Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Kejutan


__ADS_3

Lyli mengerjapkan matanya pelan. Gadis itu menggerakkan tubuhnya perlahan. Namun susah, hingga dia menyadari kalau tangan dan kakinya diikat, juga mulutnya disumpal. Lyli melihat ke kiri, ke kanan. Dua bola mata Lyli membulat, melihat Lyn dan Faaz. Astaga, bagaimana bisa mereka berada di sini, dan siapa yang membawa mereka ke tempat ini.


Ditambah lagi dirinya masih mengenakan gaun pengantin. Kurang kerjaan saja penculiknya ini. Lyli mengumpat dalam hati, sembari berusaha membangunkan Lyn dan Faaz.


Beberapa kali memanggil. Akhirnya Lyn membuka mata. Wanita itu terkejut pada awalnya, tapi detik berikutnya raut tenang mulai terlihat di wajah ratu negera M tersebut.


"Bagaimana?" satu kode dari Lyli membuat Lyn paham. Keduanya melihat ke arah Faaz. Bocah itu matanya masih terpejam. Keduanya kembali saling pandang. Sampai tiba-tiba pintu terbuka, dan masuklah satu orang yang membuat mata Lyli terbelalak. Sekilas Lyli berpikir, seakan pernah melihat pria itu.


"Wah...wah...wah...lihatlah siapa yang ada di sini."


Pria itu menarik kasar lakban yang menutupi mulut Lyli. "Kenapa kau melakukan ini?" tanya Lyli dengan ekspresi wajah terkejut.


"Ahhh, Lyandra, aku ingat kita pernah bertemu." Pria itu menarik lakban di mulut Lyn. Wanita itu reflek memundurkan diri. Menghindari sentuhan dari orang itu.


"Ah, maaf Yang Mulia," pria itu membuat gesture hormat ala bangsawan kerajaan. Lyn seketika mengerutkan dahinya. Seolah pernah mengingat pria itu juga.


"Siapa kau?" Lyn bertanya. Lyn pernah melihat foto-foto anggota keluarga kerajaan M. Dan Lyn yakin kalau dia pernah melihat pria itu.


Pria itu mendekati Faaz, satu hal yang membuat Lyli dan Lyn cemas. "Jangan menyentuh putraku!" Lyn memberi peringatan keras pada pria itu.


Bukannya berhenti, pria itu malah mencengkeram rambut Faaz. Namun bocah laki-laki itu tetap tidak mau bangun. "Kau apakan putraku?!" Lyn berteriak cemas. Pria itu menyeringai, melihat kecemasan Lyn.


"Apa yang akan terjadi jika putra mahkota kerajaan M ditemukan tewas bersama ummi dan ibunya."


"Apa kau pikir akan semudah itu melakukannya." Lyli yakin kalau ini tidak akan lama. The Eye pasti sudah bergerak melacak keberadaan dirinya dan Lyn. Lyli yakin kalau Fao tidak akan tinggal diam begitu tahu Lyn dan Faaz tidak ada di titik penjemputan.


"Mereka tidak akan bisa menemukan kita. Tempat ini, tempat di mana tidak ada satu sistem peretas yang bisa menembusnya."

__ADS_1


Lyli dan Lyn hampir meledakkan tawa, melihat betapa percaya dirinya orang yang sudah berhasil membawa mereka. "Kau belum tahu siapa yang kau hadapi."


Lyn berucap penuh penekanan. Bisa dipastikan jika saat ini, Mark sudah turun langsung mencari dirinya dan putranya. Belum lagi Ian yang segera melakukan pencarian untuk menemukan Lyli. Plus Fao yang jelas akan melakukan usaha pencarian tercepat yang dia bisa.


"Aku heran, kali ini apa alasanmu menculik kami. Balas dendam lagi?" Lyli setengah bosan dengan drama penculikan. Dua kali mengalami penculikan membuat gadis itu sudah kebal.


"Tidak juga, hanya ingin memberikan surprise party untuk kalian."


