Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Tertangkap


__ADS_3

Leon yang sedang bete, mengarahkan mobilnya ke mess tempat tinggal Mada. Pria itu ingat kalau ada kegiatan sosial di tempat itu. Seribu paket makan siang untuk para lansia, anak yatim piatu dan orang tidak mampu. Di mana dalam kesempatan itu Mada diikutsertakan dalam tim memasak. Mengingat kemampuan memasak Mada yang lumayan.


Mada tentu sangat antusias setelah di kenalkan pada team dapur yang isinya ibu-ibu Bhayangkari. Persatuan istri-istri dari pak polisi.


"Wah, ini calon ibu Bhayangkari-nya ya, Kapt." Seloroh seorang wanita yang Leon ketahui sebagai ketua panitia dari kegiatan itu.


Leon tidak menjawab, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tak tahu harus berkata apa. Sedang Mada tampak tidak mendengar pertanyaan tadi. Wanita itu sudah diajak berkeliling, berkenalan dengan ibu-ibu lain. Mada terlihat sedikit canggung. Namun dari matanya terlihat binar bahagia saat wanita itu berada di tengah banyak orang. Mada sepertinya sangat kesepian di kehidupannya.


Saat Leon masuk ke aula, di mana jajaran meja dan kursi sudah tertata rapi, seorang anggota menyapanya setelah memberi hormat. Padahal mereka sedang tidak dinas ataupun acara formal.


"Kami hanya tahu sedikit info soal wanita itu." Bisik pria itu. Mata tajam Leon menangkap pergerakan Mada yang mendekat ke arahnya. Tampak senyum mengembang di bibir Mada membuat wanita itu bertambah cantik. "Kita bicara lagi nanti." Anak buah Leon paham, lantas undur diri dari hadapan Leon.


"Siang, Kapt. Mau makan siang?" sambut Mada sumringah. Ke-betean Leon bubar jalan. Berganti dengan rasa lapar yang mendera sekaligus rasa senang menyeruak di dada pria itu.


"Tentu, masak apa kalian hari ini?" Eitts, vibesnya seperti bertanya pada istri sendiri. Leon terkekeh pelan mengingat pertanyaannya tadi.


"Ada banyak pilihan. Kapten, mau apa?" Mada memandu Leon ke meja prasmanan di mana berjajar lauk pauk tersaji di sana.


"Bagi dia yang pedes gila, Mada. Kapten penggila cabe." Seloroh satu wanita yang sedang melayani seorang lansia yang akan makan.


"Benarkah? Wah kita se-frekuensi dong." Celetuk Mada, mengambilkan piring untuk Leon. Mada meminta Leon untuk mengambil makanannya sendiri. Tapi Leon mempersilahkan Mada untuk melakukannya.

__ADS_1


"Akan ku makan apapun yang kamu ambilkan untukku." Mada tersenyum malu, terlebih beberapa ibu anggota Bhayangkari mulai meledek mereka.


"Halalkan Kapt, kapan lagi nemu yang begian. Bening, pintar masak lagi. Biasanya yang bening itu cuma bisa mainan kuku aja. Gak bisa mainin wajan sama sothel (solet)." Tawa meledak di tempat itu. Leon kembali menggaruk kepalanya. Terlebih wajah Mada yang sudah seperti tomat masak saking malunya. Wanita itu buru-buru mengisi piring Leon dengan lauk dan sayur yang menurut Mada akan Leon suka.


"Suka gak?" lirih Mada. Leon mengangguk. Sebab pada dasarnya dia tidak memilih makanan. Apapun, asal higienis akan dia makan.


"Suka." Jawab Leon singkat. Pria itu berlalu menuju ke meja di mana sekelompok lansia tengah menikmati makanan mereka. Setelah membisikkan kata "terima kasih" di telinga Mada. Hal yang membuat tubuh Mada meremang seketika. Belum pernah ada pria yang berada sedekat itu dengan dirinya. Bahkan pria bajjinggan yang selama ini menyekapnya, tidak pernah bisa menyentuhnya. Tangan Mada terkepal mengingat pria yang sudah mengurungnya, hingga malam itu dia berhasil kabur dan ditolong oleh Leon.


