
Ian berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya. Hatinya terasa remuk redam, melihat bagaimana terlukanya Lyli. Berkali-kali pria itu mengusak rambutnya kasar. Satu ucapan salam menyambut kedatangan Ian. Pria itu masih bisa membalas untaian doa untuk dirinya, lantas menyambut si pemberi salam. Menggendongnya lalu mencium, ubun-ubun, pipi kiri dan kanan serta punggung tangan Faaz.
"Apa pestanya berjalan lancar?" Faaz bertanya.
"Ijab kabulnya lancar. Pestanya gak tahu, Ayah pulang dulu." balas Ian lesu.
Anak kecil itu masih bergelayut manja pada Ian ketika Lyn keluar dari arah dapur. Membawa susu untuk Faaz.
"Turun, nak. Uncle lelah."
Faaz menurut, turun dari gendongan Ian, lalu duduk dan meminum susunya. Lyn bisa melihat gurat kesedihan di wajah Ian. "Kenapa? Apa dia akhirnya tahu soal aku dan Faaz?" tebak Lyn.
Ian seketika menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Pria itu merasa sangat lelah hari ini. Lyn menghela nafasnya. Melihat reaksi Ian, bisa dipastikan kalau tebakan Lyn benar.
"Berapa kali kubilang? Jujur itu penting. Tidak peduli bagaimana tanggapan orang itu. Yang penting kau berterus terang padanya."
"Sekarang kalau sudah begini, siapa yang rugi? Kamu kan?" tambah Lyn.
Ian memejamkan mata. Membiarkan perkataan Lyn menyirami hatinya. "Ayah, jika merasa bersalah, minta maaf. Insya Allah nanti Allah bantu." Faaz tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Ian, setelah merangkak naik.
Bocah kecil itu benar-benar genius. Didikan Lyn terlihat nyata. Putra mahkota itu sudah menunjukkan kelebihannya di usia yang masih belia.
"Kenapa kamu mengingatkan ayah pada Abian?" tanya Ian. Pasti menyenangkan jika dua anak dipertemukan.
"Abian siapa ayah?"
"Ponakan ayah. Anaknya adik ayah. Seumuran kamu." Faaz tentu sangat senang jika dia bisa bermain bersama Abian. Meski detik berikutnya, anak itu kembali menelan kekecewaan. Karena Ian belum mengizinkannya bermain keluar.
"Sebentar lagi ya Faaz, sabar. Uncle Fao sudah berhasil mengalahkan orang jahat itu. Dan Abimu sudah mulai membaik keadaannya. Setelah semua oke, Faaz bisa main lagi seperti dulu."
Di seberang meja, Lyn tampak membulatkan mata. Lyn tidak ingin Ian memberikan harapan palsu pada Faaz.
__ADS_1
"Itu bukan omong kosong."
Pria itu selanjutnya menjelaskan kalau situasi negara M mulai kondusif. Jika keadaan terus membaik, dalam tiga minggu ke depan, paling lambat sebulan lagi, Lyn dan Faaz bisa pulang. Lyn sungguh terharu mendengar penjelasan Ian. Dia tidak percaya kalau semua dimudahkan. Lyn pikir dia akan mengungsi untuk waktu yang lama. Namun ternyata doa-doanya dikabulkan tanpa perlu menunggu lama.
"Alhamdulillah." Lyn mengucap syukur, mendengar berita paling baru dari Ian.
Di tempat lain, Lyli menghempaskan tubuhnya kasar ke atas kasur. Mulai hari ini dia akan tinggal sendiri. Karena Leon sedang menikmati waktu berdua dengan Mada. Awalnya, Ian yang akan pindah ke rumah itu setelah mereka menikah. Namun kenyataannya tidak sejalan dengan rencana.
Lyli mendengus geram, mengingat bagaimana Ian yang lebih memilih wanita lain ketimbang dirinya. "Oke! Jika begitu keinginanmu, aku akan membalasnya seribu kali lipat. Lihatlah, akan kubuat kau merasa bersalah telah menyakitiku lagi."
Hari berganti, Lyli bekerja seperti biasa. Meski pada awalnya, gadis itu ingin resign, tapi urung dia lakukan. Lyli ingin membuktikan kalau dia baik-baik saja. Tidak terpengaruh pada apa yang Ian lakukan padanya.
"Lyli baik-baik saja?" Max bertanya setelah mendengar kalau gadis itu sudah tahu soal Lyn dan Faaz.
"Aku tidak tahu...."
Ucapan Ian terpotong, saat dia melihat Lyli berjalan ke arahnya bersama satu rombongan dokter. Sepertinya akan melakukan operasi dadakan. Dilihat dari beberapa dokumen yang tengah mereka diskusikan sambil berjalan. Jika semua orang menyapa Ian, tidak dengan Lyli. Gadis itu acuh, tidak peduli pada kehadiran Ian. Sembari fokus pada rekam medis pasien yang ada di tangannya. Lyli berlalu dari hadapan Ian tanpa kata.
