Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Kegilaan Lyli


__ADS_3

"Biar aku yang menyetir."


Rio merebut kunci mobil dari tangan Lyli. Mendorong tubuh Lyli masuk ke pintu mobil sebelahnya. Mobil Rio. Lyli hanya diam dengan wajah kesal bukan kepalang. Hari ini dia kembali dibodohi oleh Ian. Seperti kata Leon dulu, sekalinya brengsek tetap saja brengsek.


"Kau mau ke mana?"


"Neraka!" Jawab Lyli ketus. Dia memalingkan wajahnya. Enggan melihat ke arah Rio.


"Yakin mau ke neraka. Bekalnya dah luber?"


"Jalankan mobilnya! Atau aku yang nyetir sendiri!" Teriak Lyli.


"Alamakjang, busyet. Adik perawan Leon kalau ngamuk....sereemmmmm."


Satu tatapan tajam Rio terima dari Lyli, membuat Rio mulai melajukan mobilnya, menjauh dari venue pernikahan Leon. Kakaknya happy-happy, otewe belah duren. Eh adiknya patah hati. Rio menarik nafasnya pelan. Mencoba menahan diri untuk tidak bertanya pada Lyli.


Rio meraih ponselnya, mengetik pesan pada Thalia. Karena dia tadi datang bersama sekretarisnya. Rio agak terkesan pada penampilan Thalia hari ini. Benar kata Leon, Thalia terlihat cling kalau dipoles. Mengabaikan rasa kagum pada sekretaris cerobohnya, pria itu kini melihat Lyli yang mulai melepas heelsnya. Mengurai sanggul di kepalanya. Lantas mengambil tisu basah untuk membersihkan riasannya.


"Ly....Ly gak gitu juga kali bersihin make up. Nanti iritasi kulitmu." Rio memperingatkan.


"Bodo amat!" judes gadis itu. Lyli mulai mengacak-acak mobil Rio. Membuka dashboard mobil Rio. Menoleh ke arah kiri dan kanan lalu melihat ke jok belakang.


"Cari apa?" Rio bertanya heran.


"Bawa pistol gak?"


Rio membulatkan mata mendengar pertanyaan Lyli. "Buat apaan?"


"Buat nembaklah, masih nanya." Rio tentu menggeleng sebagai jawaban. Meski ada dua Revolver di bawah jok Lyli.


"Alkohol?"


"Kagak ada Ly, kagak ada yang begituan. Bisa meledak mobil gue kalau gue bawa alkohol."


Lyli menghembuskan nafasnya kasar. Lantas mengacak rambutnya, yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.


"Turunkan aku di depan kalau begitu." Paksa Lyli.


"Mau ngapain?"


"Mau ngapain lagi. Cari pelampiasanlah. Di sini dada gue makin sesek."


"Lampiasin sama gue. Gue bisa kok muasin lu semalaman." Balas Rio sambil menaikkan satu alisnya. Meski detik berikutnya, Rio menggeram marah, mana kala Lyli berani menyentuh area pribadinya.

__ADS_1


"Seperti ini?"


"Ya Ly, terus Ly. Enak..begitu terus...." Kata Rio, sambil merem melek menikmati sentuhan Lyli.


"Orang gila!" Maki Lyli, selanjutnya gadis itu membuka pintu mobil Rio, keluar dari sana. Meninggalkan Rio yang menganga karena Lyli pergi begitu saja. Setelah memancing hasratnya.


"Lyli gemblung! Ly....Lyli mau ke mana sih?" Rio berteriak sambil menepikan mobilnya. Lalu mengikuti langkah Lyli yang nyeker, alias tanpa alas kaki. Penampilan Lyli benar-benar seperti orang gila.


Tidak berapa lama langkah Lyli terhenti di sebuah wahana permainan. Ian langsung berjongkok di samping Lyli. Setelah ngos-ngosan karena mengejar adik Leon itu.


"Kira-kira dong kalau ngerjain orang. Nyiksa gue lu."


"Kapok! Menjijikkan sekali sih lu!" Maki Lyli. Mengabaikan rasa tersiksa Rio.


"Yaelah Ly, dia tu sensi, baperan banget lagi."


"EGP! Emang gue pikirin! Dah beliin gue tiket masuk ke sana." Lyli melangkahkan kakinya ke area wahana permainan.


"Hadeuuuhhh, mana gak bawa dompet lagi. Ly....Lyli...lu kalau ngambek jangan norak-norak amat deh."


