Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Lebay


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Mario Erlan


X melompat turun dari lantai dua, menghindari tembakan dari Ian. Dua pria itu kembali saling pandang. Dua kali bertemu, Ian dan X kembali dipertemukan dalam keadaan emosi. Kali ini Ian yang terlihat marah. Sedang X terlihat tenang. Pria itu seolah tidak masalah beberapa anak buahnya mati begitu saja di tangan Ian.


"Kenapa kau menyerangnya?" tanya Ian marah.


"Sudah kukatakan kalau aku tidak menyerang siapa-siapa hari ini. Tapi ucapanmu barusan memberiku ide. Boleh juga kalau mereka jadi sasaran teror selanjutnya."


"Kuraaanng ajar!" Ian menyerang X dengan sengit. Emosi Ian yang meluap membuat tenaga Ian naik dua kali lipat dari biasanya. Tendangan dan pukulan yang Ian hasilkan terasa lebih bertenaga saat mengenai tubuh X. Beberapa kali X mengerang kala serangan Ian bersarang di beberapa titik vital tubuhnya


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah menyentuh mereka apalagi Lyli!" Kata Ian penuh penekanan.


X mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Seingai tipis muncul di bibir pria itu. Lyli, satu nama yang membuat Ian selalu kelabakan. Itu akan jadi kelemahan terbesar bagi Ian.


"Kalau aku tidak mau?" tantang X.


"Maka aku tidak akan segan lagi untuk menghabisimu, Rio."


X tersenyum lebar mendengar Ian menyebut nama aslinya. Ya, X adalah Mario Erlan, kekasih Lyli saat ini.


"Kau pikir aku takut dengan gertakanmu?" sahut Rio lantang.


Ian tersenyum meremehkan. Pria di hadapannya ini telah termakan oleh dendam yang seharusnya tidak Rio miliki. Kesalahpahaman mungkin saja sudah terjadi atau Rio tengah dimanfaatkan seseorang. Aktor sesungguhnya yang menargetkan dirinya. Tapi ingin menghancurkannya lewat tangan orang lain.


"Bagus kalau kau tidak takut dengan ancamanku. Seharusnya kau tidak perlu ragu untuk mempercayai ini." Ian melemparkan sebuah flash disk kecil pada Rio. Pria itu kelabakan saat menangkap benda mini tersebut.


"Aku tidak akan mundur soal Lyli."


Ian menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Rio. "Jika kau mencintainya, aku tidak masalah. Tapi jika kau hanya menggunakannya untuk membalas sakit hatimu padaku....dooorrrr..."

__ADS_1


Rio meringis kala sebutir peluru menyerempet lengannya. Dia tahu Ian sengaja melakukannya. Rio bergeming melihat Ian yang berlalu pergi dari hadapannya.


"Itu untuk hari itu dan hari ini. Kita impas. Jangan pernah menyentuh keluargaku lagi atau jantungmu yang akan kuledakkan lain kali!"


"Kau hanya berani menggertak! Aku tidak takut! Asal kau tahu, bukan aku yang meletakkan bom di mobil Andra Sky! Bukan aku!" Raung Rio sembari mengepalkan tangan di mana flash disk kecil itu berada. Ian tahu dirinya yang menembak lengan pria itu malam itu.


Ian menulikan telinganya pada teriakan Rio. Pria itu segera melajukan Belalangnya secepat yang dia bisa.


"Bagaimana di sana?"


"Mereka menyerang Lyli." Laporan The Eye membuat Ian memutar gas motornya sedalam yang dia bisa.


"Pasien yang dioperasi Lyli kemarin meninggal, dan pihak keluarga menyalahkan Lyli atas kematian pasien itu."


Ian menggeram marah. Bukankah dia sudah menandatangani surat pertanggungjawabannya. Kenapa mereka masih menyerang Lyli? Ian semakin cepat memacu motornya membelah kegelapan langit malam.


*


*


Lyli sendiri hanya bisa diam membisu, dia terlalu shock dengan kematian pasien yang beberapa bulan ini sangat dekat dengannya.


"Anakku banyak, ada empat. Tapi tak seorangpun mau mengajakku bicara. Mereka hanya sibuk mencari uang. Kata mereka itu untuk membahagiakanku. Kau tahu, aku tidak perlu uang mereka. Aku sudah kaya. Yang aku butuhkan adalah waktu bersama mereka sebelum aku pergi. Aku rindu rumah yang ramai seperti saat mereka kecil."


Air mata Lyli mengalir, dia teringat salah satu curhatan si pasien pada Lyli, tiap gadis itu datang berkunjung hampir setiap hari, kalau Lyli punya waktu luang.


