
Hari berganti, Ian perlahan membuka matanya. Bangun di sebuah tempat yang seketika membuat dua sudut bibirnya tertarik. Penjara, dia tidur di penjara semalam. Unbelieveble, tidak bisa dipercaya. Dia tidur lebih kurang hanya dua jam. Sebab dia sibuk berdebat dengan Max dan Riel tentang siapa yang akan mereka kambing hitamkan dalam urusan kali ini.
"Masukkan saja nama Handoyo. Si tukang makan duit rakyat."
"Kalau tukang makan duit rakyat jangan cuma Handoyo, yang lain masukin sekalian. Kan banyak tu."
Max dan Riel sibuk dengan nama Handoyo, seorang oknum di kantor pemerintah yang sudah lama melakukan korupsi.
"Alah, kalian selesaikan debat kalian, kalau sudah selesai, katakan padaku namanya. Nanti aku cari datanya." Suara The Eye menyela perdebatan Max dan Riel.
Ian tersenyum, tidak buruk juga tidur di penjara. Tapi dia kapok, tidak mau lagi jadi sasaran donor darah gratis untuk para nyamuk. Pria itu masih bisa berhubungan dengan dunia luar karena chip yang tertanam di punggung tangannya.
Pukul 8, pintu penjara di buka. Masuklah Leon yang terlihat bersemangat hari ini. "Enak tidak?" ledek Leon.
"Awas ya habis ini gue bakal kelonin adek lu sebagai gantinya." Kata Ian setengah mengancam.
Rahang Leon langsung mengeras mendengar perkataan Ian. "Lu sentuh adek gue, gue tembak pala lu duluan!"
"Ah elah, gue kelonin setelah gue nikahin. Sewot amat lu. Dengerin sampai habis kalau gue ngomong." Balas Ian enteng.
"Gue gak sudi punya adek ipar mantan napi."
"Berarti kalau nanti siang gue pulang, bebas tanpa tuduhan apa-apa. Lu restuin gue ama adek lu."
"Ogah ya. Sudah mandi sana." Usir Leon.
Sebuah paper bag Leon serahkan. Paper bag yang dibawakan oleh Max. Pria itu datang bersama Theo. Pengacara mereka. Setelah sarapan yang kembali membuat Leon dan Ian berdebat. Proses interograsi di mulai. Di dampingi Theo, Ian menjawab setiap pertanyaan dari penyidik dengan tenang.
"Kau yakin dia pelakunya?" tanya rekan Leon. Mereka melihat proses interograsi dari CCTV di ruang sebelah. Menurut analaisa rekan Leon, melihat gerak tubuh, cara menjawab dan ekspresi wajah. Sangat mustahil kalau Ian pelakunya.
"Hei, kau seperti baru pertama kali menghadapi model penjahat macam dia. Banyak penjahat seperti dia di luar sana. Mereka pandai membawa diri. Hingga kita bisa tertipu olehnya."
Teman Leon manggut-manggut setuju. Memang banyak yang seperti itu. Dua jam sesi interograsi itu berlangsung. Sampai seorang pria dari bagian analisa bukti menerobos masuk ke ruangan itu.
"Kapten, ada kesalahan." Ucap pria itu dengan nafas tersengal. Leon dan rekannya saling pandang.
Dua jam kemudian. Ian tertawa puas melihat wajah masam Leon. "Sudah ku bilang aku akan keluar dari sini, paling lambat sore ini. Ternyata kerja anak buahmu lebih cepat."
"Bagaimana kau memanipulasi kertas itu?" desis Leon geram. Bukti yang mereka dapatkan rupanya sebuah bukti pengecoh. Di mana kertas itu berisi tiga lembar yang ditumpuk. Lembar asli adalah kertas yang berada paling bawah. Dan lembar paling bawah berisi rincian aliran dana dari seorang pejabat bernama Handoyo.
__ADS_1
Setelah dilotre nama Handoyo yang keluar. Riel senang bukan kepalang. Dia geram sekali dengan orang itu. Karena menilap dana kesehatan sebuah desa. Dan dokumen permintaan organ dalam dengan nama dan stempel Ian adalah lapisan untuk mengecoh laporan aslinya. Tim berhasil menemukan laporan asli setelah menempatkan berkas itu di bawah sinar infra merah.
"Aku tidak memanipulasinya, tapi itulah kenyataannya. Aku pulang dulu. Ingat, sebulan lagi siapkan hatimu saat aku menikahi adikmu."
Ian dan Leon akan bicara formal jika ada orang lain. Setelah Theo membereskan urusan dengan pihak kepolisian, Ian bisa pulang dengan nama yang sudah dibersihkan. Pihak kepolisian juga mengadakan konferensi untuk menjelaskan kesalahan penangkapan mereka dan mengumumkan tersangka baru. Karena penyelidikan pada Handoyo membuktikan pria itu bersalah.
