
Kredit Pinterest.co
Ian meringis ketika Lyli menekan lukanya lumayan kuat. Dia tahu gadis itu sengaja melakukannya. Kesal, itu yang selalu Lyli rasakan saat dekat dengan Ian. Perasaan bawaan yang Lyli rasa setelah kejadian 10 tahun lalu. Lyli pikir, dia tidak akan pernah bertemu dengan sosok Ian lagi, nyatanya kini pria itu adalah atasannya di tempat dia bekerja. Sungguh menyebaalkan.
"Astaga, pelan-pelan Ly."
Ian meringis tertahan ketika alkohol itu menyentuh kulit putihnya. Tidak menggubris permintaan Ian, Lyli terus saja melakukan pekerjaannya hingga selesai.
Raut kesal itu terus mendominasi wajah cantik Lyli. Meski begitu, Ian sangat menyukai wajah kesal Lyli. "Sejak kapan kalian pacaran?" Ian bertanya sembari menatap intens wajah Lyli. Tidak bisa Ian pungkiri, setelah dua kali gagal menjalin cinta, hati Ian merasa terpaut pada sosok Lyli. Gadis culun yang sepuluh tahun lalu menyatakan cinta pada Ian di halaman sekolah putih abu-abunya. Disaksikan banyak siswa lain, Ian yang kala itu primadona sekaligus bad boy-nya sekolah kala itu, menolak pinangan Lyli untuk menjadi kekasihnya waktu itu. Yang membuat Lyli malu berat adalah penolakan Ian disaksikan banyak siswa saat itu.
"Setahun yang lalu."
Ian ber-ooo ria. Setahun lalu berarti saat dirinya baru sadar dari komanya. "Apa kalian saling..."
Belum sempat Ian menyelesaikan pertanyaannya, pintu dibuka pelan dari luar. Masuklah Riel yang langsung memberi kode waspada pada Ian. Pria itu bergegas memakai jasnya untuk menutupi luka yang ada di lengannya. Ian selesai mengenakan benda itu bersamaan dengan suara Lyli menyapa seseorang yang datang bersama Riel.
"Kakak....."
Ian dan Riel saling pandang. Melihat Lyli yang menyambut pria tinggi besar yang mengekor di belakang Riel.
"Kakakmu?"
"Kalian?"
"Ah kenalkan dia Ian Rivaldy dan dia kakakku Leon."
Ian dan Leon saling tatap untuk sesaat hingga suara Lyli memecah keheningan itu. "Ada apa kakak menemui Ian?"
"Dia Ian yang kau ceritakan itu?"
Leon malah balik bertanya bukannya menjawab.
"Dia datang untuk menyelidiki soal mobilmu."
Suara The Eye masuk ke telinga Ian. Pria itu tersenyum samar. Setelah Lyli keluar dari ruangan itu, barulah Leon menunjukkan wajah aslinya. Bagi Leon, nama Ian punya citra buruk di mata pria 29 tahun itu. Pasalnya Ian membuat Lyli menangis berhari-hari sepuluh tahun lalu, gegara ditolak oleh Ian.
"To the poin saja. Aku ingin tahu di mana kau semalam. Apa kau keluar menggunakan mobilmu?"
Leon menunjukkan foto lambo milik Ian di ponselnya. Nada bicara Leon seperti akrab dengan Ian. Tanpa formalitas seperti pada orang lain. Leon memang sempat mencari Ian sepuluh tahun lalu. Sebab Lyli bukan hanya menangis tapi juga mogok makan. Lyli menjadi sangat labil saat itu.
__ADS_1
"Apa kau percaya kalau aku bersama adikmu semalam?"
Ian menjawab sambil tersenyum. Ini akan mengalihkan fokus Leon. Ian tahu benar, Lyli adalah prioritas Leon. Satu hal buruk menyangkut Lyli akan membuat Leon kelabakan.
"Jangan ngawur kamu. Adikku tidak mungkin mau menerimamu di apartemennya."
Ian terkekeh. Leon mengawasi Lyli dengan ketat. Dia memang melihat satu pria masuk ke apartemen Lyli semalam. Tapi Leon pikir itu Rio.
"Itu bukan Rio tapi aku. Rio baru datang tadi pagi. Mengantar Lily."
Leon menajamkan pandangannya pada Ian. Jika yang dikatakan Ian benar, maka dia harus menjauhkan Ian dari Lyli. Dia tidak mau kejadian lalu terulang kembali. Susah payah Lyli membuka hatinya pada Rio, jangan sampai Ian mengacau.
"Jangan pernah mendekati Lily lagi."
"Kami rekan kerja sekarang. Secara tidak langsung, itu membuat kami dekat. Lagi pula, aku pikir, aku tertarik pada adikmu."
