
Satu tembakan dari Samuel membuat Ian, Leon dan Rio kembali waspada. Bara amarah kini menyala di hati Rio. Karena satu orang ini, hidupnya berantakan. Dia harus berpisah dengan orang tuanya, dia hampir saja melecehkan kakaknya sendiri. Dua tahun dia menyekap Mada. Gila! Rio menggelengkan kepalanya pelan. Mengingat hal buruk yang sudah dia lakukan pada Mada.
"Ada rencana? Aku perlu dia untuk dijadikan tumbal kasus ini," tanya Ian setengah berbisik. Kalau sendiri, Ian mampu melumpuhkan Samuel dalam hitungan detik. Tapi kini ada tiga orang bersamanya, plus keadaan Lyli yang diikat bom. The Eye susah memberikan informasi kalau bom itu bisa diaktifkan lagi. Meski dia bisa mematikannya sekarang.
"Apalagi yang bisa kita lakukan selain perang terbuka." Rio menarik satu pistol dari balik jaketnya. Karena kini mereka dikepung oleh anak buah Samuel. Leon melotot melihat Rio yang tampak biasa saat memegang pistol.
"Kau akan terkejut setelah tahu siapa dia," Ian menambahkan.
"Lebih tepatnya kau akan terkejut setelah tahu siapa kami sebenarnya," ralat Rio. Pria itu mengokang senjatanya, siap untuk digunakan. Lyli masih belum sadar, gadis itu masih terikat di kursinya. Meski begitu, Leon sudah melonggarkan ikatan pada Lyli.
Ian menatap lurus ke arah Samuel. "Apa ada cara lain bagi kami untuk lolos dari sini? Kau tahu tanpa adu peluru." Tanya Ian, dia pikir akan mencoba peruntungannya bernegosiasi dengan mantan mertuanya. Walau sepertinya dia sudah tahu jawabannya.
"Aku ingin nyawamu. Sama seperti kau menginginkan hidup putriku," tegas Samuel.
"Oh ayolah ex mertua. Seharusnya kau tahu kenapa aku membunuh istriku sendiri. Kau sendiri mengajarkannya padaku. Kau membunuh istrimu karena berselingkuh," terang Ian santai.
Leon dan Rio terkejut dengan fakta yang ada. Samuel dan Ian membunuh istri masing-masing. Meski untuk Rio, dia tahu makna dari hidup mafia. Mereka dari dunia hitam akan susah memaafkan yang namanya pengkhianatan, perselingkuhan dan sejenisnya. Hal seperti itu biasanya akan berakhir dengan kematian. Baik membunuh atau sebaliknya, dibunuh.
"Tapi Sonya tidak melakukan apa pun!" protes Samuel.
Ian menyeringai mendengar ucapan sang mertua. Dengan kemampuan Samuel, seharusnya pria itu mengetahui apa yang sudah Sonya lakukan di belakang Ian. Benar sekali apa yang dikatakan Ian jika Sonya hanya memberikan tubuhnya pada pria itu.
"Apa kau ini terlalu bodoh, sampai mudah sekali dibohongi oleh putrimu sendiri. Kuberitahu ya, dia berselingkuh di belakangku dengan musuhku. Dia memanipulasi asetku, sebagian dia ubah atas namanya, dengan cara menyuap pengacaraku dengan tubuhnya. Ciiiihhh ....aku kesal sekali. Aku dapat bekas guys," adu Ian pada Leon dan Rio.
"Alah apa masalahnya, kau pun bekas juga." Ledek Rio tajam. Satu tatapan penuh peringatan datang dari Ian. Namun Rio mengabaikannya.
"Kau berani mengatakan keburukan putriku!"
"Kelakuannya memang buruk, termasuk saat dia mengumpamkan nama keluargaku pada musuhku. Saat itu aku tidak bisa memaafkannya. Putrimu keterlaluan! Untuk itu, aku perintahkan anak buahku untuk membunuhnya. Impas bukan?"
Samuel mengacungkan pistolnya pada Ian, lantas menarik pelatuknya. Bunyi tembakan terdengar. Namun Ian yang waspada mampu menembakkan pistolnya bersamaan dengan peluru yang Samuel lesatkan. Terdengan bunyi benturan dua peluru ya g bertabrakan. Lagi-lagi, Leon menganga dengan kemampuan menembak Ian.
"Aku tidak akan pernah minta maaf soal kematian Sonya, karena di pantas mendapatkannya."
Samuel menggeram marah. Pria itu mengepalkan dua tangannya. Ian sudah membunuh putrinya dan kini terang-terangan melawannya.
