Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Hukuman Setimpal


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


"Max, dapatkan Samuel untukku."


"Got it!" Max menyahut dari ujung.


Sementara pria itu tengah melepaskan bom di tubuh Lyli. "Aku gak mau pergi tanpamu." Kata Lyli dengan tangis mulai pecah. Satu senyum dari Ian membuat Lyli tertawa dalam tangisnya. Darah mengalir dari luka tembak di bahu Ian.


"Cuma lemparin ini ke belakang sana. Biar gak terlalu ngefek ledakannya. Cepat pergi!" Ian mendorong tubuh Lyli pada Leon. Meminta ketiganya untuk segera keluar dari sana.


"Akan kutemani." Rio berujar.


"Gak perlu." Ian berlari membawa bom yang hampir meledak itu. Sesuai arahan Ian, Leon menyeret Lyli dan Rio keluar dari sana, di tengah kecemasan Lyli akan nasib Ian. Baru saja mereka berbalik, sebuah ledakan terjadi.


Boooommm


Duaaaarrrr


Ketiganya melotot, melihat api besar yang muncul di tengah gudang itu. "Ian.......!" Lyli berteriak. Gadis itu ingin menyusul Ian. Namun Rio dan Leon menarik tubuh Lyli. Sebuah kebakaran hebat memisahkan mereka dan Ian yang tidak terlihat, saking besarnya kobaran api.


"Ayo keluar. Atapnya mau runtuh!" teriak Rio saat pria itu mendongak ke atas. Di tengah jeritan Lyli memanggil Ian, mereka bertiga keluar dari gudang itu. Di luar mereka di sambut oleh bawahan Rio dan Ian yang diperintahkan untuk membawa ketiganya pergi dari sana.


Terdengar bunyi bedebam keras, saat atap dan dinding gudang itu rubuh karena ledakan juga terjangan api. Ada bom lain yang diletakkan di tempat itu rupanya. "Kak...Ian bagaimana?" tanya Lyli lemas. Jika Ian berhasil keluar dari sana setelah api menjalar, pria itu dipastikan selamat. Pasalnya ada ledakan kedua yang terdengar, bersamaan dengan api yang merobohkan dinding gudang di sebelah tempat Ian berada. Apa bomnya meledak sebelum Ian berhasil membawanya keluar dari sana?


Semua orang kalut dan panik. Menebak-nebak apa yang terjadi pada Ian. Meski satu hal yang pasti. Tidak ada raut kecemasan berlebih pada empat orang anak buah Ian yang disiagakan Max di sana.


Doooorrrr

__ADS_1


"Sialan!"


Bunyi tembakan kembali terdengar. Anak buah Ian dan Rio langsung bersiaga. Sesuai prediksi The Eye, akan ada serangan susulan. Maka Max meninggalkan beberapa anak buahnya untuk melindungi Leon dan Rio juga Lyli. Meski Rio jelas membawa pasukannya sendiri.


Leon menarik Lyli bersembunyi di balik mobil. Sangat beresiko. Namun hanya itu yang bisa dia gunakan untuk nelindungi sang adik.


"Abri, kami di serang!" Leon menghubungi Abri. Bawahan Leon itu memang sedang menuju lokasi Leon. Adu tembak terjadi, Lyli hanya bisa menutup kepala dan telinganya. Ketakutan. Sementara di sekelilingnya, semua orang masing-masing menembakkan peluru ke arah lawan. Leon beberapa kali menengok. Mengecek keadaan Lyli. Rasa cemas meliputi hati Leon. Dia sudah kehilangan orang tua, dia tentu tidak mau kehilangan adik satu-satunya.


Ketika mereka mulai terdesak, dan kepanikan mulai membuyarkan akal sehat. Ketakutan mendominasi, terlebih musuh kini semakin mendekat ke arah mereka. Beberapa anak buah Rio tumbang, tapi tidak dengan anak buah Ian. Keempatnya terhubung dengan Riel dan The Eye, hingga mereka seperti memiliki radar, yang memandu mereka untukmenyerang dan menghindar sekaligus melindungi Leon, Lyli dan Rio sesuai perintah Ian.


Satu anak buah Rio tumbang, keadaan semakin gawat. Saat itulah bantuan datang. Dua mobil datang dengan anggota lebih dari dua puluh orang, langsung melompat turun dan mengepung musuh mereka.


"Menyerah atau kami tembak!" peringatan pertama datang dari Abri. Protokolnya begitu. Tidak boleh asal tembak. Melihat bantuan satu kompi penuh membuat para musuh itu reflek mengangkat tangan. Menyerah, melawan mereka hanya akan meregang nyawa sia-sia. Bodo amat dengan perintah tuannya.