Lyli mendelik ke arah Rio, membuat pria itu melangkah gontai ke arah box tiket. Tak berapa lama, Lyli sudah berteriak keras. Melepaskan rasa kesal dan marahnya. Sambil memaki nama Ian dari atas rollercoaster yang dinaikinya.


"Ian brengsek! Menyebalkan...."


"Dah...dah....gue nyerah...huwekkkk....." Rio muntah setelah mengawal Lyli naik rollercoaster.


"Cemen lu, baru segitu doang dah KO, gitu kok mau muasin gue semalam." Lyli berdecih mengejek.


"Yang itu beda urusan Ly, lu mau berapa ronde gue jabanin. Tapi yang ini, lu gila aja. Sepuluh kali naik rollercoaster. Dan situ masih mau naik lagi. Silahkan. Gue nunggu di sini aja. Masih sayang raga, gue."


Rio berdalih. Lyli benar-benar seperti orang kesurupan. Sepuluh kali naik roller coaster dan kondisinya masih baik-baik saja.


"Kerasukan demit mana ya tu perawan, huwekkkk." Rio muntah lagi setelah melihat Lyli kembali naik kereta luncur itu.


"Pak satu turn lagi ya?" Rio berteriak pada si petugas karcis roller coaster itu. Si bapak mengangguk, memasukkan jumlah Lyli naik wahana itu. Saking banyaknya Lyli naik wahana itu. Si tukang karcis mengatakan, nanti bayarnya sekalian setelah Lyli sudah selesai. Sepertinya bapak penjual tiket itu tahu kalau Lyli sedang tidak baik-baik.


"Untung e-walletku gak kosong. Kalau kosong mau dibayar pake apa coba tiket naik roller coaster itu. Dibayar pakai janji manis sama wajah tampanku, gak laku e ternyata."


Lyli berdecak kesal, mendengar gerutuan Rio. Keduanya kini naik komedi putar, setelah Lyli menghentikan kegilaannya di angka 12, Lyli mengeluh pusing kepala.



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


Beberapa menit mereka menikmati putaran slow komedi putar itu. Ian memilih duduk di kereta yang kursinya bisa dia gunakan untuk berbaring. Sementara Lyli memeluk kuda poni yang jadi tunggangannya. Tiga cup boba berjajar di bawah kaki Rio. Satu lagi masih diminum oleh Lyli.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Rio sambil memejamkan mata. Menetralisir rasa mual yang sesekali muncul.


Lyli menggeleng. Dia masih marah pada Ian, meski rasanya tidak sebesar tadi. "Aku pikir kau harus mendengarkan penjelasan Ian."


"Gak sudi!" tolak Lyli langsung.


"Ly, dengarkan aku. Jika Ian memang melakukan ini, dia pasti punya alasan. Dia gak akan sembarangan melakukan sesuatu tanpa sebab yang jelas."


"Rio, kau dengar sendiri kan. Dia aja sudah punya anak dan istri. Ihhh, gue berasa jadi pelakor deh." Bahasa Lyli campur aduk antara formal dan tidak. Antara aku-kamu dan lu-gue.


"Setahuku, Ian belum menikah lagi sejauh ini. Bisa jadi dia sedang melakukan misi atau bagaimana. Kau tahu sendiri kalau Ian mantan mafia."


"Sama kayak elu!"


"Iya, sama kek gue. Tapi dengarkan penjelasan dia sekali saja. Siapa tahu ada yang miss di antara kalian. Lagian lu coba cari tahu deh siapa anaknya Ian. Siapa tahu ada petunjuk di sana."


"Gue cuma dengar dia nyebut Faaz."


"Ya sudah googling sana. Tanya sama mbah segala tahu siapa itu Faaz."


"Faaz? Bukan King Faaz Al Fatah kan?" batin Rio sambil memejamkan mata. Pria itu cukup tahu, jika yang dimaksud Faaz yang itu, ada kemungkinan Ian tengah membantu keluarga kerajaan itu. Mengingat negara itu sedang kacau balau.


"Rio....Rio....lu tahu gak? Yang nongol siapa waktu gue ketik Faaz?"


"Siapa?" kepo Rio masih dengan mata tertutup.


"King Faaz Al Fatah, putra mahkota negara M, putra Raja Emmanuel dengan Ratu Azlyn"


Rio tersenyum miring. Meski seterusnya mulut Lyli tak berhenti membaca soal Faaz dan keadaan negara itu yang tengah tidak kondusif.


"Setidaknya kemarahanmu tidak mencederaimu." Batin Rio begitu lega setelah mengawal kegilaan Lyli di wahana bermain itu.


***



Ian dan Lyli yang mabuk setelah naik roller coaster 12 kali 🤭🤭🤭


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2