
Lyli berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Gusar, itulah perasaan yang tengah gadis itu rasa. Dia teringat ucapan Rio tadi siang. Lyli sibuk mengumpat pria itu sejak tadi.
"Diajak putus gak mau. Tapi nyuruh aku jalan sama Ian. Dia ini gila apa edan sih." Maki Lyli terus menerus. Umpatan Lyli terhenti ketika satu ketukan terdengar di pintu kamar.
"Astaga, Ly. Pakai baju napa?" giliran Leon yang memprotes pakaian Lyli. Gadis itu manyun sambil mengambil sweater oversize, lalu memakainya.
"Sudah." Info Lyli dengan wajah kesal. Sang kakak mengerutkan dahinya melihat sikap Lyli.
"Kenapa kamu?" kepo Leon. Lyli menarik nafasnya, lantas bercerita soal Rio. Lyli begitu menggebu-gebu saat bercerita soal Rio yang enggan diajak putus, tapi tidak marah saat dirinya menjalin kasih dengan Ian.
"Menurut kakak bagaimana?" Lyli minta pendapat sang kakak. Giliran Leon yang menarik nafas. Menurut pandangan Leon, Rio hanya ingin melihat Lyli bahagia dengan orang yang Lyli cinta. Namun kalau Lyli tidak menemukan orang itu, Rio siap jadi cadangan.
"Ada pria yang seperti itu, Ly. Dia cuma pengen kamu bahagia itu saja."
"Tapi kan aku terkesan menyakitinya, Kak. Aku selingkuh dengan Ian. Jadinya aku yang jahat."
"Kan dia sudah bilang seperti itu. Ya berarti dia siap dengan resikonya." Jelas Leon santai.
Lyli terdiam. Sesaat berpikir. Kedua kakak beradik itu tidak ada yang berbicara untuk beberapa waktu.
"Sudah? Sekarang giliran, Kakak. Ada yang ingin kakak bicarakan." Leon berubah ke mode serius.
Lyli pun ikut serius. "Apa pendapatmu jika kakak menikah dengan Mada?"
Byuurrrr, Lyli menyemburkan air yang baru saja dia minum. Selanjutnya gadis itu juga tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Kakak bercandanya kelewatan." Protes Lyli di sela batuknya. Gadis itu berkali-kali menyeka wajah dan lehernya dengan tisu.
"Aku serius, Ly." Leon lantas menceritakan soal kejadian Mada yang didatangi oleh orang yang pernah menyekapnya. Namun Mada belum bisa mengungkapkan siapa orangnya. Mada mengalami trauma. Pernikahan dlakukan untuk melindungi Mada.
"Lalu solusinya lebih baik jika kalian menikah?" tanya Lyli. Leon mengangguk ragu. Keduanya kembali terdiam.
"Kakak ada rasa sama Mada?" todong Lyli tiba-tiba. Leon menegakkan duduknya. Tanda dia cukup terkejut dengan pertanyaan Lyli.
"Gak tahu, tapi dia cantik sih." Kata Leon pelan.
"Seksi lagi." Tambah Lyli. Leon mendelik mendengar jawaban sang adik.
__ADS_1
"Kakak minta pendapatmu. Bukan penilaianmu soal Mada. Kamu tahu kan kakak hanya mau nikah sekali seumur hidup. No cerai-cerai. No pisah-pisah."
Lyli mengangguk paham. Gadis itu tahu keinginan Leon soal menikah. Dia sendiri juga setuju dengan pandangan sang kakak soal pernikahan. Sekali seumur hidup.
"Oke, kalau Kakak mau. Apa Mada mau?" ledek Lyli.
"Masak sih dia bisa menolak pesona kakakmu ini. Aku kan tampan, seksi, perkasa...."
"Stop...stop....promosi itu gak mempan buat aku. Perkasa....perkasa belum terbukti juga, jadi jangan koar-koar dulu," potong Lyli cepat.
Leon melotot mendengar perkataan santai Lyli.
