
Ian semakin hari bertambah frustrasi. Sikap Lyli begitu dingin padanya, kian acuh pada pria itu. Tidak peduli padanya. Pria itu jadi sering uring-uringan sendiri, tanpa sebab yang jelas. Menjadikan Max dan Riel sasaran kemarahannya. Dua pria itu hanya bisa diam, saat Ian mengomel tidak karuan.
"Jadi gini ya kalau dicuekin sama orang yang dicinta," bisik Max.
"Ian sih gak mau jujur dari awal. Sekarang kalau begini, kita harus bagaimana?" Riel balik bertanya. Hanya kedikan bahu yang Riel terima sebagai jawaban. Riel mendengus kesal, mengetahui dia tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Dua pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
Max menghentikan pekerjaannya, saat ada panggilan masuk ke ponselnya. Nomor rumah Ian yang sudah diamankan jaringannya oleh The Eye versi Fao. Sesaat Max terdiam, mendengarkan seseorang di ujung sana bicara. Beberapa waktu berlalu, sampai senyum Max terbit. Wajah pria itu berubah sumringah. Sebuah harapan baru tumbuh. Berharap keadaan berubah lebih baik.
"Baik, akan kulakukan." Max menjawab antusias. Riel seketika menatap kepo pada Max. "Proyek besar, Riel."
Dua hari berlalu. Lyli tengah berjalan menuju parkiran ketika Max mengejarnya. Hari ini rencana mereka akan direalisasikan alias diwujudkan. "Ada apa?" tanya Lyli judes.
"Astaga Ly, marahnya sama Ian ya sama Ian judesnya. Aku jangan dibawa-bawa." Protes Max.
"Kalian kan setim, 11 12, gak ada beda. Dah dadah, aku mau pulang."
Max menahan tangan Lyli, mencegah gadis itu pergi. Max berkata kalau ada yang ingin bertemu. Lyli tidak mau menemui orang itu jika dia adalah Ian. Namun Max dengan cepat menyangkal.
"Bukan Ian yang ingin bertemu. Tapi orang lain. Ikutlah, aku jamin kau akan menyukainya."
Bujuk Max, setelah beberapa kali mengeluarkan jurus andalan yang Max pelajari dari Riel yaitu merengek. Akhirnya hati Lyli luluh. Gadis itu mau ikut Max untuk menemui orang itu.
Pergi dengan mobil Max, Lyli sama sekali tidak menaruh curiga pada tangan kanan Ian tersebut. Gadis itu hanya berdiam diri sambil memainkan ponselnya selama perjalanan. Barulah setelah beberapa waktu, Lyli mulai menyadari arah yang dilalui Max adalah jalan menuju rumah Ian yang pernah Lyli ikuti waktu itu.
"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Lyli kesal.
"Ke tempat orang yang ingin bertemu denganmu." Max menyahut singkat.
"Aku tidak mau bertemu dia Max." Protes Lyli.
"Bukan dia yang ingin bertemu tapi orang lain."
Lyli membulatkan mata mendengar jawaban Max. Beberapa waktu terakhir, kemarahan Lyli mulai berkurang. Meski dia sama sekali belum mengubah sikapnya pada Ian.
__ADS_1
Rio yang kerap bertemu dengannya, dan masukan dari pengantin baru membuat kemarahan Lyli perlahan menguap. Rio yang kini mulai serius menjalin hubungan dengan sekretaris cerobohnya, kerap menenangkan Lyli. Pria itu juga mengatakan kalau Ian bukan tipe pria yang mudah berpaling, jika sudah menyatakan cinta pada seorang wanita.
"Alah, kalian hanya sedang membantunya." Lyli menjawab judes saat Rio dan Leon bicara padanya. Kesehatan Ian menurun akibat terlalu banyak memikirkan Lyli. Dua hari lalu, Ian bahkan sempat drop dan harus diinfus.
"Jika kami tengah membantunya, kami tidak perlu susah-susah menjelaskan padamu." Leon menyahut tak kalah judes dan absurd. Sudah jelas mereka tengah membujuk dirinya agar berbaikan denga Ian, masih juga menyangkal.
"Kami hanya ingin kejadian dulu tidak terulang lagi. Kalian sudah sama-sama tua. Kau bukan anak kecil lagi." Leon berujar sambil melihat tajam ke arah sang adik.
"Kalau begitu sampaikan juga itu padanya." Lyli membalikkan kata-kata Leon. Baik Rio maupun Leon hanya bisa saling pandang melihat betapa keras kepalanya Lyli.
Kembali ke Lyli dan Max. Gadis itu hampir saja melompat keluar dari mobil Max, jika saja pria itu tidak mengunci mobilnya. Lyli mendelik marah pada Max, tapi gadis itu juga sadar. Melawan Max juga tidak ada gunanya. Pria itu diam seribu bahasa, sampai mereka sampai di depan rumah Ian.
