Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Jerat Hukum


__ADS_3

Ian mengangguk pada anak-anak Lalita. Ia dan Lyli datang ke pemakaman Lalita. Setelah surat dari Lalita ditemukan dan dibaca oleh anak-anak Lalita, mereka menyadari kalau semua sudah menjadi keinginan sang ibu. Dalam suratnya, Lalita menuliskan kalau anak-anaknya tidak boleh menyalahkan rumah sakit terutama Lyli, bahkan kalau dia meninggal sekalipun.


Anak-anak Lalita yang tadinya akan menuntut rumah sakit milik Ian, urung melakukannya. Pada akhirnya mereka meminta maaf pada pihak rumah sakit, terutama Ian dan Lyli.


Lyli masih menangis teredam ketika berada di mobil Ian. Mereka masih berada di area pemakaman. Lyli ingin ikut menabur bunga di makam Lalita.


"Sudahlah, setidaknya dia tidak lagi merasakan sakit." Kata Ian. Lyli mendengus geram mendengar perkataan Ian yang menurutnya tidak paham dengan perasaannya.


"Idih, gak peka banget sih." Gerutu Lyli, mengambil tisu lantas menyusut air matanya. Giliran Ian yang tertegun. Dari kemarin dia disebut tidak peka. Tidak peka yang model bagaimana sih.


"Nggak peka. Nggak peka. Peka yang bagaimana? Seperti ini......" Ian memeluk Lyli, pelukan Ian yang tiba-tiba membuat Lyli terkejut. Meski begitu, Lyli hanya terdiam. Menikmati pelukan Ian yang seketika menenangkan hatinya yang gundah.


"Begini bisa disebut peka belum?" tanya Ian di bahu Lyli. Gadis itu terdiam. Begitu terhanyut dalam dekapan pria yang pernah menolaknya sepuluh tahun lalu.


"Malah diam...atau mau tambah seperti kemarin."


Lyli mengerutkan dahinya. Kemarin? Semalam? Memang mereka melakukan apa kemarin. Ian terkekeh melihat ekspresi bingung Lyli. Semalam setelah berciuman cukup lama, Lyli tertidur lagi dalam pelukan Ian.


"Kemarin ngapain? Alah sudahlah. Jangan aneh-aneh. Aku berasa selingkuh tahu." Sungut Lyli. Gadis itu sebenarnya merasa bersalah pada Rio. Berapa kali dia berciuman dengan Ian. Dalam berbagai kesempatan gadis itu juga takhluk dalam pelukan Ian.


"Putus aja kalau begitu." Usul Ian enteng.


"Enak banget suruh putus."


"Apalagi yang kamu pertahankan. Jelas-jelas kamu gak cinta sama si Rio. Masih juga mau maksain diri buat pacaran."


Lyli tertegun. Apa yang Ian katakan ada benarnya. Lyli merasa hambar pacaran dengan Rio. Perlakuan Rio dan rupa tampan pria itu tidak mampu membuat Lyli dag... dig.... dug, duaarr. Atau Lyli belum pernah merasakan jantungnya marathon dari kota A ke kota Z.

__ADS_1


Beda dengan saat bersama Ian. Ian, si brengsek, begitu Leon menyebutnya, mampu membuat Lyli mabuk kepayang. Suka lupa dengan keadaan sekitarnya. Lyli merasa aman, nyaman sekaligus dicintai, dihargai, diperhatikan saat bersama Ian. Meski terkadang sentuhan pria itu bisa jadi bumerang untuk Lyli. Beberapa kali Lyli hampir lepas kendali saat bertukar saliva dengan Ian. Pria itu pandai sekali memancing hasrat Lyli.


"Aku gak bisa putus darinya." Lirih Lyli.


"Maksudmu bagaimana? Putus tinggal putus. Kalian bisa ambil jalan masing-masing buat nyari pasangan masing-masing. Eitt, kamu sudah ada aku. Nggak boleh nyari yang lain." Kata Ian penuh penekanan.


Lyli menatap wajah tampan Ian. Haisshh, kau pandangi berapa kali pun. Ian memang tampan paripurna. Lyli mengumpat dalam hati. Dari dulu selalu saja kalah pada pesona pria bernama Ian ini.


"Ada hal yang membuatku tidak bisa memutuskan Rio begitu saja." Lyli menjawab sendu. Ada beban berat yamg terlihat di wajah Lyli. Namun gadis itu tidak ingin menceritakannya pada Ian.


Di tempat lain, Leon tampak mengantarkan Mada ke sebuah apartement. Tempat itu miliknya. Jatah mess yang bisa dia pakai. Namun mengingat Leon masih memiliki Lyli, jadi mess bagiannya dibiarkan kosong. Pria itu memilih tinggal bersama Lyli. Mada diizinkan pulang setelah depresinya berkurang dan wanita itu mulai membuka diri. Mulai bisa berkomunikasi dengan orang lain.


