
"Thalia!!!!"
Teriakan Rio dua kali menggelegar di ruang kerja pria itu. Gubrak!!! Rio memejamkan mata, lagi-lagi asisten pribadinya menabrak pintu.
"Ada gak sih yang bisa gantiin dia." Darah tinggi Rio lama-lama menghadapi tingkah Thalia.
"Ada apa, Pak Bos?" tanya Thalia dengan kening memerah hasil benturan dengan pintunya. Rasa marah Rio menguap separuh. Satu kesalahan Thalia buat, tidak memasukkan term and condition dalam klausa perjanjian mereka. Untung belum dia tanda tangani. Dan belum diajukan pada klien.
"Bagaimana sih kamu bekerja? Mosok term sama conditionnya gak ada!" Rio setengah menahan ucapannya agar tidak berubah menjadi bentakan.
"Ha? Masak sih pak bos?" Gadis itu buru-buru meraih lembaran kertas yang baru saja disentakkan kasar padanya, lantas memeriksanya. Selama Thalia memeriksa berkas itu, Rio tidak mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
Mengenakan rok selutut dan kemeja berwarna pink dengan lengan panjang. Serta rambut panjangnya yang dikuncir tinggi. Biasa saja, tapi Rio sejak tadi tidak mengubah arah tatapannya.
"Sial! Kenapa dia jadi melototin aku sih. Padahal aku sudah berdandan culun," batin Thalia risih.
"Kau tahu sendiri yang tertutup itu kadang penuh kejutan." Satu perkataan dari Ian membuat Rio menganggukkan kepala, setuju dengan hal itu.
Ya, sesuatu yang disembunyikan kadang membuat orang penasaran. Termasuk Thalia. Gadis itu sejak masuk bekerja sebulan yang lalu nampak acuh pada Rio dan seluruh tingkah polah atasannya itu. Thalia buat tidak tahu saat pria itu tengah berciuman panas dengan seorang pengejarnya.
"Apa kamu juga begitu, menyembunyikan aset berharga dengan tampilan biasa."
"Pak, aku kerjakan di ruanganku ya."
"Gak! Kerjakan di situ! Nanti gak beres lagi kerjaannya," semprot Rio langsung. Thalia langsung memanyunkan bibirnya. Dia tidak bisa bekerja satu ruangan dengan Rio jika mata si bos sejak tadi serasa menelanjanginya.
"Dasar bos mesum!" maki Thalia sambil membawa laptop yang Rio berikan. Duduk di depan pria itu lalu mulai bekerja. Berusaha mengabaikan tatapan dari Rio.
*
*
Lyli mendobrak masuk ke ruangan Ian. Sejak seminggu ini, gadis itu tidak bisa menemui Ian. Telepon saja tidak pernah aktif. Padahal terakhir kali bertemu, pria itu berjanji akan segera menikahinya setelah Leon menikah dengan Mada. Namun kenyataannya pria itu malah menghilang bak di telan bumi sejak seminggu yang lalu.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya Lyli dengan wajah cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan Ian. Seperti yang sudah-sudah.
"Dia gak masuk Ly, masih ada urusan di luar kota." Riel menjawab ragu. Riel tahu kalau Lyli punya insting yang cukup peka. Cukup tahu kalau di tengah dibohongi.
"Bohong! Luar kota mana? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" cecar Lyli. Gadis manis itu kalau ngamuk serem. Begitulah kira-kira yang tengah Riel pikirkan.
"Malah diam! Di mana dia?" bentak Lyli.
"Di luar kota Ly. Bener. Gak bohong." Balas Riel kalem. Lyli sesaat melotot pada Riel. Sampai akhirnya, pintu ruangan itu ditutup kasar. Riel bahkan sampai memejamkan mata saking kagetnya.
"Cewek kalau ngamuk ngalahin bom atom Hiroshima," gerutu Riel. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Dia di mana sih?" tanya Riel lirih.
Tak berapa lama, dinding di depan Riel berputar. Di sana terlihat Max yang tengah duduk dengan.....Ian. Kapan pria itu kembali. Eh tunggu dulu. Kenapa wajah Ian terlihat muram. Tidak seperti biasanya.
"Ian kapan kau kembali?" tanya Riel antusias.
Tiga hari lalu? Kok Riel tidak tahu. Kepergian Ian dan kedatangan pria itu tampak dirahasiakan, bahkan oleh Max. Jika sudah begitu, biasanya hal itu ada hubungannya dengan dunia bawah.
