Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Musuh Sebenar


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


"Gak mungkinlah."


Rio menjawab tegas. Sementara Ian terkekeh mendengar jawaban Rio. Dengan Leon yang berjalan mondar-mandir bak setrikaan sambil berkacak pinggang.


"Bisa kau ceritakan asal mula kejadian ini?" Leon mencoba bersabar menghadapi Rio. Seperti yang dikatakan Ian, kemungkinan ada salah paham dalam hal ini. Selanjutnya Rio mulai bercerita soal Mada. Leon dan Ian saling pandang. Meski sikap Ian lebih ke menyimak sebab dia sedang mencocokkan dugaannya dengan cerita Rio.


"Nonsense, gak masuk akal! Bagaimana bisa kamu langsung menyimpulkan kalau Mada anak dari musuhmu," sangkal Leon. Pria itu langsung menilai cerita Rio.


"Dia memberikan bukti." Rio tidak mau kalah.


"Bukti model bagaimana yang dia berikan? Yang kemarin saja kau salah sasaran. Siapa tahu yang ini juga."


Rio langsung meraih kaos Ian, ingin menghajar pria itu. Sampai teriakan Mada membuat Rio mundur.


"Kamu membuat takut kakakmu!" gerutu Ian.


Rio dan Leon melotot mendengar perkataan Ian. "Bercandamu gak lucu!" bentak Rio dan Leon hampir bersamaan.


Ian langsung tersenyum misterius. Pria itu merangkul lengan Mada yang juga terkejut mendengar ucapan Ian.


"Jangan pegang-pegang!" Leon berucap penuh peringatan.


"Alah, dia katanya calon istrimu. Berarti kakak iparku."


Rio mendelik mendengar fakta terbaru. Belum habis rasa terkejut Rio soal Mada kakaknya, kini Rio dihadapkan pada satu kenyataan baru. Mada dan Leon akan menikah. Yang benar saja? Ketiga orang itu saling pandang. Tidak paham ke mana arah pembicaraan Ian. Hanya pria itu yang terlihat tahu soal semua yang terjadi hari ini.


Melihat raut kebingungan di wajah Mada, Leon dan Rio. Ian meraih selembar kertas yang dia simpan di balik jaketnya. Melihat kondisi Mada yang mulai tenang, membuat Ian berani membeberkan hal yang sebenarnya.


"Sheria Amada Airlangga dan Mario Erlan Airlangga, kalian kakak adik."


Ian mengulurkan kertas itu kepada Leon lebih dulu. Namun Rio yang kepo langsung berdiri, ikut membaca kertas yang dibaca Leon.

__ADS_1


"99% match. Kalian kakak adik."


Leon seketika melihat Rio yang matanya nanar melihat kertas yang masih dipegang Leon.


"Ka...kakak? Dia kakakku?" tubuh Rio jatuh terduduk, Tubuhnya lemas. Pria itu mulai perlahan mencerna kertas yang baru saja dia baca. Mungkinkah dia melakukan kesalahan besar selama ini? Lain Rio, lain Mada. Wanita itu justru menangis mendengar Rio adalah adiknya.


"Bohong! Ini bohong kan?" Wanita itu berteriak histeris. Tidak percaya bahwa pria yang selama ini melakukan hal mengerikan pada dirinya adalah adiknya sendiri. Dia yang merasa tidak punya siapa-siapa, tiba-tiba masih memiliki seorang adik.


"Ini gila Ian!" Leon berteriak frustrasi. Pria itu tidak menyangka sama sekali kalau Mada dan Rio bersaudara. Rio dan Mada saling pandang.


"Brengsek! Kau penjahat! Bukan adikku. Aku tidak punya adik sepertimu!" Jerit Mada penuh emosi. Wanita itu menolak mentah-mentah kenyataan yang ada. Dia sangat terluka dan trauma dengan perlakuan Rio padanya. Mada langsung mengusap bibirnya kasar, teringat Rio yang sudah pernah menciumnya. Wanita itu juga menepuk-nepuk tubuhnya seperti membersihkan debu dan kotoran yang menempel di dirinya. Teringat Rio pernah menyentuh tubuhnya.


Wanita itu menangis tersedu, mengingat bagaimana Rio hampir melecehkannya. Leon hanya bisa memandang Mada yang kini menutup dua telinganya seolah tidak mau mendengar apapun yang tengah diucapkan Ian.


"Mada dengarkan aku. Ada yang mengadu kalian. Sama seperti aku dan Rio yang juga di adu domba. Tapi semua sudah jelas sekarang. Kalian keluarga...."


"Dia brengsek!!!"