"Terima kasih atas bantuannya, Theo." Ian berujar sambil berjabat tangan dengan seorang pria beraksen bule dengan mata hazel yang mempesona. Theo Ivano tertawa mendengar ucapan Ian.
"Kau jangan membuat lawak denganku. Kapan-kapan traktir aku makan malam kalau kau mau berterima kasih padaku."
"Sebutkan waktu luangmu dan akan ku pesankan restaurant dengan menu rib eye steak terbaik di kota ini." Kekeh Ian sebelum keduanya masuk ke mobil masing-masing. Ian melambaikan tangannya pada Leon yang memasang wajah masamnya sambil melipat tangan.
"Akan kutunjukkan siapa diriku padamu, dalam waktu dekat ini." Sebuah pesan masuk ke ponsel Leon. Siapa lagi kalau bukan Ian pengirimnya.
"Awas kalau kau ingkar janji!" Ancam Leon balik.
Ian terkekeh di balik kemudinya. Pria itu berpisah jalan dengan Max dan Theo. Ian mempunyai sebuah janji dengan seseorang. Harusnya mereka bertemu kemarin, tapi karena Ian harus tidur di hotel prodeo, jadi mereka baru bisa bertemu sekarang.
"Lambat!" Satu suara ketus menyambut Ian saat pria itu turun dari mobilnya.
Ian tersenyum mendengar ocehan pria itu. Rio, pria itu yang mengajak Ian bertemu. Di sebuah padang rumput peternakan domba di pinggiran kota.
"Kau ceroboh kali ini." Ledek Rio.
"Sesekali berbuat salah, tidak masalah kan. Dari situlah kita tahu kekurangan kita ada di mana?"
Rio terdiam mendengar perkataan Ian. Seolah kalimat itu ditujukan untuknya. Detik berikutnya, hanya ada keheningan di antara keduanya. Sesekali terdengar suara domba mengembik. Domba-domba itu berkeliaran di sekitar Ian dan Rio tanpa takut. Sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran manusia.
"Soal flash disk itu...aku sudah melihatnya."
Ian terdiam, pria itu memasukkan dua tangan ke dalam coatnya. Sejenak menatap padang rumput yang terhampar luas di depannya.
"Lalu apa keputusanmu?"
Terdengar helaan nafas berat dari bibir Rio. Ada rasa sesak saat pria itu ingin mengakui kebenaran isi flash disk tersebut.
"Aku minta maaf." Rio berucap sambil menunduk. Meski detik berikutnya, pria itu mengangkat wajahnya kembali. Menatap wajah Ian yang juga sedang memandangnya.
"Aku tidak pernah merasa melakukan kesalahan apapun padamu." Ian membalas enteng.
__ADS_1
"Aku berusaha membalas dendam padamu. Dan aku melakukannya melalui Lyli." Rio pada akhirnya mengaku.
"Kau belum melakukannya kan?"
Rio terkekeh mendengar pertanyaan Ian.
"Aku hampir...." Suara Rio menghilang saat Ian mencekik leher pria itu. Terlihat wajah penuh kemarahan Ian.
"I said almost, not yet." (Aku bilang hampir, tapi belum)
"Hai kalian! Mau sampai kapan kalian bertengkar?!" Teriakan seorang pria membuat Ian melepaskan cekikannya pada Rio.
"Awas kau! Dia milikku. Hanya milikku!" Tegas Ian. Pria itu berjalan menjauhi Rio, menuju seorang pria paruh baya yang menunggu mereka di pintu sebuah pondok di tengah peternakan domba itu.
"Aku akan mundur jika aku melihatnya bahagia. Jadi terserah kau akan melakukan apa." Rio berjalan melewati Ian yang berhenti karena mendengar ucapan pria itu.
"Kau masih saja mengajakku bertengkar. Kalau begitu buat apa minta maaf?"
"Aawwww... Ian brengsekkk!!" Maki Rio karena Ian tiba-tiba memiting leher pria itu.
Satu salah paham selesai, meski di sisi lain, masih ada yang geram melihat Ian berhasil lolos dari jerat hukuman. Seharusnya pria itu tahu kalau Ian punya seribu satu macam cara, untuk bisa lepas dari jebakan sejenis itu. Itu terlalu mudah untuk Ian.
"Lalu apa kita akan mengambil langkah terakhir. Rio sudah menyatakan mundur."
"Aku pikir memang waktunya menggunakan kelemahannya sendiri untuk menghancurkannya."
"Bawa gadis itu kemari. Aku ingin lihat bagaimana dia akan memilih."
Pria itu menyeringai, sudah lama dia menunggu untuk bertatap muka langsung dengan Ian. Sepertinya hari itu akan datang sebentar lagi.
"Kau akan rasakan, bagaimana sakitnya kehilangan orang yang paling kau sayang. Sama sepertiku!" Kata pria itu sambil memeluk selembar foto seorang wanita cantik yang berdiri di sisi Ian.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****
__ADS_1