Leon meraih kerah kemeja Ian dari seberang meja. Tangan panjang Leon memudahkan pria itu melakukan hal tersebut. Riel ingin bertindak tapi Ian melarangnya dengan kode.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan mendekati Lyli. Kalau kau hanya ingin membuatnya menangis."
"Jadi kau akan merestui hubungan kami jika aku bisa membuatnya tersenyum tiap saat."
Leon menyentah kerah Ian, hingga pria itu terduduk di kursinya. Ian sedikit meringis kala lengannya terbentur bantalan kursinya.
"Kau masih sama seperti dulu. Overprotektif. Lyli sudah besar. Dia sudah dewasa untuk menentukan sikap."
Leon memutar matanya jengah. Pria itu lalu mengulurkan tangannya. "Alibi." Seolah paham, Riel langsung menyerahkan sebuah flash disk ke tangan Leon. "Kalau kau ketahuan berbohong, awas!"
Leon beranjak dari duduknya. Bermaksud keluar dari sana. "Apa kau tidak curiga dengan Rio?"
Pertanyaan Ian menghentikan langkan Leon. Pria itu berbalik, kembali memandang Ian.
"Apa kau cemburu?"
Ian tersenyum smirk. Cemburu? Tidak, sebab Ian tidak menangkap binar cinta antara Lyli dan Rio. "Kau seharusnya tahu kalau aku melakukan screening pada semua yang dekat dengan Lyli. Dan jika aku tidak melarangnya, berarti Rio lolos screening-ku."
Ian tersenyum samar. "Kalau begitu sistem screening-mu harus diperbaiki. Kau meloloskan satu hal soal Rio."
"Di mataku, Rio pria baik-baik. Tidak seperti dirimu, cap brengsek itu masih melekat padamu."
"Menyebalkan!" Ian mengumpat sembari mengepalkan tangannya. Sementara Leon tertawa puas, melihat kekesalan Ian sebelum keluar dari ruang kerja Ian.
__ADS_1
"Calon kakak ipar masih belum rido ni ye."
Ledek Riel yang disambut tatapan tajam bak elang yang siap mencabik mangsanya. "Mau mati ya? Kebetulan ada orderan kornea ni. Aku belum menemukan kandidatnya."
"Emak! Kabur! Ian mau nyongkel mata Riel!"
Riel berpura-pura kabur dari sana. Meninggalkan Ian yang terkekeh melihat aksi lawak asistennya yang satu itu.
****
Kredit Pinterest.com
Ian melompati sebuah meja yang ada di depannya, sesekali melihat ke arah belakang. Dua hari setelah luka tembak di lengannya mengering. Di belakang Ian sekumpulan pria berpakaian hitam tengah mengejar. Sekedar mengejar tidak masalah. Ian juara satu sprinter 200 meter zaman sekolah, berlari cepat bukan masalah untuknya. Yang jadi soal, mereka mengejar Ian sembari menghujani pria itu dengan tembakan.
Dianya saja yang ngeyel. Sebab The Eye sudah memperingatkan kalau presentasi bahaya mencapai 60% jika Ian masuk ke gudang itu.
"Iya deh iya. Besok gak ngeyel lagi. Sekarang berikan jalan." Mohon Ian pada The Eye. Sistem itu masih diam saja. Ian menggerutu, sepertinya dia salah menuruti saran Fao, untuk memberikan emosi pada sistem peretas itu.
Suara tembakan semakin santer terdengar. Pria-pria itu semakin dekat dengan Ian. "The Eye....."
"Kau kan bisa melawan mereka. Jumlah mereka cuma sepuluh orang."
Ketus The Eye dari mana entah berasal. Ian seketika menghentikan larinya. Benar juga, dia kan pintar menembak. Kenapa harus takut. Lagi pula hari ini dia memakai kevlar, rompi anti peluru. Haish, dia mengumpat pada dirinya sendiri.
Detik berikutnya giliran lawan Ian yang lari kocar kacir karena aksi Ian yang menembaki mereka membabi buta dan tanpa jeda. Dalam hitungan detik, tubuh kesepuluh orang itu sudah ambruk ke lantai tanah. Bau anyir seketika mencuat ke udara. Mata Ian berbinar. Dia suka sekali membunuh, apalagi jika itu bisa mendapatkan untung.
Satu peringatan datang. Ian meningkatkan kewaspadaannya. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Ian sedikit memicingkan mata. Mencoba memperjelas pandangan matanya di antara debu yang masih beterbangan di ruangan itu.
"Apa kau senang setelah menghabisi mereka semua? Bukankah tujuanmu ingin bertemu denganku?"
***
Fao dari karya Princess's Handsome Bodyguard. Novel ini sedikit berhubungan dengan novel itu ya guys. Semoga gak bingung.
Up lagi readers,
Ritual jempolnya jangan lupa.
****
__ADS_1