Ian seketika melongo, hatinya mencelos diabaikan oleh Lyli. Pria itu bukan tidak mencintai Lyli. Sangat mencintai malah. Karena itu hatinya sakit saat Lyli mengacuhkannya.
"Aku rasa, aku sudah kehilangannya." Lirih Ian, menatap punggung Lyli yang semakin menjauh dari pandangannya.
Beberapa hari berlalu, dan sikap Lyli tetap seperti itu. Dingin bak es batu pada Ian. Ian sudah beberapa kali bicara pada Rio namun pria itu hanya memberi saran agar memberi waktu pada Lyli untuk sendiri dulu. Setelah emosi Lyli reda, baru Ian bicara lagi pada gadis itu.
"Kau tidak sedang memanfaatkan keadaan untuk merebut Lyli dariku kan?" tuduh Ian.
Rio mendengus geram mendengar tuduhan Ian. Pria itu dengan segera membantah. Rio terang-terangan mengaku kalau tengah mendekati sekretaris cerobohnya yang hobi nabrak pintu.
Ian tentu tak percaya begitu saja. Sama-sama mantan player, Ian tahu sangat sulit menghentikan kebiasan gonta ganti wanita. Sebab dia sudah mengalaminya. Para player ini biasanya bisa berhenti, setelah menemukan wanita yang mampu mengunci hati dan pikiran mereka dari godaan wanita lain.
Seperti Ian, dia berhenti jadi player setelah melihat Lyn, yang berbeda di antara ribuan penonton yang menonton gelaran F1 di negara M, tiga tahun lalu.
__ADS_1
"Gak percaya amat sih kalau gue dah berubah. Gue baru menyadari sisi lain Thalia beberapa hari ini."
"Apa itu?" kepo Ian.
"Rahasialah." Balas Rio penuh teka-teki. Rio tertawa senang melihat raut wajah jengkel milik Ian. Rio sendiri lantas teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat pesta pernikahan Mada. Setelah mengantar dan memastikan Lyli baik-baik saja. Pria itu kembali ke venue pernikahaan sang kakak, satu perasaan menyuruhnya kembali berkaitan soal Thalia.
Pria itu menepuk pelan dahinya, mendapati Thalia masih menunggunya di sana. Padahal dia sudah menyuruh gadis itu pulang lebih dulu. Yang lebih mengejutkan Rio lagi adalah keadaan Thalia yang mabuk. Untungnya para pekerja cleaning service berbaik hati, membiarkan Thalia tiduran di meja, tanpa menganggunya.
"Kok bisa mabuk sih?" gumam Rio heran. Kan pestanya para anggota polisi, bisa menyalahi aturan kalau begini ceritanya.
"Oohh, tadi pas last part si manager hotel ngasih bonus begituan sama kita-kita. Acaranya sukses besar kan, Pak. Lah mbaknya ikut nimbrung, katanya sekalian nunggu bosnya."
Rio seketika menggelengkan kepalanya. Setelah pamit pada para cleaning service itu, Rio membawa Thalia yang setengah teler. Kembali ke apartemennya, sebab Rio tidak tahu alamat rumah Thalia.
Nah, waktu sampai di apartemen Rio itulah kejadian tidak terduga terjadi. Thalia yang biasanya ceroboh, berubah jadi agresif. Entah karena pengaruh alkohol atau bagaimana, Rio tidak tahu jelas. Namun yang pasti, Rio yang sejak siang dibuat pusing karena tingkah Lyli yang menggodanya, kembali terpancing saat Thalia menciumnya.
Berawal dari ciuman panas itu, keduanya berakhir di satu ranjang yang sama. Rio yang notabene seorang player tidak bisa menahan diri saat tubuh seksi Thalia terpampang nyata di depan mata. Pria itu sama sekali tidak menduga kalau sekretaris cerobohnya itu mempunyai tubuh yang begitu menggiurkan. Ditambah Thalia ternyata masih segelan saat Rio menerobos masuk tubuh wanita. Dia yang selalu dapat bekas, jelas terkejut dengan fakta itu.
Oleh karena itu, saat Thalia mengamuk padanya keesokan harinya, Rio berjanji akan bertanggung jawab. Bagaimana Rio tidak ketagihan setelah semalaman tidak bisa berhenti mengulang sesi panas mereka.
Juan sendiri langsung marah pada Rio, bagaimana bisa Rio meniduri keponakannya sendiri. Reaksi tak terduga justru Juan terima dari Rio, saat pria itu memaki sang atasan.
"Test drive-nya berhasil," cengir Rio tanpa rasa bersalah.
****
Gimana Rio gak klepek-klepek, modelannya Thalia begitu...🤭🤭🤭
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****