
Kredit Pinterest.com
Rio memarkirkan mobilnya di luar mess yang Mada tinggali. Menurut laporan anak buahnya, mereka menemukan Mada tinggal di tempat ini. Rio sejenak berpikir, siapa yang sudah menolong Mada, hingga Mada bisa tinggal di mess anggota kepolisian.
"Isshh, makin susah buat bawa dia balik."Gerutu Rio. Pria itu harus merampungkan sedikit "urusan" dengan wanita cantik itu. Beberapa kali Rio mengetukkan jari di kemudinya. Mencoba mencari cara bertemu Mada. Menerobos masuk jelas tidak bisa. Mess kepolisian tentu punya aturan ketat soal pengunjung.
Rio mulai kesal saat tidak menemukan cara untuk menemui Mada. Hingga bibir pria itu mengukir senyum, kala melihat bayangan Mada melalui spion mobilnya. Sebuah keberuntungan yang sangat diharapkan Rio.
Pria itu sesaat tertegun, melihat bagaimana cantiknya Mada sekarang. "Wah tahu begini, beneran aku habisin kau dari dulu."
Memakai setelan formal, sepertinya Mada baru saja kembali dari sebuah acara resmi. Beberapa wanita yang tadi berjalan bersama Mada mulai memisahkan diri. Tinggal wanita itu seorang. Senyum Rio kian lebar, saat Mada berjalan ke arah mobilnya.
"Halo...Mada. Long time no see."
Tubuh Mada membeku di tempat, mendengar suara yang sangat dia benci. Mario Erlan, pria yang selama ini menyekap dirinya. Beberapa kali hampir melecehkan Mada. Wanita itu ingin berteriak minta tolong, tapi lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya serasa dicekik hingga bersuara pun Mada tak bisa.
"Ck...ck...ck..lihat siapa ini. Waaaa, aku tidak menyangka, kau bertambah cantik dan....seksi." Bisik Rio di telinga Mada. Pria itu bahkan terang-terangan menekan mental Mada di tempat umum. Sebuah aksi yang sangat berani.
Seringai Rio muncul kala melihat wajah Mada yang pucat. Ketakutan, satu hal yang membuat Rio senang. Intimidasi dan tekanan yang pria itu lakukan selama ini, sepertinya berhasil membuat Mada tidak mampu melawan Rio. Perkataan kasar serta ancaman Rio begitu membekas di hati dan pikiran Mada. Dalam hal ini Mada sudah mengalami trauma, serta tak berani melawan.
"Pulang denganku. Kita bisa bersenang-senang seperti dulu." Rio meraih tangan Mada, ingin membawa wanita itu masuk ke mobilnya. Namun hal tak terduga terjadi. "Pak Abri tolong!" Teriak Mada yang melihat tetangga messnya melintas.
"Sial!" Rio mengumpat kesal. Mada mulai berani melawannya. Pria yang dipanggil Mada mendekat. Rio segera masuk ke mobilnya dan melesat pergi dari sana. Setelah kepergian Rio, tangis Mada pecah.
*
*
Leon bergegas masuk ke mess miliknya. Saat Abri menghubungi kalau pria yang berniat jahat pada Mada muncul.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Leon panik.
"Siap, Kapt. Masih bersama dokter Elsa dan Dira." Jawab Abri sambil memberi hormat.
"Haish, jangan formal-formal. Ini di luar lingkungan dinas." Kesal Leon. Pria itu sudah berulang kali memberitahu anggotanya, untuk bersikap biasa saat di luar kantor.
__ADS_1
"He...he..maaf Kapt, kebiasaan."
Leon memutar matanya jengah. Satu lagi bawahan yang sulit sekali diajak bekerjasama di luar ikatan dinas. Leon bergegas masuk ke kamar Mada setelah lebih dulu mengetuk pintu.
"Ohhh...Kapten sudah datang." Elsa ingin menggeser duduknya. Namun Leon memberi kode tidak perlu. Sementara Mada langsung terisak melihat Leon yang berada di depannya.
"Kak...."
Mada tidak berani menyentuh Leon seperti biasa. Meski wanita itu ingin sekali melakukanya. Sama seperti Leon yang ingin memeluk Mada tapi ragu. Sampai satu isyarat dari Elsa membuat Leon memberanikan diri untuk memeluk Mada. Tangis Mada pecah dalam pelukan Leon. Wanita itu menumpahkan segala ketakutan, juga rasa frustrasi yang mungkin selama ini Mada rasakan.