"Lyli baru saja dari sini. Ngamuk besar." Info Riel sambil mendudukkan diri di depan dua teman karibnya.
Ian menarik nafasnya dalam. Untuk sementara ini dia tidak bisa menjalin hubungan dengan Lyli dulu. "Mulai sekarang aku akan putuskan hubunganku dengan Lyli. Sementara," kata Ian berat.
"Sampai kapan? Kita tidak tahu kapan masalah ini akan selesai. Bukankah akan lebih baik kalau kau berterus terang padanya." Max berusaha memperingatkan.
Ian terdiam. Pria itu sungguh pusing dibuatnya. Di satu sisi, hanya dia yang bisa menolong. Di sisi lain hubungannya dengan Lyli bisa terancam bubar.
"Sebenarnya ada masalah apa sih? Serius sekali." Riel bertanpa penuh rasa penasaran.
Baik Ian dan Max tidak menjawab, dua pria itu saling pandang. Kemudian menarik nafas bersamaan. "Ini berkaitan dengan....."
Setelahnya mengalirlah sebuah cerita. Pada akhirnya ekspresi wajah Riel tidak jauh beda dengan Ian dan Max. Bingung.
__ADS_1
"Dia ada di sini?" tanya Riel. Max mengangguk sebagai jawaban. Ian memang punya satu rumah rahasia, yang hanya ketiganya yang tahu. Rumah dengan tingkat keamanan kelas wahid. Dengan The Eye versi Fao yang menjaganya.
"Lalu bagaimana keadaan Mark? Apa separah dirimu waktu itu?" Riel teringat, pertama kali dipertemukan dengan Ian, saat pria itu masih koma. Dua bulan setelah Ian dipindahkan dari negara M. Max merekrut Riel untuk mengurusi pekerjaan Ian sebagai wakil dirut rumah sakit itu. Sedang Max mengurusi bisnis dunia bawah mereka.
"Dia tidak separah aku. Hanya saja dia terlalu khawatir dengan keselamatan istri dan anaknya. Adiknya sudah diungsikan ke negara suaminya. Dan Lyn terlalu berbahaya jika dibiarkan kembali ke Jogja, tanpa pengawalan. Di Jogja tidak mungkin dong kita terapkan pengamanan ring satu. Terlalu mencolok." Jelas Ian lesu.
"Lalu dia masuk ke sini statusnya sebagai apa? Tidak mungkinlah Fao bisa memalsukan kedatangan Lyn begitu saja." Riel bertanya dengan rasa ingin tahu tingkat tinggi.
Ian dan Max kembali saling pandang. Inilah yang akan jadi masalah besar. Bukan hanya Lyli yang akan marah. Namun Leon bisa saja langsung menembak kepalanya jika tahu soal hal ini.
"Malah diam. Sebagai turis? Memakai visa pelancong 3 bulan. Eh, sudah bebas visa belum ya." Cerocos Riel tanpa henti. Pria itu tidak tahu apa yang sedang Ian rasakan.
Ian sedang mengalami dilema luar biasa. Dia tidak mau kehilangan Lyli, gadis yang sudah dia putuskan, akan jadi pelabuhan cinta terakhirnya, juga tujuan akhir hidupnya. Namun pria itu juga tidak bisa tutup mata pada kesusahan teman lamanya. Teman yang awalnya adalah musuh, namun menjadi saudara pada akhirnya.
Albert dan Fao sudah mengingatkan, betapa besar resiko dari rencana yang Ian ajukan. Hidup pria itu bisa saja kembali berantakan. Padahal Ian sudah bersusah payah untuk membangun kehidupan barunya, tapi lagi-lagi hal tidak terduga menghalangi rencana Ian untuk membentuk keluarga baru.
Ian mengusak wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus bagaimana? Apa dia harus berkata jujur pada Lyli atau menyembunyikan hal besar ini dari sang kekasih.
"Kau masih cinta sama dia?" pertanyaan Riel membuat Ian mengangkat wajahnya.
"Ya gaklah. Aku jatuh cinta sama anaknya."
"Iyalah, kau koma sembilan bulan karena Faaz, mana mungkin kau tidak cinta pada Faaz," cetus Max. Seolah mengingatkan akan kenangan lama yang membuat pria itu akhirnya memutuskan mengakhiri rasa cintanya pada Lyn. Dan mengalihkannya pada putra semata wayang wanita itu, King Faaz Al Fatah.
****
Dari sini kita akan mulai recall ke karya Princess's Handsome Bodyguard.
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****
__ADS_1