"Tinggalah di sini. Di sini adalah teman-temanku. Mereka polisi. Kalau siang mereka bertugas, kamu bisa mengobrol dengan istri mereka. Mereka punya banyak kegiatan di lantai bawah. Di aula."


Mada memandang wajah Leon, ragu. Mada jelas masih takut untuk tinggal sendiri. Meski Leon menempatkannya di lingkungan anggota polisi.


"Jangan khawatir. Kamu punya banyak teman di sini. Aku sudah memberitahu mereka dan mereka menyukai teman baru. Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter Elsa kalau kamu punya masalah. Dia psikiater di lingkungan kami."


Senyum Mada mengembang mendengar perkataan Leon. Meski Mada belum mengenal mereka semua. Tapi wanita itu berjanji akan membuka diri. Berusaha lebih baik agar dia bisa sembuh dari depresi dan gangguan mental yang dia alami.


"Bisa tidak kamu menginap...eh menungguku tidur. Aku sedikit takut tinggal di lingkungan baru sendirian." Pinta Mada segan.


Leon lagi-lagi tersenyum. Setelah menunjukkan kamar dan memasukkan koper milik Mada. Pria itu masuk ke dapur. Meraih paper bag yang berisi beberapa bahan makanan. Semua keperluan Mada, Lyli yang membelikan. Sedang bahan makanan itu Leon beli di mini market di lantai bawah. Mini market tersebut menyediakan sayur mayur juga protein seperti daging, ayam, telur. Maklum yang tinggal di mess tersebut kebanyakan sudah berkeluarga.


"Eh kamu mau masak?" Mada bertanya. Leon mengangguk. "Kenapa? Mau bantu?" tanya Leon.


Mada tersenyum, "Bolehkan?" wanita itu bertanya antusias. Leon tersenyum sambil mengangguk. Selanjutnya dua orang tersebut berkolaborasi di dapur itu. Leon sedikit terkejut melihat Mada yang ternyata sangat lihai memasak. Wanita itu begitu cekatan saat memotong sayuran, bahkan mengiris tipis daging yang akan mereka gunakan untuk memasak nasi telur malam itu. Tak berapa lama, Leon membiarkan Mada menguasai dapur sendiri. Pria itu memilih menunggu di meja makan sambil mengamati Mada memasak.

__ADS_1


"Kok dibiarin sendiri sih?"


"Kan wanita ratu dapur. Pria kalau luang saja." Kekeh Leon. Pria itu sebenarnya jago masak. Karena Lyli yang nol gedhe urusan dapur. Lyli masuk dapur, kebakaran yang bakal terjadi.


Tak berapa lama dua piring nasi telur modifikasi dengan irisan daging fillet sebagai tambahan isi di adonan telurnya siap tersaji. Aroma lada hitam dan daun bawang terasa menggelitik hidung Leon.


"Wah, sepertinya enak." Leon mengambil sendok lantas mencobanya. Wanita itu tampak harap-harap cemas menunggu penilaian Leon. Sesaat keheningan menyelimuti meja makan minimalis empat kursi tersebut. Hanya terdengar sendok yang beradu dengan piring.


"Bagaimana rasanya?" kepo Mada. Karena Leon hanya mengunyah makanannya sambil memandang dirinya. Pria itu terdiam. Hingga seulas senyum terbentuk di bibir Leon.


"Ini enak sekali. Sama seperti di resto Michelin bintang 3." Puji Leon. Senyum mengembang di bibir Mada. Hal itu sukses membuat jantung Leon berdebar. Wajah Mada terlihat cantik di mata Leon.


"Woii, jantungku kenapa ini. Masak aku kena serangan jantung gara-gara lihat wajah cantik Mada." Leon bermonolog dalam hati. Leon, pria dewasa tapi minim pengalaman soal cinta.


Di sisi lain, tim yang dikepalai oleh Leon berhasil masuk ke basecamp data milik sebuah rumah sakit yang dikelola Ian. The Eye berhasil mengamankan data penting yang tersimpan online. Namun sistem peretas itu lupa. Ada beberapa dokumen cetak yang tertinggal. Dan itu menjadi bukti yang cukup kuat untuk menyeret nama Ian ke ranah hukum. Sepertinya kedok Ian sebentar lagi akan terbongkar.


Hal itu membuat seorang pria diujung sana, tersenyum puas. Dialah yang memberi clue pada pihak kepolisian, hingga menggiring aparat negara itu menemukan bukti keterlibatan Ian dalam sindikat penjualan organ vital manusia.


"Mari kita lihat bagaimana kau akan lepas dari jerat hukum di negeri ini. K."


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak.


****

__ADS_1


__ADS_2