Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Deal


__ADS_3

Lyli menatap takjub pada seorang wanita yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun dalam balutan gamis berwarna biru langit, dengan hijab sederhana berwarna senada dengan bajunya. Wanita itu tersenyum manis pada Lyli. Senyum yang Lyli yakini, akan meluluhkan hati setiap pria yang melihatnya. Senyum yang sanggup meneduhkan dan meredakan amarah seseorang.


Azlyn Maiza Khairunnisa, namanya pun sangat indah untuk disebut. Tidak heran jika Ian dulu rela melakukan apa pun untuk mendapatkan wanita yang kini berdiri di hadapan Lyli. Seuntai kalimat salam Lyn ucapkan, dengan Lyli terbata-bata menjawab.


"Faaz, aunty berat itu." Seloroh Lyn. Namun Faaz justru menelusupkan kepalanya ke leher Lyli. Seolah menikmati aroma leher gadis itu.


"Gak apa-apa, Kak."


Senyum Lyn mengembang. Untuk beberapa waktu satu percakapan basa basi mengudara di antara keduanya. Sampai tiba waktunya, Lyn mulai menyinggung soal Ian. Wanita itu menjelaskan soal dirinya dan Faaz. Juga semua hal yang menyangkut kedatangan, serta masalah negaranya. Tidak ada satu pun yang ditutupi. Satu hal yang Lyn tegaskan. Dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Ian. Yang Ian lakukan hanyalah murni untuk menolongnya.


"Jadi aku mohon, kamu tidak salah paham lagi padanya. Dia yang sekarang sudah berubah. Dia bukan lagi Ian yang dulu. Dia adalah pria yang penuh tanggung jawab saat ini. Jika dia mengatakan akan mencintai dan menikahimu, dia akan melakukan hal itu."


Lyli terdiam mendengar perkataan Lyn. Terlebih wanita itu bicara sambil memegang tangan Lyli. "Beri dia kesempatan. Dia tersiksa dengan ulahnya sendiri." Lagi...Lyn berucap penuh harap pada Lyli.


Hening menyapa keduanya, sampai bunyi "gubrak" terdengar dari lantai dua. Di mana kamar Ian berada. Keduanya sontak menoleh ke sumber suara.


"Max...." teriakan Riel membuat mereka semua berlari ke kamar Ian di lantai dua. Begitu mereka masuk dilihatnya Riel yang kesusahan mengangkat tubuh Ian yang pingsan. "Astaga," semua berseru bersamaan. Max langsung membantu Riel, membawa Ian beralih ke kasur.


Lyli panik melihat keadaan Ian, gadis itu segera memeriksa Ian. "Sejak kapan dia begini?" tanya Lyli cemas.


"Sejak dua hari lalu." Lyli seketika melirik tajam pada Max.


"Dia gak mau dibawa ke rumah sakit, Ly." Max memberi pembelaan diri. Pada akhirnya, Lyli melakukan kompres untuk pertolongan pertama, sebelum gadis itu mendapatkan peralatan medisnya.


"Ly...Lyli...maafkan aku." Gumam Ian antara sadar dan tidak. Mata pria itu terpejam. Dengan suhu di kisaran 38,5°. Lyli tertegun mendengar igauan Ian. Gadis itu menarik nafasnya pelan. Lantas mendudukkan diri di sebelah Ian. Diperhatikannya wajah Ian yang tampak pucat dengan rambut halus mulai tumbuh di wajah Ian. Jelas jika pria itu tidak mengurus dirinya sendiri,, beberapa hari ini. Timbul rasa bersalah dalam hati Lyli. Dia buru-buru marah tanpa mencerna ucapan Ian. Lyli bergegas mengambil kesimpulan tanpa menelaah lebih dalam lagi penjelasan Ian.


"Maaf," lirih Lyli. Tak berapa lama pintu terbuka, masuklah Riel yang membawakan peralatan medisnya. Lyli segera memeriksa Ian. Setelah itu, satu sample darah Lyli ambil. Dengan Riel segera kembali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan laboratorium.


Lyli kembali menghembuskan nafasnya sebelum keluar dari kamar Ian. Satu senyuman menyambut Lyli saat gadis itu turun ke lantai bawah. Lyn meminta Lyli untuk makan terlebih dulu.


"Kau lihat sendiri?" Lyn bertanya, dan wajah Lyli terlihat semakin sendu. "Seorang pria tidak akan mengorbankan diri jika dia tidak benar-benar mencintai seorang gadis. Dia sangat tersiksa, padahal aku sudah memperingatkannya berkali-kali."