"Is mise Maximus Alandro, ag iarraidh rochtana."
Sebaris kalimat yang berarti, aku Maximus Aleandro, meminta izin masuk, terdengar dari mulut Max. Tak lama, satu notifikasi terdengar "cead tugtha" yang berarti izin diberikan, terdengar. Tentu setelah Fao sendiri yang memberi Max akses masuk.
Lyli mengerutkan dahinya. " Bahasa mana tu?"
"Irlandia." Balas Max singkat. Maybach putih itu berhenti tepat di garasi di belakang sebuah Audi berwarna hitam. Lagi-lagi Lyli dibuat kesal dengan tingkah Max. Asisten dan bosnya itu sama-sama menjengkelkan di mata Lyli.
"Uncle Max, ibu sudah datang ya?"
Teriak suara itu. Lyli membeku di tempatnya berdiri. Suara dan wajah itu, dia pernah melihatnya di suatu tempat. Lyli sesaat melamun, untuk mengingat wajah Faaz yang kini berjalan ke arahnya sambil membawa sebuket bunga tulip dengan campuran warna merah dan putih.
"White tulips means sorry and red tulips means love."
Yang berarti tulip putih bermakna maaf dan tulip merah berarti cinta. Faaz mengulurkan buket bunga itu pada Lyli yang malah mematung di tempatnya. Air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu. King Faaz Al Fatah, putra mahkota kerajaan M berdiri di hadapannya. Dengan wajah penuh permohonan, mata bening bocah laki-laki seolah menyihir pikiran Lyli. Wajah tampan perpaduan Asia dan Eropa membuat Faaz begitu istimewa.
"Maafkan kami Ibu, sudah membuat Ibu dan Ayah bertengkar." Faaz berucap lirih sambil menundukkan kepala, merasa kalau Lyli tidak mau memaafkan dirinya.
Lyli langsung memeluk tubuh kecil itu sambil menangis di pundak Faaz. "I didn't mean to take Ayah from you. Faaz tidak bermaksud mengambil ayah darimu. Maaf. Sorry. Mianhae, آسف, Scusa, nyuwun pangapunten...."
Tawa meledak begitu Faaz mengucapkan kata maaf dalam berbagai bahasa, dan terakhir menggunakan bahasa sang ibu yang orang Jawa.
__ADS_1
"Muka bule, lidah Jawa. Faaz...Faaz...."
Lyli mengusap air mata yang turun di pipinya juga di pipi Faaz. "Siapa ayahmu?" tanya Lyli.
"Mereka memanggilnya K, tapi kata Ummi, ibu memanggilnya Ian."
"Siapa ibumu?" cecar Lyli yang mulai tersentuh dengan tindakan Faaz.
"Lyandra Daniela Ortega. Ampun deh Uncle Max, susah bener nama ibu." Tawa kembali meledak di rumah itu. Lyli sendiri tersenyum simpul.
"So Ibu, maafkan ayah ya. Dia gak pernah ninggalin ibu. Ayah cuma nolongin kita. Abi lagi sakit, uncle Fao dan uncle Albert sedang sibuk beresin orang jahat. Jadi gak ada yang jagain kita. Makanya ayah bawa kita ke sini. Uncle Hans dan aunty Ve juga harus pulang ke Prancis sama Felix."
Bocah laki-laki itu kembali menundukkan kepalanya. Sementara Max dan pengasuh Faaz hanya bisa melihat pemandangan itu sambil terdiam. "Aunty....Ibu gak marah kok. Cuma kesal aja sama ayah. Sebab ayah gak cerita soal kamu sama ummi."
Senyum Faaz mengembang, "Jinjha?"
Max dan Aulia, pengasuh Faaz menepuk pelan dahi masing-masing. "Ini sih kebanyakan kamu ajak nonton drakor," celetuk Max.
"Enggak ya, aku nonton kalau Faaz sudah tidur," bantah Aulia.
"Terus bagaimana Faaz bisa tahu tu bahasa "jinjha" sama kemarin bilang "jebal" segala waktu minta es krim ke aku," tanya Max. Dua orang itu saling pandang sampai satu nama terlintas di benak masing-masing. "ARIEL DELACOZTA!!" geram keduanya bersamaan.
Saat Faaz mulai masuk ke gendongan Lyli, satu suara membuat suasana kembali hening.
"Apa dia sudah datang?"
"Aku harap white flag akan segera berkibar." Bisik Max di telinga Aulia yang langsung manggut-manggut setuju. Tanpa Aulia tahu, Max menatap intens pada pengasuh Faaz merangkap bodyguard bocah kecil itu.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****