
Teriakan Mada membahana di kamar wanita itu, di mess milik Leon. Wanita itu melempar semua benda yang ada di sekitarnya begitu melihat Rio ada di depannya. Wanita itu histeris, tidak ingin melihat sang adik. Dua minggu berlalu, tes DNA ulang sudah dilakukan dan terbukti kalau Rio dan Mada adik kakak, putra-putri keluarga Airlangga.
Namun Mada yang kadung trauma, belum bisa memaafkan sang adik. Berapa kali Rio memohon dan meminta maaf. Reaksi Mada tetap sama, bahkan pertama kali Rio mengunjungi Mada. Wanita itu hampir melukai Rio menggunakan pisau.
"Kak, ini aku....Rio." Kata Rio setengah putus asa. Sungguh pria itu tidak tahu harus berbuat apa lagi agar sang kakak mau memaafkannya.
"Sabar, nanti juga dia ingat. Pelan-pelan ya." Elsa memberi semangat pada Rio, sementara Indira dan Leon membawa Mada masuk ke kamarnya.
Rio hanya bisa menghela nafas, melihat Mada yang menangis tersedu dalam pelukan Leon. Tak lama Leon keluar dari kamar Mada. Membiarkan Mada beristirahat bersama Indira.
"Pelan-pelan, maklum kau kurang ajar sekali sama kakakmu sendiri," ledek Leon.
"Jangan diungkit lagi!" judes Rio.
Nama Rio dan Ian sama sekali tidak terkena imbas dari penculikan Lyli. Sesuai pengaturan Ian, semua kesalahan dilimpahkan pada Samuel Santos, yang tentu saja langsung protes melihat berbagai tuduhan yang dilayangkan padanya. Pria itu menyangkal semua, tapi seluruh bukti mengarah padanya. Bahkan pengacaranya saja angkat tangan. Terlebih ada Theo Ivano di pihak penuntut umum. Bisa dipastikan hukuman Samuel akan berat dan mereka akan memenangkan tuntutan.
"Kalian jadi nikah?" tanya Rio kepo.
"Jadilah, biar kebagian kaya," jawab Leon sambil menaikkan satu alisnya. Mada sekarang wanita kaya setelah nama Airlangga tersemat padanya.
"Awas ya kalau kau ngapa-ngapain kakakku," ancam Rio.
"Heleh...sekarang aja posesif, gak ingat apa kemarin hampir jebol gawang kakak sendiri."
Terus saja Leon meledek Rio, sampai pria itu merasa kesal. Rio benar-benar sensitif sekarang ini. Sejak dia ditarik paksa keluar dari dunia mafia, hidup Rio mengalami dis-orientasi. Dia yang dulu seenaknya sendiri. Kini tidak bisa melakukannya lagi. Terlebih setelah pengacara keluarga Airlangga mengesahkan kalau pewaris Airlangga Resorts dan Hotels sudah kembali. Rio mau tidak mau harus belajar menghandle urusan kantor. Sementara keadaan Mada belum bisa dipastikan kapan pulihnya. Dibantu tangan kanan Rio yang ikut mundur dari dunia bawah, mengikuti keputusan Rio.
"Capek tahu ngurus kantor sendirian. Enakan jadi bandar narkoba. Kerja bentar untungnya gede." Kata Rio sambil menyandarkan kepalanya ke bahu sofa.
"Nyawa taruhannya. Berapa kali kalian hampir mokat berurusan dengan timah panas?" heran Leon. Masih banyak orang yang suka dengan bisnis haram itu.
"Aku sih belum pernah. Tapi Ian, ginjalnya sudah diganti satu. Yang terakhir dia koma 9 bulan, kau tahu itu kan."
Leon manggut-manggut, meski berita Ian pernah menerima transplantasi ginjal adalah berita baru untuknya. Sangat beresiko menjadi seorang mafia, tapi ya itu tadi keuntungan besar di depan mata.
Dua pria itu kembali terdiam. Masing-masing larut dengan pikirannya.
__ADS_1
*
*
Weekend tiba. Ian dan Lyli baru saja keluar dari kediaman keluarga Sky. Setelah sekian lama menunda, akhirnya hari ini mereka bisa memenuhi janji untuk makan malam di rumah adik Ian itu. Rea sempat marah besar ketika Ian terus saja menunda acara makan malam bersama mereka.
"Dasar tukang ingkar janji," gerutu Rea saat sang kakak datang bersama Lyli.
Ian hanya bisa nyengir mengingat manyunnya sang adik selama makan malam. Meski itu tidak berlangsung lama, karena kehadiran Abian mampu mencairkan suasana. Di tambah anak-anak Gina dan Nicky yang ikut meramaikan suasana.
"Abian lucu ya," celetuk Lyli.
Ian mengulum senyum mendengar perkataan Lyli. "Bikin yookk," balas Ian. Lyli seketika membulatkan matanya, Ian memang mesum akhir-akhir ini.
"Jangan pikir aku mesum. Apa salahnya merencanakan masa depan. Anak salah satunya."
