
Lyli berlari mengejar Ian, gadis itu baru saja sampai di rumah sakit. Begitu melihat Ian, Lyli langsung menggunakan langkah seribunya. "Ian....tunggu dulu." Nafas Lyli ngos-ngos-an. Namun gadis itu terlambat, Ian dan Riel sudah masuk ke dalam lift khususnya. Meninggalkan Lyli yang langsung lemas tubuhnya. Dia tidak bisa mengejar Ian ke ruang kerjanya. Gadis itu ada jadual operasi sebentar lagi. Lyli akan terlambat jika menemui Ian sekarang. Dengan rasa penasaran membuncah di dada Lyli berjalan menuju lift lantas menekan tombol di mana divisinya berada.
"Kenapa sikap Ian berubah? Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku." Batin Lyli dengan benak berpikir keras. Soal apa yang sedang Ian sembunyikan darinya.
Di sisi lain, "Thalia!!!!" teriakan Rio membuat Mada memejamkan matanya. Wanita itu lantas mendelik pada sang adik.
"Sorry Kak, ada perlu sama dia." Rio menjawab sambil nyengir. Hubungan Mada dan Rio sudah pulih seperti sedia kala. Wanita itu akhirnya mengingat Rio setelah kembali ke rumah besar Airlangga. Di mana foto keluarga besar mereka masih terpajang rapi di dinding, hampir seluruh rumah itu. Satu hal yang menggambarkan kalau keluarga mereka dulu sangat bahagia. Meski dua kakak beradik itu sempat menangis di depan foto ayah dan ibu mereka.
"Jadi minggu depan nih menikahnya?" tanya Rio, memandang wajah Mada yang dia akui sangat mirip dengan ibu mereka.
"He em. Katanya kamu ndak masalah waktu Leon bertanya."
"Gak masalah sih sebenarnya. Justru aku senang. Sudah ada orang yang bisa menjaga, kakak."
"Bilang aja gak rela." Todong Mada. Setelah ingat semua kenangan mereka. Mada sadar kalau Rio adiknya dulu sangat menyayanginya. Terlepas dari apa yang pernah pria itu lakukan padanya beberapa bulan terakhir.
"Yaelah, Kak. Jelas aja gak rela. Kakak doang yang aku punya sekarang. Baru juga kita kumpul sebentar, setelah di Santos itu mengadu domba kita. Sekarang si Leon sudah mau mengambilmu. Mana aku yang jadi wali nikahmu lagi. Gak rela!"
Mada terkekeh mendengar keluhan Rio, dia tidak menyangka meski sudah dewasa, sifat Rio masih seperti anak kecil. "Rela gak rela. Kamu mau kakak jadi perawan tua?"
"Ya gaklah, lagian gak mungkin kakak jadi perawan tua. Kalau belum diklaim sama Leon, yang ngantri mau jadi suami kakak bejibun. Banyak."
Mada kembali terkekeh. Wanita itu berada di kantor Rio setelah meninjau pembangunan resort terbaru mereka di sebuah kawasan wisata yang diperkirakan akan hybe dalam dua atau tiga tahun mendatang. Sebuah prospek yang bisa jadi ladang pundi-pundi uang mereka.
Pengacara keluarga Airlangga secara resmi mengembalikan kepengurusan hotel dan resort milik keluarga itu pada Rio dan Mada. Setelah keduanya terbukti pewaris sah dari keluarga kaya itu. Sebelumnya pengelolaan hotel dan resort dilakukan oleh tim independen yang diawasi langsung oleh tim dari pengacara keluarga itu.
Meski semua dikembalikan pada Rio dan Mada. Dua orang itu hanya mengambil 60% tanggungjawab. Selebihnya Rio dan Mada sepakat untuk menghibahkan hotel dan resort untuk dikelola oleh tim tersebut. Sepuluh tahun mengelola usaha keluarga mereka tanpa ada satu kesalahan membuat Rio dan Mada sangat berterima kasih pada tim itu. Hingga keduanya tidak tega membiarkan mereka kehilangan pekerjaan. Akhirnya keputusan itu yang diambil oleh Rio dan Mada setelah berdiskusi dengan pengacara keluarga mereka. Dan hibah itu disambut bahagia oleh mereka yang sepuluh tahun ini mengelola usaha keluarga Airlangga. Mereka tidak jadi menganggur. Ucapan terima kasih tentu saja mengalir pada Rio dan Mada.
"Ada apa ya, Pak bos?"