"Yang itu benar seratus persen. Dia memang brengsek!" kekeh Ian. Rio langsung melotot ke arah Ian. Rio langsung meninju tembok di belakangnya. Rio memejamkan mata mengingat perlakuannya pada Mada, kakaknya. Gila! Ini benar-benar gila! Siapa dia yang berani melakukan ini padanya. Siapa?!


"Kenyataannya begitu." Ian meyakinkan Mada.


Leon menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mempercayai kebenaran yang ada. "Itu valid kan?" segera Leon bertanya.


"Kau meragukannya? Kau bisa melakukan tes DNA ulang kalau tidak percaya?" jawab Ian cepat.


Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu itu. Satu lagi misteri terkuat, meski belum serta merta mengungkap dalang sebenarnya. Ketiganya berpikir siapa dan mengapa, lalu tujuannya apa orang itu melakukan semua ini.


Pertama mengadu domba Ian dan Rio. Lalu Rio dengan Mada. Apa motif orang itu? Kenapa melakukan hal yang begitu mengerikan. Mengadu domba Ian dan Rio, oke masih bisa dicerna akal. Keduanya mafia, jika mereka berseteru, akan ada pihak ketiga yang diuntungkan dengan sengketa Ian dan Rio.


Namun mengadu domba Rio dan Mada, membuat pria itu hampir meniduri kakaknya sendiri. Masuk akalkah itu? Atau segila apakah orang itu? Hanya orang tidak waras yang meminta adik melecehkan kakaknya sendiri. Meski pada kenyataannya, memang banyak orang tidak waras di muka bumi ini.


"Aku akan mencari orang itu!" Rio berkata tiba-tiba. Pria itu berbalik, lantas berjalan menuju pintu. "Tunggu dulu! Jangan gegabah! Dia pasti orang yang berbahaya. Kita harus menyusun rencana lebih dulu." Leon menahan bahu Rio. Memperingatkan Rio kalau tindakan pria itu bisa berakibat fatal pada mereka.


"Lalu kau suruh aku diam saja. Aku hampir meniduri dia! Kakakku sendiri kalau itu benar."

__ADS_1


"Itu benar Mario Erlan."


"Kau bilang kami bisa tes DNA ulang. Itu membuktikan kalau kau sendiri ragu dengan kertas yang kau bawa ini." Rio berbalik lalu melemparkan kertas tadi ke wajah Ian.


"Lakukan itu untuk mengklaim hak kalian atas Airlangga Resorts dan Hotels."


"Saatnya kau keluar dari duniamu." Satu tatapan dari Ian menyiratkan kalimat itu. Wajah Rio mengeras. Berhenti dari dunia bawah? Tidak mungkin. Rio punya keterikatan khusus dengan dunia bawah.


Pria itu baru saja akan menjawab, ketika satu bawahan Leon menerobos masuk dengan langkah sempoyongan. Ada luka yang mengeluarkan darah di pelipis pria itu.


"Kapt....kami diserang." Lirih pria yang tak lain adalah Abri. Leon langsung menyongsong tubuh Abri yang hampir ambruk.


"Diserang bagaimana?" Leon bertanya panik. Pikirannya seketika tertuju pada Lyli. Sang adik masih berada di dalam mobil.


"Ada sekelompok orang yang menyerang kami dengan peluru bius. Yang lain langsung pingsan, tapi saya bisa melawan."


"Lyli bagaimana? Di mana dia?" cecar Leon, panik luar biasa. Rio membulatkan mata mendengar nama Lyli disebut.


"Mereka membawa Lyli." Kata Abri sebelum pria itu jatuh pingsan. Ian langsung berdiri, melangkah ke pintu. Sekarang apa lagi? Leon langsung meraih walkie talkie-nya. Menghubungi kantor pusat. Meminta penelusuran soal keberadaan sang adik.


"The Eye, cari jejak Lyli." Perintah yang sama juga keluar dari bibir Ian. Meski lirih, tapi asisten virtual Ian itu langsung merespon. Kepanikan meningkat kembali. Leon bergerak cepat. Masalah Mada dan Rio mereka kesampingkan dulu. Kali ini urusan Lyli lebih mendesak.


"Jika dia orangnya, akan kubuat perhitungan dengannya. Kau, Mada, aku dan sekarang Lyli. Siapa target dia sebenarnya." Kata Rio, ikut masuk ke mobil Leon. Setelah Leon menghubungi paramedis dan ambulans untuk menjemput anak buahnya yang terluka. Dengan Elsa dan Indira yang ikut serta untuk mendampingi Mada.


Bisa dibayangkan bagaimana cemasnya tiga orang itu. Siapa musuh sebenar yang tengah mereka hadapi?


***



Up lagi readers.


Jangan lupa ritual jempolnya ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2