Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Permainan


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Satu sosok yang roboh di lantai dua akibat tembakan Ian, nyatanya tidak membuat kehebohan terjadi di klub malam itu. Semua makhluk yang ada di tempat itu tidak terganggu sama sekali, bahkan ketika dua orang menyeret mayat pria yang ternyata bukan target Ian.


Yang menjadi problem Ian sekarang adalah makhluk seksi berjuluk wanita malam yang berada dihadapan Ian, yang semakin liar menggerayangi tubuh pria itu. "Gila!" Umpat Ian setelah beberapa waktu berusaha mengendalikan diri. Terutama yang dibawah sana. Dia perlu pengalihan.


Saat si wanita itu semakin gencar menyentuhnya, mata Ian memindai sekelilingnya. Dan... dapat, Ian melihat seorang pria "nganggur" di tengah semua manusia yang punya pasangan. Ian menggiring wanita yang sepertinya sudah kebelet minta disentuh itu. Satu putaran dan Ian berhasil melepas jeratan perempuan itu.


"Rasain lu. Aku kasih rezeki jangan ditolak." Kata Ian sambil berkedip ke arah pria itu. Si pria awalnya melongo tapi melihat perempuan seksi, siapa yang bakal nolak. Detik berikutnya dua manusia beda gender itu sudah bergelut panas. Bahkan keduanya langsung menepi, mencari celah untuk mencapai nirwana dunia.


"Rejeki nomplok gak tu. Tinggal tubruk." Kekeh Ian.


Ian berbalik lantas membelah kerumunan umat manusia yang tengah berpesta, menikmati surga dunia untuk menghilangkan stres, konon katanya. Pria itu menapaki tangga, naik ke lantai dua. Mata elang Ian memindai, dibantu The Eye, mencari target yang kemungkinan ada di antara ratusan orang di tempat itu.


Hingga telinga Ian menangkap percakapan yang membuatnya yakin, kalau orang yang dia cari ada di dalam sana.


"Seharusnya aku membunuhnya langsung. Kenapa juga hanya dibuat sakit dan bisa disembuhkan. Ndak seru."


"Kita hanya menjalankan tugas. Alasan kenapa dia melakukan itu bukan urusan kita."


Ian menghentikan langkahnya. Lantas mendekat ke arah ruangan yang meski kedap suara, Ian bisa mendengar pembicaraan orang di dalamnya. Percakapan orang itu membuat Ian penasaran. Ditambah pemindaian dari The Eye mengungkapkan kalau itu adalah orang yang dia cari.


Pria itu mencari celah untuk masuk, hingga kesempatan itu datang saat seorang pelayan ingin mengantarkan minuman ke dalam ruangan itu. Saat Ian masuk ke dalam ruangan itu, dilihatnya dua pria yang tengah bicara ditemani ehem...wanita seksi lagi.

__ADS_1


Kedua pria itu berbincang ditemani minuman juga sentuhan tangan dari wanita yang mereka sewa. Ian sejenak menunggu. Hingga dua pria itu setengah tepar. Hendrick Pitterson dan Rahmat Asram, dua nama yang muncul dalam pencarian tersangka yang menginfeksi Abian saat di Arab Saudi.


Saat dua pria itu setengah sadar dan para perempuan itu bekerja, Ian memulai aksinya. Pria itu memberi kode pada dua wanita itu untuk terus melakukan pekerjaannya. Sementara Ian, pria itu duduk di kursi, meraih sloki kecil lantas mengisinya dengan Vodka, kali ini 50% kadar alkoholnya.


"Apa kalian baru saja dapat misi?" Ian mulai bertanya. Dua pria itu menoleh ke arah Ian yang dalam pandangan mereka seorang wanita malam.


"Misi menginfeksi bocah. Yang benar saja. Aku pikir kita akan disuruh menghabisi siapa. Ternyata hanya seorang bocah." Pria beraksen bule itu tampak meremehkan.


"Apa kau tahu siapa dia?" Ian berusaha menahan amarahnya. Pria di hadapannya tampak diam, menikmati sentuhan wanitanya yang mulai memanjakan area pribadinya. Pria itu sesekali mendesis nikmat. Teman pria itu yang beraksen Asia juga tak jauh beda. Dua pria itu sama-sama melayang karena sentuhan si wanita itu.


"Aku tidak tahu namanya. Dia hanya bilang, anak kecil itu umpan yang bagus."


Ian menggebrak meja. Membuat dua wanita itu langsung kabur, Ian tanpa ragu mengeluarkan pistolnya lantas menembak dua paha pria yang beraksen Asia, Rahmat Asram.


