
Kredit Pinterest.com
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tanya Ian melalui sebuah chip yang tertempel di punggung tangannya. Penghubung dirinya dan The Eye. Sistem itu langsung merespon. Sepasang kornea sedang dalam perjalanan ke rumah sakitnya. Seharusnya kornea itu sudah sampai di sana dua jam yang lalu. Mengingat ini operasi darurat. Karena saraf mata harus disambung sebelum 8 jam setelah waktu kematian pendonornya.
Sudah hampir lima jam dan kornea itu belum sampai. Tim dokter sudah masuk ke ruang operasi. "Bisa kau melacak di mana benda itu berada?" Tanya Ian. Kalau tim-nya tidak bisa menemukan benda itu. Berarti yang mengambilnya bukan orang sembarangan. Sebuah titik Ian dapatkan. Pria itu lantas melajukan kuda besi dengan lambang banteng nyruduk itu menuju titik yang The Eye tunjukkan.
Namun baru saja Ian akan menaikkan kecepatannya. Sebuah laporan dari Max masuk. Divisi Bedah Saraf kehilangan jejak Lyli sejak sejam lalu. Ian memejamkan matanya. Apalagi ini, pikirnya. "The Eye...."
"Iya....iya....aku carikan kekasihmu itu."
Gerutu sistem tersebut. Ian mulai merajai jalanan yang mulai lengang di malam hari. "Lama sekali sih!" Omel Ian. Sistem itu membalas tak kalah ketus. "Memangnya kau meninggalkan benda yang bisa kujadikan acuan untuk melacaknya!"
Ian seketika menggaruk kepalanya. Hingga ide scan retina Ian ajukan pada The Eye. Dan sistem itu balik mengomel. Bahwa dia sedang melakukan hal itu. Ian baru akan menjawab ketika The Eye memotong bahwa dia sudah menemukan Lyli.
Mobil Ian berbalik karena titik Lyli berlawanan arah dengan tempat kornea itu berada. Siapa yang sudah merencanakan ini. Pikir Ian. Hanya perlu lima menit, Ian sudah masuk ke gedung rumah sakitnya tapi beda cabang. Pria itu menghambur masuk setelah diizinkan satpam. Ian berputar-putar tidak jelas. Karena dia sendiri tidak hafal tempatnya.
"Astaga Ly, apa yang kamu lakukan di sini?"
Kata Ian setelah melihat tubuh Lyli terbaring di atas kasur di lantai dua. Kamar kosong. Ian menepuk pipi Lyli agar bangun. Hingga perlahan gadis cantik itu membuka matanya. "Aku di mana?"
__ADS_1
"Lah malah dia nanya." Tanpa menjawab pertanyaan Lyli, Ian memapah tubuh gadis itu keluar dari ruangan tersebut. Beberapa kali Lyli bertanya tapi Ian diam saja. Dia kehabisan waktu. Lyli sudah dia temukan. Kini dia harus menjemput kornea yang sebelumnya sudah diambil oleh timnya. Ian pikir semuanya akan berjalan lancar, nyatanya tidak.
Terdengar laporan lagi kalau kornea itu berpindah tempat. "Sialll!" Maki Ian tertahan. Di sampingnya, Lyli mulai tersadar. Beberapa detik dan Lyli mulai mengingat kejadian yang dia alami. Ian mengerutkan dahinya setelah mendengar cerita Lyli. "Kau diculik tahu."
Ian mengambil kesimpulan. Tapi Lyli menyanggahnya. "Diculik kok cuma sejam." Gadis itu minta diantarkan ke rumah sakit. Ada operasi dadakan yang harus dia awasi. Ian tidak menjawab. Pria itu malah menaikkan laju banteng nyungsepnya. "Kita mau ke mana sih?" Tanya Lyli memegangi seatbelt-nya. Cukup takut dengan kecepatan yang Ian gunakan.
"Ya, bagaimana?" Ian bertanya sembari melirik Lyli. Pria itu kembali berdecak kesal. Bisa-bisanya dia dipermainkan seperti ini. Benda itu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedang Ian sudah melaju cukup jauh dari rumah sakit.
"Apa kamu ikut dalam operasi itu?"
"Aku konsultannya. Tanpa analisaku mereka tidak bisa mulai."