Lampu seketika menyala dengan semua orang bertepuk tangan diiringi wajah-wajah bahagia yang bermunculan di depan mereka. Lyn dan Lyli melongo, sementara dua orang nampak berjalan ke arah mereka sambil membawa sebuket mawar merah. Sedang Aulia langsung menggendong Faaz yang rupanya benar-benar berada dalam pengaruh obat bius.



Kredit Pinterest.com


Mark Victor Emmanuel,


"Gak lucu tahu!" marah Lyli tanpa basa basi. Istri Ian yang masih gadis itu hanya teringat bagaimana nasib Faaz dan Lyn jika sampai terjadi apa-apa pada keduanya. Dirinya hanya orang biasa, kalau dia mati paling banter cuma Ian dan Leon yang kehilangan. Kematiannya tidak akan berpengaruh pada apapun.


Namun jika Lyn atau Faaz yang terluka. Bisa terjadi kekacauan di negara M. "Astaga Ly, itu idenya dia." Ian melirik ke arah Mark yang sedang membujuk Lyn yang juga kesal pada sang suami.


"Maaf, sayang. Ini hadiah dari dia." Sekali lagi Ian mencoba mencari alasan, menghindari amukan sang istri.


Mark terkekeh mendengar rengekan Ian. Benar kata Lyn, Ian yang sekarang sungguh berbeda dengan K yang dulu. Pria itu mendekat ke arah Lyli.


"Aku minta maaf, jika caraku sedikit tidak biasa...."


"Apa Anda tidak berpikir soal keselamatan Faaz, bagaimana jika Faaz terluka, bagaimana jika Lyn terluka." Raungan Lyn memotong ucapan Mark. Meski agak terkejut, tapi Mark tersenyum setelahnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan putra dan istriku." Kata Mark singkat.

__ADS_1


Giliran Lyli yang tertegun. Dia tidak menyadari kalau ucapannya membuat semua orang mengulum senyum. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan Faaz. Sepertinya panggilan ibu memang cocok untukmu." Kali ini perkataan Lyn membuat Lyli melongo. Detik berikutnya, istri Ian itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah.


Tiba-tiba saja terjadi guncangan. Para pria langsung mengamankan wanita mereka masing-masing. Rupanya di tempat itu semua orang berkumpul. Ada Leon dan Mada, Rio dengan Thania. Mark dengan Lyn, Hans dengan Ve, Fao dan Rose. Albert dan Serena. Dan si jomblo abadi Sebastian serta Riel.


"Berkali-kali kondangan tetep saja calon istri belum kelihatan." Bisik Riel pada Sebastian. Teman seperjuangan Albert itu mengangguk sendu. Keduanya jelas merasa iri dengan teman-teman mereka yang sudah punya pasangan.


"Kalau aku ketemu cewek cantik malam ini, gue nikahin besok."


Riel berucap asal, dia pikir mana mungkin ada wanita cantik di kapal pesiar yang khusus Mark pakai untuk menjemput sang istri sekaligus merayakan pernikahan Ian dan Lyli.


Ya, ternyata mereka sedang berada di sebuah kapal pesiar milik Mark. Sebuah kapal yang sudah dihias dengan sebuah pelaminan indah. Lyli seketika melongo, saat tahu kalau dirinya ada di sebuah kapal pesiar.



Kredit Pinterest.com.


"Kau tidak bercanda kan?" Ian menggeleng. Pria itu lantas membawa Lyli ke sisi kapal. Istri Ian itu seketika memekik girang. Dia benar-benar berada di tengah-tengah samudera.


"Kejutan untukmu. Tidakkan ini indah?" Lyli mengangguk antusias. Gadis itu baru tahu kalau Ian punya sisi yang romantis juga. Setelahnya Lyli memejamkan mata, saat Ian mencium bibirnya, kali ini tidak ada keraguan dalam ciuman Ian yang Ian lakukan. Mengingat keduanya sudah resmi menikah.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2