"Berani kau menyebutnya umpan?" geram Ian. Wajah Ian memerah menahan emosi. Melihat temannya ditembak, Hendrick langsung menekan tombol darurat. Tombol yang menghubungkan ke pos security dengan bodyguard super mengerikan.


Dooooorrr, satu tembakkan dilesakkan dan Rahmat meregang nyawa dengan dada kiri berlumuran darah. Hendrick panik setengah mati. Pria itu mulai ketakutan. Ian mencengkeram kerah baju Hendrick lantas menyeretnya keluar dari sana.


"Dua arah jam 3, satu arah jam 12, satu arah jam 9."


Ian memegang erat Glock hitam kesayangannya. Begitu pintu di tutup, satu tembakan Ian lesatkan ke arah jam 12. Seorang pria tinggi besar ambruk seketika dengan luka tembak di kepala. "Nice shoot!" gumam Ian mengerikan.


Hendrick ketakutan melihat kelihaian Ian dalam menembak. Suara tembakan kali ini juga tidak menimbulkan suara. Lantai dua yang tadinya tenang mendadak riuh. Setelah pria itu tumbang di tengah lantai dengan luka bersimbah darah.


Ian setengah menyeret tubuh Hendrick. Pria itu sangat ketakutan. Padahal dia adalah seorang pembunuh bayaran. Tapi melihat Ian yang menembaki orang dengan santai dan tanpa rasa bersalah, membuat nyali Hendrick ciut. Pria yang tengah menawannya itu jelas bukan pria biasa.

__ADS_1


Ketepatan dan kecepatan Ian dalam mengintai mangsanya sangat mengesankan. Ian bahkan bisa dengan rileks menyeretnya keluar dari sana di tengah terjangan peluru dari bodyguard yang mulai mengejarnya setelah mayat Rahmat ditemukan.


"Siapkan penjemputan." Perintah Ian.


"Aku mau dibawa ke mana? Aku tidak mau ikut!"


Satu tembakan Ian lesatkan dan Hendrick langsung kicep tak bisa bersuara. Melihat seorang bodyguard mati dengan luka di area pribadinya. Pria itu ngeri melihat Ian yang tampak biasa saja setelah menghabisi musuhnya dengan cara yang menurutnya, sedikit kejam.


"Kalau kau terus berkicau, akan kuledakkan sumber suaranya." Hendrick seketika menutup mulutnya. Takut jika Ian benar-benar melakukannya. Menembak mulutnya.


"120323." The Eye memasukkan kode yang sudah dia copy sebelumnya. Ian menyeret tubuh Hendrick keluar dari tempat itu melalui pintu rahasia yang The Eye temukan. Pintu terbuka dan Ian langsung menghempaskan tubuh Hendrick ke pada dua orang yang sudah menunggunya.


"Pergilah, bawa dia ke tempat biasa." Ian memberi perintah. Dua orang itu patuh. Menarik tubuh Hendrick lalu membawanya pergi dari sana. Saat mobil yang membawa Hendrick pergi. Pintu terbuka dan puluhan bodyguard siap meledakkan kepala Ian dengan pistol di tangan masing-masing. Bukannya takut, Ian justru tersenyum senang.


"Show time." Ian menarik satu pistol dari boot kanannya. Dan adu tembak itupun terjadi. Ian dengan bantuan The Eye berhasil mengelak dari puluhan peluru yang menerjang ke arahnya. Pria itu sesekali menembakkan timah panas dari moncong pelurunya. Dengan akurasi mencapai seratus persen, tiap peluru yang Ian lesakkan selalu tepat sasaran.


Pria itu mengumpat ketika lengannya lagi-lagi tergores peluru. Bahkan pria itu dua kali hampir menjadi korban peluru nyasar. Adu tembak malam itu, sungguh mengerikan. Tak sampai sepuluh menit. Sebagian bodyguard itu bisa Ian atasi. Satu dua bodyguard yang selamat memilih kabur dari sana.


"Malam yang menyenangkan." Kata Ian mulai memakai helm-nya. Pria itu baru saja menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Lama mendiamkan panggilan itu. Satu pesan masuk ke ponsel Ian. Sebuah pesan yang membuat Ian geram. "Lacak nomor ini!" The Eye langsung merespon. Sementara Ian mulai melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


Ian berdecak kesal. Mendengar informasi dari The Eye. "Kau ingin main-main denganku rupanya. Baik akan kulihat sejauh mana permainan ini akan berjalan." Batin Ian.


***


Up lagi readers,

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


***


__ADS_2