Ian benar-benar mengumpat dalam hati. Dia sangat kesal. Waktu tempuh tercepatnya adalah 20 menit. Namun itu akan membuat Lyli menjerit protes. Jika dia memperlambat laju mobilnya, Lyli akan terlambat sampai rumah sakit. Operasi itu dijamin akan gagal.
"Kau tahu aturan operasinya?" Lyli mengangguk mendengar pertanyaan Ian. Mendengar jawaban Lyli. Ian tersenyum penuh arti. "Apa?" Tanya Lyli curiga.
"Kalau begitu sorry. Aku terpaksa menaikkan kecepatannya." Ian memindahkan giginya. Lantas menginjak pedal gasnya. Lyli spontan menjerit melihat jarum spedometer Lambo Ian menyentuh angka 100.
"Ian jangan gila!" Pekik Lyli ketakutan. Sedang Ian masih terlihat santai. Bukannya menurunkan kecepatannya, Ian justru menaikkannya. Jerit Lyli semakin kencang. Gadis itu bahkan sudah menutup matanya. Satu sisi Ian fokus pada kemudinya. Di lain sisi pikirannya terhubung dengan The Eye. Meminta sistem itu membersihkan jalannya. Juga menghapus jejak kecepatan yang mungkin terekam CCTV.
Di tempat lain, X tertawa terbahak membayangkan bagaimana kalang kabutnya Ian dengan situasi ini. Ternyata pria itu yang telah merancang kekacauan operasi ini. Pasien operasi ini adalah putra pejabat ternama negeri ini. Jika rumah sakit Ian gagal melakukan operasi ini, maka reputasi rumah sakit Ian akan tercoreng. Juga dapat dipastikan kalau pejabat itu tidak akan tinggal diam. Bisa jadi tuntutan pidana akan dilayangkan ke rumah sakit Ian.
Dua puluh menit berlalu, bagai neraka bagi Lyli. Jantung Lyli seperti melompat dari tempatnya. Sepanjang acara kebut-kebutan itu, Lyli sama sekali tidak membuka matanya. Wajah Lyli terlihat pucat. "Ly, buka matamu. Ini menyenangkan." Goda Ian.
__ADS_1
"Menyenangkan kepalamu!" Umpat Lyli. Gadis itu sedikit mengintip dari balik matanya. Sebuah arahan dari The Eye membuat Ian mengumpat. Jarak tempuhnya akan tambah jauh. Padahal dalam lima menit lagi mereka bisa sampai ke rumah sakit.
The Eye cepat merespon. Ada kecelakaan di depan sana. Hal itu bisa mencegah Ian tiba tepat waktu di rumah sakit. Meski sempat mengumpat Ian menurut juga. Dan akhirnya neraka itu berakhir juga untuk Lyli. "Ayo." Kata Ian mengulurkan tangannya membantu Lyli berjalan. Sungguh perlakuan manis Ian bisa membuat salah paham semua mata yang memandang.
"Kau membuatku terlihat jadi wanita murahan, tahu." Gerutu Lyli, meski gadis itu sama sekali tidak mengendurkan pegangan tangannya di lengan Ian. Lyli harus menetralkan jantungnya sebelum masuk ruang operasi.
"Terserah jika mereka mau bilang kau murahan. Bagiku kau adalah hal paling mahal yang pernah kupunya." balas Ian percaya diri.
"Aku bukan milikmu!" Tegas Lyli.
"Otewe kalau begitu." Lyli mendengus kesal mendengar jawaban narsis Ian. Keduanya mulai masuk ke dalam lift. Dalam lift itu, Lyli mengusak kepalanya, pusing. Gara-gara naik Lambo mahal malah membuatnya jadi mual. Masak iya dia mabuk darat.
"Aku kapok naik mobil sama kamu." Ian terkekeh mendengar protes Lyli. "Alah Ly, darurat. Kalau gak, aku lebih suka menghabiskan semalaman naik mobil denganmu." Lyli membuat suara muntah. Lagi-lagi heran dengan ucapan penuh percaya diri dari atasannya itu.
"Perasaan otakmu jadi korslet setelah bangun dari koma." Ledek Lyli.
"Kan kamu yang udah bangunin aku. Jadi kamulah yang sudah bikin korslet." Jawab Ian cepat. Lyli seketika menelan ludahnya. Dia ingat betul bagaimana Ian terbangun setahun lalu.
"Itu kesalahan. Hanya kesalahan. Tidak ada rasa apapun dalam ciuman itu." Batin Lyli ragu.
****
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komenya ditunggu selalu.
***