"Kenapa jadi bahas itu sih? Intinya kamu ngasih izin gak, aku nikah sama Mada," tanya Leon.
"Ya terserah Kakak. Aku mah manut. Sepertinya dia oke jadi kakak ipar. Tampangnya ramah, gak judes."
Leon terdiam mendengar jawaban Lyli. "Oh iya Kak. Kemarin Ian bilang, kalau dia ingin menikah akhir bulan ini."
Uhuuuuk, uhuukkk.....
Leon tersedak ludahnya sendiri. "Dirut kurang ajar!" maki Leon. Pria itu jadi teringat ketika Ian mengatakan ingin menikahi sang adik bulan depan.
Di sisi lain, tampak Ian yang berada di ruang bawah tanahnya. Pria itu tengah mencari tahu soal Mada. Mungkin pria itu teringat akan nama itu. Ian menggunakan kemampuan The Eye untuk meretas masuk data kependudukan milik departemen dalam negeri.
"Kau benar-benar menjadikanku penjahat Ian," gerutu The Eya sejak tadi. Padahal Ian tengah melakukan coding untuk menembus firewall terakhir departement yang terkenal cukup rahasia itu.
"Kan aku yang bekerja. Kamu tinggal masuk," kata Ian santai.
Terdengar cebikan kesal dari asisten virtual Ian tersebut. Max dan Riel hanya mengulum senyum mendengar bos dan asisten virtual itu berkelahi.
"Kalian ini seperti pasutri kurang jatah saja. Gelud aja kerjaannya," kekeh Riel.
"Bicara lagi, aku sleding kau!" ancam Ian tanpa menoleh pada Riel. Max dan Riel terkikik tertahan. Keduanya kembali sibuk dengan tugas masing-masing.
"Dapat!" kata Ian senang. Detik berikutnya, pria itu mengerutkan dahinya.
"Kenapa nama belakang mereka sama?" gumam Ian lirih. Selanjutnya pria itu kembali menggerakkan jarinya di atas keyboard. Kembali melakukan coding dan deretan password Ian ketikkan. Percobaan pertama gagal. Pria itu menggelengkan kepalanya. Setelah itu, Ian kembali meretas masuk ke sebuah data yang terkunci. Setelah The Eye menemukan peluang.
__ADS_1
"Akses ditolak!"
"Damnn it!" Ian mengumpat kesal. Pria itu menggigit kukunya sendiri, persis seperti beberapa perempuan kalau sedang gugup.
"Siapa sih?" tanya Riel kepo.
"Sheria Amada," jawab Ian. Pria itu kembali memicingkan matanya, menatap foto lama milik Mada.
Kredit Pinterest.com
Sheria Amada
"Apa dia putri sulung keluarga Airlangga yang hilang itu?" gumam Ian lirih.
Max dan Riel mulai tertarik dengan ucapan Ian. Keluarga Airlangga, sebuah keluarga yang cukup terkenal dengan bisnis perhotelan mereka di masa lalu. Sampai kini, usaha mereka masih berjalan. Namun tidak tahu siapa pemegang pucuk kepemimpinan tertinggi saat ini.
"Airlangga punya dua anaklah setahuku. Satu lagi pria. Tapi isunya dia hilang sepuluh tahun lalu. Tidak ada jejak yang ditinggalkan. Juga tidak ketemu sampai sekarang. Ini aneh kan," Riel ikut berpendapat.
"Sheria sendiri dikabarkan tinggal di luar negeri saat ini," tambah Max.
"Tapi dia di sini. Tidak ada data ke luar negeri. Lihat," Ian menunjukkan data dari departemen perhubungan.
"Lagi satu, lihatlah ini." Ian memperlihatkan dua foto. Menyandingkannya. Lantas uji DNA virtual di lakukan. "99% Match."
"Tidak mungkin!" gumam Max tanpa sadar.
"Kau serius, Ian?" reaksi Riel semakin mengada-ada.
"Tentu saja aku serius!" potong Ian cepat.
"Kalau begitu mereka kakak adik?" Max mengambil kesimpulan.
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.
****