
White flag benar-benar berkibar sejak hari itu. Lyn menegaskan sekali lagi, kalau dia dan Ian tidak ada hubungan sama sekali. Sekarang, mereka hanya teman yang akan saling membantu jika ada kesulitan. Itu saja, tidak lebih.
Hubungan Lyli dan Ian pun semakin membaik. Dengan Lyli yang sering datang ke rumah Ian untuk bermain dengan Faaz. Putra mahkota yang sering kesepian. Lyli bahkan dengan telaten mengajari Faaz soal pengetahuan umum. Dan nampaknya Faaz tertarik dengan profesi Lyli yang dipanggil ibu oleh putra Lyn itu.
"Apa salah jika Faaz ingin jadi dokter?" anak berusia tiga tahun bisa bertanya hal seperti itu.
Lyli menggeleng pelan, dia tentu tidak tahu aturan negeri M. Setahu Lyli putra mahkota bisa melakukan apapun sebelum usia 28 dan memiliki pasangan. Sebab di usia tersebutlah penobatan raja akan dilakukan.
Wajah Faaz berubah sendu. Dia pikir kenapa sejak dulu dia tidak bisa melakukan apa yang dia suka. Dia sering terkurung di istana. Bermain hanya bersama anak-anak tertentu. Tidak bisa sembarang berinteraksi dengan orang lain. Faaz ingin menyapa orang yang dia temui di luar sana. Bicara dengan mereka yang dia jumpai di jalanan.
Untuk sesaat Lyli tertegun. Lyli pikir kalau Faaz tertekan dengan didikan istana. Meski Lyli juga tahu kalau semua dilakukan demi keselamatan Faaz. Pada akhirnya gadis itu hanya memberitahu Faaz kalau semua tidak seperti yang anak itu pikirkan. Suatu hari, Faaz akan memahami semua.
Lyli berjingkat kaget, saat sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang. Lyli langsung tahu siapa pelakunya, Ian sang calon suami. Ian sudah memberitahu pada Leon kalau dia akan segera menikahi Lyli. Satu hal yang membuat Leon menarik nafasnya lega. Salah paham antara keduanya sudah selesai.
Rio tentu ikut bahagia mendengar kabar pernikahan Ian dan Lyli. Sementara Rio tengah menikmati indahnya masa pacaran dengan Thania. Seperti saat ini, di mana keduanya sedang berciuman panas. Dengan Thania yang berada di atas pangkuan Rio. Keduanya tengah berada di apartemen Thania, setelah Rio mengantarkan pulang gadis itu.
Rio benar-benar membuat Thania mabuk kepayang dengan sentuhannya. Wanita itu tidak bisa menolak tiap kali Rio mulai menyentuh dirinya. Sentuhan mantan player itu sungguh menghanyutkan.
Thania memejamkan mata sambil menikmati tiap pagutan yang Rio lakukan dengan dirinya intens membalas ciuman Rio. Pria itu bahkan mulai mengurai kancing baju Thania, hingga dada atas wanita itu mulai terlihat.
"Rio stop." Thania menjauhkan tubuhnya saat ciuman Rio beralih ke dadanya. "Tanggung, sayang." Keluh Rio, pria itu mulai terpancing hasratnya.
"Lalu berhentinya besok pagi. Setelah kita berada di atas kasur."
"Tentu saja." Balas Rio entang. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menatap penuh harap ke arah dada Thania. Sangat menggoda dan menggiurkan. Pria itu teringat bagaimana ekspresi Thania saat menikmati sentuhannya malam itu. Sangat seksi dan menggairahkan.
"Aku akan menikahimu setelah pernikahan Lyli dan Ian bulan depan." Kata Ian sambil menatap dalam wajah Thania.
__ADS_1
"Kalau begitu ya setelah bulan depan saja." Thania menjauh dari Rio sambil membetulkan kancing bajunya kembali. Rio menghembuskan nafasnya kasar. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap Thania. Justru pria itu senang, sepertinya dia sudah menemukan pelabuhan terakhirnya setelah bersandar di banyak dermaga.
"Padaku saja dia mampu menahan diri. Apalagi pada pria lain." Guman Rio lantas memejamkan mata. Dada bidang Rio tampak mengintip, karena pria itu sengaja membuka dua kancing teratas kemeja yang di pakainya.
Pria itu tertidur, saat Thania kembali setelah mengganti baju dan membuatkan teh untuk Rio. Thania hanya bisa menghela nafasnya, saat melihat Rio yang tidur di sofanya.
