Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Hadiah Pertemuan


__ADS_3

Ian membeku di tempatnya berdiri, ketika seorang wanita berlari ke arahnya, lantas memeluk tubuhnya. Tangan Ian bergetar, ingin sekali membalas pelukan wanita yang telah menangis di dadanya.


"Kak....."


Suara itu sontak membawa kesadaran Ian kembali. Rea, sang adik tengah memeluknya. Bisa pria itu rasakan, rasa rindu yang Rea alirkan melalui pelukan dan juga air mata yang mengalir di pipi Rea.


Di depan sana, tampak Lyli yang ternganga melihat pemandangan itu. Rea adik Ian. Dalam gandengan Lyli ada Abian yang terlihat tidak paham dengan apa yang terjadi.


"Kenapa Kakak tidak mau menemui Rea kalau sudah pulang?" rengek istri Andra tersebut.


Pada akhirnya, dua sudut bibir Ian tertarik, membentuk sebuah lengkungan senyum. Saat mata pria itu beradu pandang dengan milik Lyli. Perlahan, dua tangan Ian terangkat membalas pelukan Rea.


"Maaf...."


Satu kata dan tangis Rea seketika semakin keras.


"Astaga, ntar kakak dikira nganu-in istri orang, Re," kata Ian ketika sang adik justru semakin menggila tangisannya.


"Siapa suruh, sudah pulang gak ngasih kabar."


Protes Rea membuat Ian kicep. Sungguh dia tidak punya alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rea. Sebab semua akan terdengar mengada-ngada di telinga Rea.


"Jadi kenapa tidak mau menemuiku?" tanya Rea sambil melipat tangan di depan dada. Mereka sudah ada di ruang kerja Ian. Ian dan Rea duduk saling berhadapan di sofa double. Sementara Andra, Abian dan Lyli duduk di sofa lain. Lyli dengan telaten membantu Abian menyantap sandwich sehatnya.


"Kira-kira mereka lama gak ya baikannya?" lirih Lyli setengah berbisik.


"Gak tahu ya. Rea sudah lama menunggu kakaknya pulang. Tapi kakaknya emang njelehi. Kalau dia sudah ada di sini sejak setahun lalu kenapa dia gak mau nemuin adiknya. Aneh banget gak sih." Gerutu Andra. Sementara Abian sesekali tersenyum mendengar obrolan orang dewasa yang terdengar aneh di telinganya.


"Lucu ya Bi. Lihat mama sama uncle berantem?" kekeh Lyli yang disambut tawa Abian.


Di depan mereka debat seru kakak adik itu masih terus berlangsung, dengan Ian yang mulai kelabakan menghadapi sikap keras kepala sang adik.


"Gak doyan tas branded. Bejibun no di rumah. Gak pernah dipake." Kata Rea kesal ketika Ian berusaha menyogoknya dengan tas branded keluaran terbaru.


"Royal amat suamimu." Balas Ian.


"Idih sapa juga yang beliin. Hadiah semua tu." Sahut Andra cepat.


Tawa Ian meledak. Pria itu meledek Andra yang tidak pernah membelikan barang bagus untuk sang adik.


"Enak saja dibilang pelit. La wong dah banyak yang ngasih ngapain juga beli. Lagian mau dipake ke mana juga. Orang Rea jadi guru Paud sama nyambi kerjaan kantor." Sangkal Andra cepat.

__ADS_1


Abian semakin melebarkan tawa melihat mereka semua berdebat.


"Aunty ndak itut betengkal?" Giliran Lyli yang ngakak mendengar suara cedal Abian.


"Nggak ah Bi, dah rame. Kita nonton aja." Jawab Lyli sambil mengulurkan air minum untuk Abian yang sudah menghabiskan sandwichnya.


"So, dia uncle Abian yang lain, sepelti uncle Nicky, uncle Malk, uncle Blyan, uncle Shane? Uncle Alex?" tanya Abian. Rupanya anak itu belum bisa mengucap huruf "R"


"Ya begitulah." Andra menjawab pertanyaan sang putra sambil mengelus puncak kepala Abian. Putra yang menjadi anugerah terindah bagi Andra, setelah sang istri tentunya.



Andra dan Rea


Kita recall sebentar ke Andra dan Rea ya guys, dari judul karya Andra dan Rea Let The Story Begin


Setelah acara bujuk membujuk yang berjalan lumayan alot, seperti steak yang dimasak setengah matang. Akhirnya Rea bersedia menerima maaf Ian. Dengan syarat kalau akhir pekan ini Ian dan Lyli harus datang untuk makan malam ke kediaman Sky.