Kata Ian sembari melirik ke arah Lyli. Pria itu sudah berniat menikahi Lyli. Hanya tinggal menunggu restu dari Leon. Tidak tahu apa kakak Lyli mengizinkan mereka menikah lebih dulu, atau harus menunggu Leon dan Mada menikah.
"Kakak masih menunggu Mada."
"Tidak masalah kalau harus menunggu. Nyicil kan boleh." Lagi, Ian menggoda Lyli.
Ian seketika menggaruk kepalanya. Tidak ada kata nyolong start, nyicil, DP atau istilah lainnya. Semua harus sesuai aturan dan prosedur. Begitulah pesan Rea pada sang kakak. Iyalah, Rea kan sekarang nyonya Sky, jadi semua gerak geriknya jadi sorotan publik. Terlebih Lyli adik kepala polisi. Nama baik jadi taruhan.
"Ribet amat mau nikah aja." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir Ian.
"Kamunya aja yang nganggepnya gitu. Padahal enggak lo." Ian terdiam mendengar ucapan Lyli. Apa benar seperti itu. Kok dia jadi ragu ya. Mobil Ian melaju membelah jalanan yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lintas. Keduanya cukup menikmati waktu mereka, sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama membuat Ian dan Lyli benar-benar memanfaatkan waktu yang ada.
Ian membawa Lyli ke apartemennya. Tanpa maksud apa-apa, hanya sekedar ingin menghabiskan waktu berdua. Ian dan Lyli sudah bicara pada Rio, dan pria itu memilih mundur. Meski Rio menyukai Lyli namun dia tidak mau memaksa gadis itu bersamanya. Ditambah kesibukannya sekarang. Dijamin, Rio tidak akan punya banyak waktu untuk Lyli.
"Aku ingin menikah denganmu secepatnya." Kata Ian sambil mengulurkan sesuatu berbentuk bintang. Di mana, sebuah cincin bertengger di dalamnya. Cincin cantik yang membuat mata Lyli melebar, terkejut sekaligus bahagia. Lyli akui, Ian bukan tipe pria romantis yang akan melakukan sesuatu out of the box untuk orang yang dia cintai. Darah mafia mengalir kuat dalam diri Ian, membuat pria itu terlihat lempeng tanpa ekspresi.
"Untukku?" tanya Lyli dengan wajah tidak percayanya. Menerima benda berbentuk bintang itu, lantas membukanya.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Ian mengangguk sambil tersenyum, melihat binar bahagia yang terpancar dari wajah Lyli.
"Aku bukan tipe pria romantis, kau tahu itu. Tapi aku berani berjanji, kalau aku akan menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku. Percayalah selalu padaku."
Meleleh sudah hati Lyli mendengar ucapan Ian yang meski terdengar aneh, karena biasanya yang keluar dari mulut Ian adalah biang kerok dan biang lawak, bukan pernyataan romantis seperti yang baru saja dia dengar.
Senyum gadis itu mengembang sempurna, terlebih ketika Ian sendiri yang memasangkan cincin cantik itu. Lyli tak hentinya melihat benda bulat itu berada di jarinya.
"Kamu suka?" Ian bertanya sambil mendekat ke arah Lyli. Lyli mengangguk antusias, meski ya...dia harus melepasnya saat operasi. Tapi tidak masalah.
Detik berikutnya sebuah ciuman sudah mendarat di bibir Lyli. Sedikit terkejut, namun Lyli tidak menolak. Gadis itu bahkan sudah melingkarkan tangannya di leher kokoh Ian, menikmati tiap pagutan yang Ian lakukan sekaligus membalasnya.
Keduanya terus bertukar saliva untuk beberapa waktu, saking nikmatnya, tanpa sadar, Ian telah merebahkan tubuh Lyli di atas sofa ruang tengah apaertemennya. Pria itu bahkan sudah menurunkan resleting gaun Lyli dengan tangan Lyli mulai melepas kancing kemeja Ian.
Ciuman Ian turun ke leher jenjang Lyli. Keduanya hampir kebablasan jika saja ponsel Ian tidak berdering.
"Astaga, maaf Ly. Hampir saja." Ian mengusak wajahnya kasar. Pria itu seketika menelan ludahnya, melihat gaun Lyli yang sudah terbuka di bagian depan.
"Sorry juga, kebablasan." Lyli sesaat mengintip ke arah dada bidang berotot milik Ian, pikiran Lyli seketika terbang ke mana-mana.
Setelah itu Lyli sibuk membenarkan gaunnya, sementara Ian menerima panggilannya.
"Kau serius? Apa aku harus ke sana?" tanya Ian sambil melihat ke arah Lyli. Ada gurat bingung juga cemas dalam wajah Ian.
"Aku baru saja akan mulai hidup baru, tapi kenapa masalah itu datang lagi," keluh Ian dalam hati. Menatap wajah Lyli yang juga tengah menatapnya.
***
Ian dan Lyli
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
****