"Dokter, Nyonya Lalita meninggal. Pembuluh darahnya pecah, dia mengalami pendarahan internal dan kami terlambat menolongnya."


Tubuh Lyli merosot ke lantai, gadis itu menangis terisak. Ditengah toyoran di kepala dan tudingan jari yang mengarah ke pada Lyli.


Tangis Lyli semakin pilu, pasalnya tiga jam sebelum kematian Lalita, Lyli sudah berpesan pada dokter yang berjaga. Mereka harus memantau tekanan darah Lalita. Karena kemungkinan tekanan darah wanita itu akan naik drastis, imbas dari operasi kemarin.


Lyli masuk ke ruang operasi dan dua setengah jam kemudian dia keluar dari ruang operasi, dengan berita itu serasa menghantam jantung Lyli.

__ADS_1


"Ini salahku. Harusnya aku menungguinya." Lara hati Lyli kian dalam saat penyebab kematian Lalita persis seperti prediksinya. Tekanan darah melonjak drastis. Dan tim dikter terlambat menurunkannya. Akibatnya pembuluh darah Lalita pecah dan pendarahan organ internal tidak dapat dihindari. Bahkan tranfusi darah pun tidak membantu.


Lyli memeluk lututnya sendiri, tangisnya teredam. Di tengah pekik caci dan maki anak-anak Lalita. Bahkan ketika satu dorongan di kepala Lyli membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Tidak ada seorang pun yang membantu. Tim dokter dan perawat hanya memandang Lyli dengan wajah bersalah. Mereka yang membuat Lyli menanggung amukan dari keluarga Lalita.


Belum cukup mendorong Lyli ke lantai, seorang wanita yang Lyli tahu sebagai anak kedua Lalita, menarik tubuh Lyli berdiri. Tangan wanita itu siap melayangkan tamparan pada Lyli, kalau saja Ian tidak menahannya.


Wajah seram Ian membuat semua orang menciut nyalinya. Terutama anak-anak Lalita. "Berani kalian menganiaya di rumah sakitku!" Ian berteriak keras. Pria itu jelas marah melihat kondisi Lyli yang kini berada di balik punggungnya. Gadis itu masih terisak lirih.


"Dia membunuh ibu kami!" teriak seorang dari mereka.


"Siapa yang kalian tuduh membunuh? Dia? Orang yang sukses mengangkat penyakit Lalita, ibu kalian? Bahkan dia tidak ada di sini ketika ibu kalian meninggal, sama seperti kalian!"


Bentak Ian keras. Anak-anak Lalita saling pandang. Mereka memang tidak ada di sana saat sang ibu meninggal. Mereka datang setelah diberitahu kalau ibu mereka sudah meninggal. Saat itulah mereka melihat Lyli yang baru keluar dari ruangan sang ibu. Reflek mereka menyerang Lyli karena tahu Lyli yang merawat dan mengoperasi ibu mereka.


Diam menyelimuti lorong di depan kamar Lalita. "Kalian tahu jelas penyebab kematian Lalita. Dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan dokter Lyli. Dan asal kalian tahu, bukan dokter Lyli penanggungjawab operasi itu. Tapi aku! Kalian ingin marah? Marahlah padaku. Dokter Lyli adalah stafku dan aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan mental stafku."


"Kami akan mengajukan gugatan ke pengadilan. Kau harus bertanggung jawab atas kematian ibu kami." Teriak seorang anak Lalita yang berprofesi sebagai pengacara. Suara itu segera mendapat dukungan dari anak Lalita yang lain.


"Silahkan! Kau pikir aku takut denganmu. Tapi jangan salahkan aku, jika kau harus berhadapan dengan Theo Ivano." Ian tersenyum smirk.


Theo Ivano, pengacara paling sukses saat ini. Memakai jasa Theo berarti kemungkinanmu memenangkan persidangan adalah 100%. Anak Lalita yang bekerja sebagai pengacara langsung mengkeret nyalinya. Berapa kali dia kalah dari Theo Ivano.


Saat kesunyian lagi-lagi menyelimuti ruangan itu. Teriakan seorang perawat membuyarkannya. "Aku menemukannya. Aku menemukannya." Teriak perawat itu sambil menyerahkan sebuah surat pada Ian. Pria itu membukanya, lantas membacanya sekilas. Tak berapa lama, Ian meminta perawat tadi memberikan surat itu pada anak-anak Lalita. Sementara dia membawa Lyli yang setengah sadar pergi dari sana.


"Urus jenazah Lalita. Lakukan sesuai keyakinannya." Perawat mengangguk paham dengan perintah Ian. Saat Ian berlalu dari sana, terdengar suara tangisan dari anak-anak Lalita.


"Cih, lebay!" Maki Ian.


****


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2