Hari berganti, persiapan pernikahan Ian dan Lyli semakin mendekati sempurna. Dalam kesempatan itu, datang pula kabar dari negara M, kalau keadaan negara itu sudah kembali aman terkendali. Hingga Fao mulai mengatur penjemputan Lyn dan Faaz. Demi mengecoh para pembunuh bayaran yang berkeliaran di luar sana. Penjemputan akan dilakukan saat pernikahan Lyli dan Ian.
Pernikahan Lyli dan Ian akan dihelat besar-besaran, untuk mengalihkan perhatian khalayak ramai. Dengan sponsor terselubung dari Mark, namun diatasnamakan Leon. Semua media diharapkan akan fokus pada pesta Ian dan Lyli. Kali ini Fao sendiri yang akan menjemput Lyn dan Lyn. Dengan Albert sebagai partnernya. Sementara Sebastian akan disiagakan di istana.
Sebuah misi rahasia yang cukup riskan. Mengingat mereka tidak menerapkan protokol penjemputan ratu. Fao sendiri tidak menghubungi pihak manapun di negeri itu. Dia ingin semua selesai tanpa jejak sedikitpun.
Hari H tiba, Lyli sudah dirias sedemikian rupa, saat Lyn dan Faaz masuk ke kamar tempat Lyli dirias. Istri Mark itu tampak mengenakan celana panjang, kemeja yang menutup tubuh Lyn sampai batas lutut. Dengan hijab panjang menutupi bagian atas tubuh Lyn. Sementara Faaz, bocah itu sangat tampan dengan setelah denim yang membalut tubuh mungil anak tersebut.
Lyli tersenyum lebar melihat pasangan ibu dan anak itu. Tak berapa lama, Faaz sudah berada dalam pelukan Lyli. Faaz tahu kalau dirinya akan pulang malam ini.
"Tentu saja, nanti kalau ayah dan ibu libur kita akan menjenguk Faaz. Sama ibu pengen nonton F1." Balas Lyli sambil tersenyum. Bocah tampan itu tersenyum lebar, hingga gigi kelinci bocah itu terlihat.
"Sayang sekali gak bisa ikut pestanya." Faaz buru-buru menambahi.
"Kan kemarin sudah. Pesta kecil tapi."
Sebenarnya hari ini adalah pesta pernikahan Ian dan Lyli. Setelah sehari sebelumnya, Ian melakukan ijab kabul secara tertutup di rumah Ian. Ijab kabul dengan pengamanan yang sangat ketat. Acara yang bahkan penghulunya harus disuntik obat bius sebelum dan sesudah menikahkan Ian dan Lyli. Ditambah lagi Fao sedikit memberikan shock memory. Membuat ingatan si penghulu kacau untuk tiga hari ke depan.
Faaz nyengir mendengar perkataan sang ibu. Setelah itu, sebuah pelukan hangat kembali Lyli terima dari Lyn. Wanita itu begitu terharu. Melihat bagaimana Ian yang sekarang sudah banyak berubah. Pria itu benar-benar memenuhi janjinya, bahwa dia akan berubah menjadi lebih baik, andai menemukan wanita yang bisa menggantikan tempat Lyn di hati Ian.
"Terima kasih sudah memberi kesempatan pada Ian. Dia akhirnya bisa berbahagia." Bisik Lyn di telinga Lyli.
__ADS_1
Lyli mengangguk pelan. Dia sendiri percaya kalau Ian sepenuhnya sudah berubah. Kecuali kesenangannya memburu penjahat untuk diambil organ dalamnya. Kesenangan yang aneh.
"Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu diberkahi Allah, diberikan keturunan yang baik."
"Errrr, yang itu gak yakin. Lihat aja tingkah bapaknya. Pesimis kalau anaknya akan sholeh."
"Setidaknya gak aneh-anehlah." Potong Lyn.
"Gak yakin juga." Tawa dua wanita itu meledak di tempat tersebut. Ya, mengingat sifat Ian, keduanya pesimis kalau anak Ian akan betah berada di garis lurus, tanpa belokan.
"Apapun itu welcome to the jungle. Menyatukan dua kepala dalam satu pemikiran, kita tahu itu tidak mudah."
Lyli mengangguk paham mendengar nasihat Lyn. Wanita itu undur diri saat Fao memanggilnya dari ear piece yang terpasang di balik hijabnya.
"Waktunya pergi. Sampai juga kembali. Semoga selalu bahagia."
Satu pelukan Lyn berikan sebelum wanita itu keluar dari kamar Lyn. Namun detik berikutnya lampu di tempat itu padam, dengan kepala Lyli yang terasa berat. Detik berikutnya, tubuh gadis itu terjatuh di lantai.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
Note : Selamat Hari Raya Idulfitri kepada readers yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat liburan guys...
****
__ADS_1