"Kenapa aku harus ikut? Itu kan acara keluarga kalian." Protes Lyli pada Andra.


"Ikut saja, nanti banyak teman kami yang datang. Kita sering ngumpul kalau weekend." Andra menerangkan.


Lyli menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kok vibes-nya seperti mau ketemu keluarga besar calon suami." Kekeh Lyli dalam hati.


"Siapa tu Kai sama Kia?" tanya Lyli.


"Anak kakak Rea, Gina dan Nicky." Jawab Andra, mulai mendudukkan Abian yang matanya sudah setengah terpejam.


Lambaian tangan dan senyum Rea menjadi tanda perpisahan ketika sepasang suami istri itu memutuskan untuk pulang. Sebuah kecupan hangat Ian tinggalkan pada Abian yang sudah sudah tidur beralaskan bahu lebar sang ayah.


"Seringlah datang ke rumah. Daripada cuma berduaan sama Max. Belok nanti."


Ian mendelik mendengar ledekan sang adik. "Yaelah, Ly. Dia ngeledek. Belum tahu ya kalau kita pernah...aargghhh..." Ian berjengit saat Lyli mencubit lengannya.


"Sembarangan kalau ngomong. Kita belum pernah ngapa-ngapain kok." Lyli buru-buru memberi penjelasan.


"Makanya buruan nikah lagi. Dah tua juga." Sungut Andra. Pria itu berjalan memutari mobil lalu masuk ke dalam. Ian langsung berpelukan dengan Jack begitu pria itu keluar dari mobilnya.


"Jaga mereka untukku." Pesan Ian lirih.


"Sudah tugasku, Bro." Balas Jack cepat.

__ADS_1


Jika Ian masih sibuk berdebat dengan Rea lagi. Lyli justru sibuk mencerna perkataan Andra. Menikah lagi? Apa Ian seorang duda? Apa sebelum ini Ian pernah menikah? Kalau iya kenapa mereka berpisah? Pertanyaan itu berputar di kepala Lyli hingga beberapa waktu berlalu. Sampai suara Rea membuyarkan lamunan Lyli.


Wanita itu akhirnya berpamitan setelah memeluk Lyli. Juga memeluk sayang sang kakak.


"Aku tunggu akhir pekan ini. Awas kalau tidak datang. Kubakar rumah sakitmu." Ancam Rea.


"Astaga, An. Kamu ajarin apa sih ke Rea."


"Nggak ada. Wajarlah dia begitu, kan dia adikmu. Adik ketua mafia." Kalimat terakhir diucapkan Andra tanpa suara.


Ian seketika mengumpat adik iparnya. Saat mobil itu akan melaju, sebuah peringatan dari The Eye membuat Ian panik. Pria itu lantas berteriak pada Jack. Minta pria itu keluar dari mobil, sedang Ian menarik Rea dan Andra keluar dari kursi belakang mereka.


"Ada apa?" tanya Rea cemas. Berlari menjauhi mobil dengan Andra juga melakukan hal sama.


"Boomm!!!"


Duaaaarrrr


Semua orang berteriak kaget. Sementara Lyli malah mematung di tempatnya berdiri. Jarak Lyli cukup dekat dengan mobil yang meledak itu.


"Second explosion. Lyli dalam bahaya!"


Ian segera berlari ke arah Lyli. Menyambar tubuh gadis itu, membawanya berguling-guling di lantai rumah sakit.


Duaaaarrr


Ledakan kedua terjadi lebih dahsyat, campuran api dengan bahan bakar. Ian menyembunyikan kepala Lyli dalam dekapannya. Dalam keadaan itu terdengar sayup-sayup tangisan Abian yang tentu saja ketakutan dengan kejadian itu.


"Detonator, arah jam 3 jarak 100 meter."


"Max!"


Ian berteriak marah. Di ujung sana, tim Max mulai bergerak. Memburu detonator yang bergerak menjauh setelah ledakan kedua terjadi.


Abian menangis histeris dalam gendongan Andra. Sementara Rea terpaksa di papah Jack. Dengan Lyli hampir pingsan dalam pelukan Ian.


"Hadiah kecil untuk pertemuan kalian."


****


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.


*****


__ADS_2