Satu persatu senjata dilucuti, dilanjutkan dengan mengikat tangan mereka. Borgol tidak cukup untuk mereka semua.


"Kapt, gak apa-apa?" tanya Abri cemas.


Mereka pernah bertengkar, adu tinju bahkan adu tembak. Namun beberapa waktu terakhir, Rio menyadari kalau dendamnya salah alamat. Bukan Ian penyebab meninggalnya sang paman. Ian justru korban dari kejahatan Carlos, pamannya. Atau entahlah, Rio pikir harus menyelidiki ulang soal dirinya sendiri. Mengingat sekarang terungkap kalau dia putra keluarga Airlangga.


"Aku akan mencarinya." Rio beranjak dari samping Lyli. Namun Abri menahan Rio. Pria itu mengatakan pemadam kebakaran sedang menuju kemari.


"Pemadamnya datang. Dia keburu mokat!" Kesal Rio, menatap tajam pada Abri. Sementara Abri seolah tidak peduli pada makian Rio. Tugasnya adalah memastikan tidak ada korban tambahan dalam kejadian itu.


Leon sama paniknya dengan Lyli dan Rio. Ingin rasanya dia menerobos api yang berkobar besar di depan sana. Terlebih mengingat Ian tengah terluka. Di tengah kekalutan dan berbagai pikiran buruk yang berkecamuk, satu ledakan terdengar lagi. Semua langsung melongo melihat api membumbung semakin tinggi.


"Bom lagi? Sebenarnya berapa bom yang mantan mertua Ian pasang?" Rio berucap setengah menggerutu. Mengingat Samuel Santos yang berhasil lolos.


"Ya...halo." Satu panggilan masuk ke walkie talkie milik Leon. Pria itu sesaat terdiam. Mendengarkan laporan dari satu anak buahnya. Pria itu memandang kobaran api yang masih membara. Ekspresi Leon menunjukkan raut wajah terkejut.

__ADS_1


"Ada apa?" Rio bertanya cemas.


"Samuel Santos tertangkap."


Ha? Hampir semua melongo mendengar laporan dari anak buah Leon. "Bagaimana bisa?" Begitulah yang ada di pikiran semua orang. Saat semua orang sibuk dengan pertanyaan bagaimana Samuel Santos bisa berada di kantor polisi. Satu teriakan dari anak buah Ian mengejutkan semua orang. Terlebih orang itu langsung menerobos kobaran api. Mencari seseorang.


"Tuan.....!" teriak pria itu, sambil berlari ke arah kobaran api. Di susul oleh tiga teman lainnya. Dari kobaran api dan kepulan asap tebal. Keempatnya kembali dengan dua orang memapah sesosok pria yang tampak lemah. Dua yang lain membuka jalan agar tidak terkena kobaran api.


"Ian....!" teriak Leon, disusul Rio dan Lyli yang langsung dicekal Abri.


"Tunggu saja. Mereka akan ke sini." Abri memperingatkan. Kebakaran masih cukup berbahaya untuk warga sipil. Mereka mulai mendekat dengan Leon dan Rio yang kini memapah Ian. Dari jauh, suara sirine kebakaran mulai terdengar.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Leon lirih. Ian menganggukkan kepala, sambil bersandar di kursi mobil yang sudah Lyli buka.


"Kak, kita perlu oksigen. Dia sesak nafas." Lyli mulai memeriksa Ian.


Rio mulai menghidupkan mobilnya. Sambil menunggu Leon memberi arahan pada Abri. "Tahan sebentar lagi. Belum mau mati kan?"


"Tentu saja belum. Nyawaku ada sembilan, baru kugunakan dua, masih ada tujuh." Balas Ian dengan nafas tersengal.


"Edannnn!" maki Rio keras.


Mobil mulai melaju dengan kecepatan penuh. Satu perintah kembali Ian berikan. Membersihkan jalur untuknya agar cepat sampai di rumah sakit.


"Aduhhh Ly, lelah sekali aku." Keluh Ian sambil menyandarkan kepalanya di bahu Lyli. Lelah tentu Ian rasakan. Namun dia sangat puas. Satu masalah sudah selesai. Tinggal memalsukan bukti untuk menjerat Samuel Santos agar mendapat hukuman setimpal. Lyli tampak mengusap pelan kepala Ian yang kini memejamkan mata. Kepalanya mulai pusing.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih."


***


__ADS_2