"Tumpahkan semua mbak Mada. Rasa takut yang mbak Mada punya. Ingat, mbak masih punya kita yang peduli dan akan melindungi mbak Mada. Terutama Kapten."
Leon mendelik mendengar ucapan Dira. Dira adalah adik kelas Leon saat pendidikan. Jadi wanita itu lumayan dekat dengan Leon. Hingga Dira berani menggoda pria itu.
"Apaan sih? Sembarangan kalau ngomong." Sungut Leon. Pria itu manyun wajahnya mendengar ledekan Dira.
"Idih...gitu aja marah. Gini lo Kapt. Aku sama Elsa tadi berdiskusi. Gimana kalau kalian nikah saja."
"What?!!!" Dua bola mata Leon membulat, mendengar saran Dira yang tidak jelas sama sekali.
"Dengerin dulu, main what, whet, whot aja. Ini demi kepentingan bersama...."
"Ck..pakai nanya kepentingan bersama apanya. Ya kepentinganmu sama kepentingan Mada."
"Apa itu?" Lagi-lagi Leon bertanya dengan tidak sabaran. Sementara Abri berkali-kali hanya bisa mengulum senyumnya. Melihat kaptennya dikeroyok istri dan sahabatnya.
"Kau perlu istri untuk membuang status jomblomu dan kami perlu ibu ketua Bhayangkari. Juga Mada perlu perlindunganmu." Sahut Dira yang memang terkenal ceplas ceplos.
"Aku tidak separah itu. Dan kenapa juga kalian jadi sibuk soal ibu ketua Bhayangkari sih."
"Gue capek ngurusinnya Kapt. Pengen pensiun dari jabatan pelaksana tugas harian ketua Bhayangkari." Jawab Elsa. Wanita itu yang selama ini menghandle organisasi tersebut.
"Tapi aku ..."
"Gak cinta? Bohong lu..."
"Dira!" Abri memperingatkan sang istri agar tidak melewati batas. Namun Leon memberi kode tidak masalah. Leon suka ada yang mau bicara santai padanya.
__ADS_1
"Kamu tu suka sama Mada. Mada juga. Cuma dia trauma aja. Jadi takut buat ngungkapinnya. Sudah pikirkan dulu. Kalau kalian menikah, Mada akan lebih sering bersama kami. Kami bisa menjaganya. Aku yakin orang itu pasti akan kembali lagi. Selagi Mada belum ingat atau tidak berani menyebut namanya, kita tidak bisa menangkapnya." Kata Dira panjang kali lebar.
Ucapan Dira membuat Leon berpikir. Tapi dia juga tidak bisa memutuskan semua sendiri. Dia harus bicara pada Lyli.
*
*
Malam merayap datang. Hampir tengah malam, ketika teriakan Lyli memecah suasana hening dalam mobil Ian. Tidak tahu apa sebabnya, hingga Ian memacu mobilnya bak pembalap F1 di lintasan sirkuit balapan.
"Apa lagi sekarang?" tanya Lyli panik.
"Errrr...mereka salah satu musuhku." Balas Ian santai. Lyli mendelik mendengar jawaban enteng dari Ian. Kemarin perdagangan organ dalam, dan sekarang mereka dikejar musuh Ian. Apes Lyli hari ini. Harusnya dia tidak menerima tawaran tumpangan dari Ian tadi.
Ian kini jadi sasaran kejaran beberapa mobil yang mulai mengepung mobil pria itu. Mata Ian bergerak lincah ke kanan dan kiri. Memantau pergerakan mobil yang mengiringinya.
"Jalan paling cepat." Ucap Ian.
"Tracking...."
Lyli melonjak mendengar suara yang begitu dekat tapi tidak berwujud. "Siapa? Hantu ya?" tanya gadis itu takut.
"Astaga, aku bukan hantu. Namaku The Eye. Hai Ly....."
Lyli menatap tajam pada Ian yang hanya tersenyum. Seolah sudah biasa dengan suara itu.
"Dia asisten virtualku." Jelas Ian santai. Detik berikutnya Lyli menjerit, dan Ian mengumpat saat satu peluru menembak kaca bagian Lyli.
Ciiiiiittt, Ian menghentikan mobilnya. Lantas mengambil dua Glock dari dashboard depan Lyli. Mata Lyli membulat melihat dua pistol diisi peluru oleh Ian dengan cekatan.
"Title mafiaku mungkin sudah tobat. Tapi kemampuan menembakku belum tamat." Kata Ian sembari menatap Lyli yang panik sekaligus ketakutan.
"Showtime! The Eye, guide me."
***
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.
***