kesunyian yang menyapa sepasang kekasih itu, terdengar helaan nafas keluar dari bibir Rio. Pria itu akhirnya mulai bicara menandakan kalau dia sudah tidak masalah dengan kejadian tadi. Sejujurnya hal ini yang membuat Lyli tidak nyaman saat menjalin kasih dengan Rio. Sang kekasih terlalu menurut padanya.


Tak berapa lama, mobil sang kakak masuk ke parkiran rumah Lyli. Ini kesempatan yang Lyli tunggu, dia ingin mengkonfirmasi soal Mada pada sang kakak. Tapi tidak mungkin juga dia melakukannya di depan Rio. Bisa jadi Mada adalah saksi yang sedang dilindungi sang kakak. Dan Lyli tidak bisa membicarakan hal itu di depan orang awam, termasuk Rio.


*


*


Ian memarkirkan si Belalang di depan sebuah gudang tua. Pria itu lantas melangkah masuk. Di dalam dia sudah ditunggu oleh anak buahnya, yang tengah menjaga seorang pria yang terikat di kursi. Ian meraih kursi lantas mendudukkan diri di sana. Dilihatnya pria itu juga balik menatapnya, heran.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ian tanpa basa basi.


Pria di hadapan Ian berdecih pelan. Jelas jika dia tidak mau memberitahu. Dan Ian sudah menduga itu, tanpa kata Ian mengulurkan tangannya. Dan sebilah pisau berkilat sangat tajam kini sudah berada di tangan Ian.


"Tidak mau bicara ya. No problem. Kita bisa bermain-main dulu." Selanjutnya sepasang sarung tangan sudah terpakai di tangan Ian.

__ADS_1


"Jadi bagian mana yang mau dilukis dulu." Pria di depan Ian membulatkan mata, saat dua anak buah Ian merobek paksa kemeja yang dia pakai. Hingga pria itu jadi topless.


"Punggung saja bos. Kanvasnya lebih luas." Usul seorang anak buah Ian. Ian tersenyum jahat. Selanjutnya anak buah Ian membalikkan kursi pria itu. Hingga bagian punggung pria itu menghadap Ian." Kau benar, kanvasnya lebih luas. Kira-kira kalau mau melukis, melukis apa?" Ian kembali meminta saran dari anak buahnya.


"Twin Rose bagus bos."


"Kau benar sekali, mari melukis twin rose kalau begitu." Pisau Ian baru saja akan menggores kulit pria itu ketika si pria berteriak.


"Jangan!"


"Kalau gak mau ya jawab!" bentak Ian. Pria itu kembali memposisikan pisaunya di punggung pria itu. Rasa dingin dan perih terasa bersamaan. Ian begitu menikmati sesi gores menggores kulit. Tak peduli darah mulai mengalir juga si pria mulai berteriak kesakitan.


"Kapok belum? Mau bicara tidak?"


Pria di depannya mengangguk lemah. Baru beberapa sayatan dan dia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Apa kabar bodyguard klub yang ditembak Ian di area pribadinya tadi.


"Oke sekarang bicaralah. Siapa yang menyuruhmu." Ian bertanya. Kali ini bukan pisau yang ada di tangan Ian, tapi sebuah Revolver. Ian dengan santai memainkan pistol laras pendek itu.


"Hendrick Pitterson, bicara atau aku habisi kau seperti temanmu itu." Ancam Ian.


"Cepat katakan!" Raung Ian.


"Kau mengeluarkan watak aslimu." Ledek The Eye. "Diam kau!" desis Ian lirih. Terdengar kekehan dari sistem peretas berbasis komputer itu.


Semua lantas terdiam mendengar cerita Hendrick. Bagaimana dia mendapat orderan sebuah misi untuk menginfeksi seorang anak yang tengah umrah di Arab Saudi. Tiket dan hotel semua di tanggung oleh orang yang menyuruh Hendrick. Plus bayaran dua kali lipat dari tarif biasa.


Hendrick tentu saja menyanggupi. Itu tawaran menggiurkan, jarang ada. "Yang aku tanya. Apa kau mengenal siapa klienmu kali ini?"


Pria di hadapan Ian menggeleng pelan. Hendrick lantas bercerita kalau dua kali bertemu, kliennya selalu memakai masker.


"Kau yakin tidak mengenalinya?" Hendrick menggeleng. Detik berikutnya pria itu menjerit. Ketika Ian menembak kaki Hendrick tanpa ampun.

__ADS_1


"Siapa tahu itu bisa mengingatkanmu." Ucap Ian enteng. Hendrick hanya bisa menggerakkan tubuhnya pelan. Menahan sakit dan perih di kakinya. Tidak banyak yang bisa dia perbuat selain meringis. Darah mulai membanjiri lantai tanah di gudang itu. Mengubahnya menjadi merah dengan bau anyir yang menyengat.


Namun tak seorang pun peduli. Tidak ada yang berniat menolong Hendrick. Semua hanya menatap tanpa ekspresi ke arah Hendrick. Bagi mereka itu hal biasa. Mereka sudah kebal dengan pemandangan darah. Orang terluka bahkan orang mati sekalipun. Rasa simpati dan belas kasihan mereka sudah lama mati.


"Bagaimana sudah ingat? Siapa dia?" Ian mengulangi pertanyaannya. Dan Hendrick kembali menggeleng.


"Baik kalau kau tidak ingat itu juga tidak masalah. Karena hidupmu pun akan berakhir malam ini."


Revolver Ian kembali teracung ke arah Hendrick. Kali ini kepala Hendrick yang dibidik oleh Ian. Hendrick jelas kelabakan. Dia tidak mau mati. Dia belum mau mati. Pria itu berusaha mengingat ciri khas apa yang dia lihat dari kliennya.


Terdengar bunyi klik, yang artinya pelatuk sudah ditarik, tinggal dilepaskan. Dan peluru langsung menembus kepala Hendrick.


"Say goodbye to the world, man."


Kata Ian sambil memiringkan kepalanya. Pelatuk sudah berada di bawah kontrol jemari Ian. Satu gerakan dan timah panas itu siap menerjang ke sasarannya


"Tiga....Dua....Sa...."


"Tunggu dulu. Aku ingat, aku ingat. Dia punya tatoo....."


Ian segera menurunkan pistolnya. The Eye langsung melacak petunjuk yang diucapkan oleh Hendrick. Dan hasilnya....


"Tidak mungkin! Dia sudah meninggal. Ini tidak mungkin!" Batin Ian.


***



Kredit Pinterest.com


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2