"Kau akan mati hari ini. Kau dan dia akan mati!" teriak Samuel. Leon seketika merapatkan tubuhnya ke arah sang adik.
"Bagiku akan sangat menyenangkan jika kami bisa melaluinya bersama-sama. Baik hidup atau mati, asal bersama aku tidak masalah."
__ADS_1
"Leon, kau urusi adikmu. Rio bantu aku membungkamnya."
"Hidup atau mati?" tanya Rio.
"Dia harus hidup untuk menutupi kejahatanmu," bisik Ian lirih. Rio sesaat menatap Ian, tidak paham.
"Kau harus keluar dari sana. Kau punya Kakak sekarang."
"Kan ada suaminya yang akan melindunginya."
Dooooorrrr
"Bujubuneng! Belum selesai ini negonya. Bangsattt!!!" maki Rio asal.
"Kita nego lagi nanti...baik di dunia nyata maupun alam baka!" kekeh Ian.
"Brengsekkkk!!!"
Dua pria itu langsung waspada, pun dengan Leon. Pria itu memegang pistol dengan kuat. Fokus dengan orang-orang yang mengepung mereka.
"The Eye, let's dance." Kata Ian dari sudut bibirnya.
"Bunuh mereka!" Satu perintah dari Samuel dan seluruh anak buahnya langsung menghujani Ian dan yang lainnya dengan peluru. Random, mereka menembak asal.
Secara logika akan sulit menghindari terjangan timah panas yang mengarah pada mereka. Namun yang terjadi di luar dugaan. Dengan komando dari Ian dan reflek menembak yang bagus dari ketiganya, membuat mereka bisa menghindari lesatan peluru yang ditujukan untuk mereka.
"Leon, arah jam 3," Leon langsung bergerak ke samping kiri dan lawannya langsung ambruk setelah Leon menembaknya.
"Rio, arah jam 9." Dan Rio segera bergerak sesuai arahan Ian. The Eye mampu mendeteksi peluru mana yang akan dilesatkan paling cepat. Juga posisi siapa yang paling bisa mengatasinya.
Samuel melotot melihat bagaimana anak buahnya tumbang bergantian bahkan bersamaan. Saat mereka menembak bersama, tapi Ian dan yang lainnya bisa membidik lebih dulu.
Tinggal beberapa orang, dan Ian langsung berlari ke arah Samuel. Menaiki tangga secepat kilat. Meninggalkan Leon dan Rio dalam kawalan The Eye.
Aaarrgghhhh
Ian meringis kala satu tembakan menyambutnya begitu sampai di lantai dua. Darah merembes dari bahu kirinya. Peluru itu berhasil melukai Ian, saat The Eye tengah fokus pada Leon dan Rio.
"Kau tetap saja, lemah!"
__ADS_1
Doorrr
Aarrgghhhh
"Brengsekkkk!!!" Samuel mengumpat karena Ian menembak pahanya.
"Kita impas!" Ian berkata pelan.
Samuel jatuh terduduk dengan darah mulai merembes dari lukanya.
"Tidak! Aku tetaplah seorang pemenang. Sebab aku yang akan hidup dan kalian yang akan mati."
Tangan Samuel menekan tombol kecil di tangannya, seketika terdengar bunyi "klik."
"Pilihlah, kau atau dia yang mati." Seringai Samuel licik. Pria itu melangkah tertatih menjauh dari tempat itu. Saat Ian kembali ke lantai bawah. Di mana Lyli yang sudah bangun berteriak histeris karena ada bom yang terikat di tubuhnya.
Leon dan Rio tengah berusaha menjinakkan bom tersebut, saat Ian malah melepaskan tali pengikat bom itu.
"Kita bisa menjinakkanya." Cegah Leon.
"Bisa, jika waktumu dua hari. Lihatlah waktunya sekarang."
Leon dan Rio melotot, tidak lebih dari 20 detik waktu yang tersisa.
"Aku gak mau mati, Kak." Teriak Lyli panik.
"Yang bakal biarin kamu mati juga siapa. Gawangmu belum aku jebol, mana boleh mati dulu!"
Satu tendangan dari Lyli membuat Ian meringis. Bisa saja Ian berkata seperti itu di situasi berbahaya seperti sekarang. Sementara Leon dan Rio mengumpat bersamaan. "Malaikat pencabut nyawa sudah say hai, mereka masih bercanda." Gerutu Rio yang berhasil melepas ikatan di kaki Lyli.
"Larilah dulu. Akan ku lempar ini ke belakang sana."
Leon dan Rio terkejut. Hal ini tidak ada dalam rencana mereka. "Selalu ada rencana cadangan kan guys. Nah ini rencana dadakannya."
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***