__ADS_1


Lyli hanya terdiam, mendengar perkataan Lyn. "Pikirkan lagi soal ini. Aku berani jamin kalau dia sangat mencintai dirimu."


Lyli kembali masuk ke kamar Ian, setelah mengambil makan malam yang sedikit terlambat. Adik Leon itu, mendudukkan tubuhnya di lantai, lantas meletakkan kepalanya di atas kasur. Mata Lyli perlahan terpejam.


Pagi menjelang. Lyli membuka matanya pelan, gadis itu menggeliat sejenak. Sesaat merasakan empuknya kasur yang dia tiduri. "Eh bukannya aku tidur sambil duduk. Kenapa aku bisa naik ke kasur?" tanya Lyli dalam hati. Gadis itu kini fokus, saat dia mendapatkan kesadarannya kembali, baru Lyli sadar kalau Ian tengah tersenyum menatap dirinya.


"Morning, Baby." Satu sapaan masuk ke telinga Lyli. Gadis itu membulatkan mata. Melihat Ian yang tersenyum padanya. Meski masih terlihat pucat. Namun bisa dipastikan kalau keadaan Ian sudah membaik. Tangan Lyli perlahan terulur. Memyentuh pelan dahi Ian.


"Aku sudah sembuh." Tangan Ian menahan tangan Lyli yang ingin memegang dahinya. "Tapi kau harus tetap diperiksa." Lyli bersikeras ingin memeriksa Ian.


"Aku sudah dapat obatku. Buat apa aku diperiksa lagi." Tolak Ian.


"Tapi...."


Ucapan Lyli terpotong ketika Ian merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Lyli kehilangan kata-kata, ketika Ian mengeratkan dekapannya. "Terima kasih, sudah mendengarkan penjelasan Lyn. Setidaknya kamu percaya padanya."


"Siapa juga yang percaya...." Perkataan Lyli tenggelam ketika Ian mencium dirinya. Nafas pria itu terasa hangat menampar wajah Lyli. Bahkan bibir Ian juga masih terasa panas. Meski begitu, Lyli tidak bisa menolak ciuman dari Ian. Untuk beberapa waktu, Lyli membiarkan Ian melakukan apa yang dia mau. Sampai Lyli mendorong jauh tubuh Ian. Sebab tubuh pria itu masih membara saat menyentuh kulitnya.


"Tidak masalah. Yang penting kamu tahu yang sebenarnya. Setelah itu terserah padamu."


Ian kembali memejamkan mata, merasakan pusing yang masih terasa di kepalanya. Pria itu akan menyelesaikan masalahnya nanti. Sekarang dia masih merasa sakit.


"Ian...."


"Hmmmm...."


"Apa kamu mencintai Lyn?"


"Iya.....dulu, tiga tahun lalu."


Lyli tersenyum samar. Sepertinya dia harus mempertimbangkan kembali ucapannya. "Kenapa? Mau menerima lamaranku?" goda Ian.

__ADS_1


"Idihhhh, siapa yang mau nikah sama bekas banyak wanita." Lyli menyahut, lalu membalikkan badannya, menghindari Ian yang kini menatapnya. Ian tersenyum lebar. "Meski bekas, rasanya seperti ori lo. Mau coba?"


Lengkingan seketika memenuhi kamar Ian. Saat Lyli membalas godaan Ian dengan protes keras. Keduanya mulai terlibat debat unfaedah di atas ranjang pria itu. Ian dan Lyli masih berbalas kata, saat pintu terbuka.


"Hei, apa yang kalian lakuakan? Tidak boleh ada sentuhan fisik. Kalian belum muhrin." Lyn memberi peringatan.


"Akan segera kuhalalkan dia!"


"Aku tidak mau dihalalkan olehmu!" Tolak Lyli tegas.


"Nggak peduli! Jika gak mau sukarela akan kupaksa!" Balas Ian tak mau kalah.


"Itu bukan pernikahan. Aku tidak mau!"


"Peduli amat. Bodo amat!"


"Stoooppp!!!!"


Teriakan Lyn segera menghentikan perdebatan dua orang itu. "Apa syaratmu agar mau dinikahi Ian?" tanya Lyn to the poin.


Lyli menatap Ian yang juga sedang memandangnya penuh harap. "Cintaku hanya untukmu. Tidak ada yang lain." Kata Ian pelan.


Keduanya kembali saling tatap. Lyli kembali meyakinkan diri untuk mulai menapaki jalan baru dalam hidupnya. "Berikan aku grand wedding yang pernah ada."


Dua sudut Ian tertarik. Dia tidak menyangka kalau keinginan Lyli sangat simple. "Deal! Kau akan mendapatkan grand wedding impianmu."


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


*****


__ADS_2