__ADS_1
Thalia bertanya setelah berdiri di hadapan Rio. "Tumben gak nabrak pintu," batin Rio heran.
Gadis itu menunduk hormat pada Mada. Tahu kalau wanita itu juga atasannya. "Dari mana kamu? Kenapa lama sekali?" Rio bertanya.
Thalia menjawab kalau dia dari bagian keuangan. Managernya meminta Thalia turun untuk memeriksa sesuatu. Rio tentu bingung, di depannya, Thalia tampak seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Namun di tempat lain, wanita itu sangat bisa diandalkan. Apa ada yang salah dengan dirinya?
Rio memberitahu kalau minggu depan dia akam libur satu hari untuk menikahkan sang kakak. Karena itu Rio minta kalau hari itu dia ingin libur full satu hari. Tidak mau diganggu selama acara pernikahan kakaknya. Oleh sebab itu, Rio minta Thalia untuk mengatur ulang schedule-nya agar meeting pada hari pernikahan Mada bisa dilakukan sebelumnya.
"Siap, pak bos," sahut Thalia cepat. Mencatat permintaan Rio di tablet yang dia bawa.
"Sudah itu saja?" tanya Thalia. Rio mengangguk.
"Kirain saya ada salah lagi. Terus kena semprot."
Mada mengulum senyum melihat tingkah dua orang itu. Yang satu rileks sekali, yang satu menggebu-gebu.
"Jadi kamu lebih suka tak marahi?" Rio bertanya heran.
Astaga, Mada tertawa cekikikan mendengar jawaban Thalia. Ada ya asisten model Thalia. Dimarahi Rio hampir tiap hari, tapi gadis itu cuek. Masih bisa bekerja dengan happy, tanpa ada rasa takut saat berhadapan dengan Rio.
"Jangan menasehatiku. Kenyang aku makan nasihat."
Mada meledakkan tawa setelah Thalia keluar dari ruangan Rio. Diiringi bunyi "duughhh" yang menandakan kalau Thalia menabrak pintu. Pasalnya gadis itu berjalan sambil menunduk, menatap tablet yang dia bawa.
"Dia unik tahu, Rio." Kata Mada di sela tawa yang terus saja terdengar dari bibir sang kakak.
"Iya unik, langka lagi. Cuma ada satu di dunia. Dan aku beruntung memilikinya," sungut Rio keluar saking kesalnya.
"Kenapa gak dilegalkan aja?" tanya Mada.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Menikah dengannya. Dia tahan banting lo. Sejauh ini mana ada cewek yang betah lama ngadepin kamu yang super cerewet."
Rio membantah keras-keras kalau dirinya banyak omong alias cerewet. Pria itu juga menolak ide menikahi Thalia. Yang benar saja, yang ada Rio stroke dibuatnya. Darah tinggi tiap hari.
"Ya deh, gak cerewet tapi kebanyakan komplain."
"Kalau kerjaannya beres ya gak aku komen, Kak. La ini kerjaan amburadul, meski banyak benarnya. Cerobohnya itu lo kak. Gak nahan."
"Siapa tahu setelah naik pangkat jadi istri, cerobohnya ilang. Dia cantik lo." kompor Mada.
"Alah sudahlah. Jangan seperti Ian dan Leon, sibuk nyuruh aku untuk menikahi Thalia."
Tawa Mada kembali terdengar.
Lyli berada di parkiran, malam mulai merayap turun, jam dinas gadis itu sudah selesai. Saat Lyli hendak melajukan mobilnya, dari kejauhan dia melihat Ian juga masuk ke mobilnya. Kesempatan datang.
Gadis itu segera mengendarai mobilnya, mengikuti mobil Ian. Lyli pikir akan bicara setelah tiba di apartemen pria itu. Namun setelah beberapa waktu berkendara. Lyli menyadari kalau yang mereka lalui bukanlah jalan menuju apartemen Ian. Lyli mengerutkan dahi, melihat mobil Ian melaju ke sebuah perumahan elite yang terkenal karena keamanannya yang berbasis komputer.
"Dia mau ke mana sih?" gumam Lyli. Gadis itu mengerutkan dahi, saat mobil Ian masuk ke garasi rumah itu. Sebelum pintu garasi tertutup rapat, Lyli bisa mendengar suara anak kecil memanggil ayah.
Lyli semakin penasaran. Apa anak itu memanggil Ian dengan sebutan ayah? Apa Ian diam-diam punya anak di belakang Lyli. Haish, kenapa semua jadi mencurigakan?
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****