"Mada, mari makan dulu. Satu rombongan anak yatim baru akan tiba lima menit lagi. Kita perlu tenaga ekstra untuk anak-anak ini."


Seorang wanita yang Mada tahu bernama Indira menyapa Mada. Wanita yang baru dua bulan menikah dengan salah satu anggota Leon. Mada mengikuti langkah Indira menuju meja di belakang meja prasmanan tersebut. Bergabung dengan ibu-ibu yang lain, yang langsung melambaikan tangan pada Mada. Wanita itu sangat menyukai lingkungan di tempat ini. Sangat menyenangkan sekali.


*


*


Melirik jam tangannya, pukul sebelas malam. Lyli meraih ponselnya, di mana sebuah pesan dari sang kakak terkirim sejak siang tadi. Sebuah pesan yang langsung membuat Lyli mengembangkan senyumnya.


Gadis itu bergegas menyandang sling bagnya. Lalu keluar dari ruangan itu. Saat Lyli masuk ke lift, dilihatnya Ian yang keluar dari lift di hadapannya. Gadis itu buru-buru keluar lagi. Bermaksud menyusul Ian. Ada rasa lega, saat Lyli melihat Ian baik-baik saja.


Niat hati ingin memanggil Ian, tapi bibirnya malah mengatup rapat saat melihat Ian masuk ke sebuah lift. Lift yang pernah dia masuki tanpa sengaja. Ian masuk bersama Max. Hal ini membuat rasa ingin tahu Lyli semakin besar. Satu sifat Lyli yang kadang membuat gadis itu berada dalam masalah.

__ADS_1


Pada akhirnya, Lyli membulatkan tekadnya. Dia ingin tahu apa yang Ian lakukan di tempat itu. Gadis itu menyusul Ian masuk ke lift yang sama, yang baru saja Ian masuki. Menekan angka nol dua kali. Lyli mencengkeram tali sling bagnya, saat merasakan lift itu membawanya turun entah ke mana.


Tak berapa lama, terdengar bunyi pintu lift terbuka. Lyli seketika merundukkan tubuhnya. Sebuah masker sudah terpasang di separuh wajahnya. Gadis itu mengikat rambut panjangnya asal. Lyli mengendap-endap keluar dari sana. Bersikap layaknya pencuri, Lyli mulai menyelinap dari satu brankar ke brankar lain, yang langsung menyambut pemandangan gadis itu begitu keluar dari lift.


Aroma desinfektan dan alkohol begitu kuat masuk ke hidung Lyli. Padahal masker yang dia pakai adalah N 95, masker yang mampu menyaring partikel sampai 95%. Lyli mulai menyusuri lorong yang tampak suram. Penerangan di lorong sangat minim. Namun cahaya terang terlihat dari beberapa ruang yang mirip kamar operasi. Lyli melewati beberapa brankar yang tertutup kain putih. Melihat penampakannya, masih ada tubuh di atas brankar itu. Beberapa masih menampilkan wajah si pemilik tubuh. Tidak tahu mereka masih hidup atau sudah mati.


Lyli ingin tahu apa yang mereka lakukan di dalam ruangan itu. Suasana agak sepi, tidak seperti pertama kali Lyli melihat tempat tersebut. Lyli melongokkan kepalanya melalui tirai putih yang menjuntai menjadi pembatas ruangan. Dilihatnya dua orang yang tengah....seperti melakukan operasi. Memakai seragam OK (baju untuk operasi yang berwarna hijau), hair cap, masker dan sarung tangan medis. Serta lampu operasi yang menyorot bagian perut (abdomen) pasien.


Lyli akan mendekat ketika satu tarikan pada kerah baju Lyli membuat gadis itu menjauh dari tempat itu.


"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?" sebuah suara dingin dengan nada kejam terdengar di telinga Lyli. Gadis itu menelan ludahnya. Habis sudah nasibnya malam ini. Lyli ingin kabur, tapi pria tersebut menyeret tubuh Lyli menjauh dari tempat itu. Membawa Lyli ke sebuah ruang yang mirip ruang kantor dengan lampu menyala sangat terang.


"Mampus aku! Tertangkap, dan sekarang mereka akan menghabisiku!" kata Lyli dalam hati penuh sesal.


***


Up readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2