
Lyli menginjak kaki Juan. Asisten Rio itu langsung memekik kesakitan, pasalnya heels sepuluh senti itu serasa meremukkan tulang kakinya. Meski pria itu masih memakai sepatu.
"Aduuuhhh Ly, ini ide mereka, kenapa cuma aku yang dihajar?" kata Juan memelas. Pria itu meringis, sembari berjalan terpincang, menjauh dari Lyli yang masih memandangnya penuh dendam.
"Mereka yang punya ide. Tapi kenapa kau mau dijadikan kambing hitam?" Balas Lyli sengit.
Juan seketika merutuki kebodohannya sendiri. Dia yang kalah dalam adu suit, benar-benar menemui nasib apesnya.
"Juan, kandidat yang cocok. Lyli jarang melihatnya."
Pertimbangan itulah yang mendasari Juan dijadikan tumbal dalam acara prank itu. Mau marah dengan Mark, Lyli jelas tidak berani. Meski pria itu sebenarnya tidak masalah, jika istri Ian ingin marah padanya. Memang semua adalah idenya. Dia ingin menjemput Lyn beserta sang putra plus berterima kasih dan merayakan pesta pernikahan Ian. Jadi timbullah ide ini. Menculik ketiganya lantas membawa mereka ke atas kapal pesiar mewah milik Mark.
"Namanya juga kalah lotre Ly. Masak gak paham. Coba kalau aku yang jadi, apa kamu juga akan marah padaku?" tanya Leon sambil memeluk pinggang ramping Mada.
"Denganmu malah akan lebih parah aku marahnya." Judes Lyli.
"Astaga." Leon menepuk dahinya pelan. Dia lupa kalau Lyli itu sangat galak. "Ian, bawa dia ke kamar. Siapa tahu setelah malam ini dia akan lebih jinak." Seloroh Rio yang tampak bergelayut manja pada Thalia.
Lyli seketika melepas heelsnya, lantas melemparnya ke arah Rio. "Sembarangan kalau ngomong." Maki Lyli masih dengan amarah membuncah di dada.
"Memang apa lagi sih yang akan dilakukan oleh pengantin baru, selain adu....." Rio menggantung ucapannya, saat tatapan Lyli seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kau memang sudah unboxing Thalia...aduuhhhh...." Giliran Lyli yang meringis kala Rio melempar balik Lyli dengan butiran anggur yang baru saja dia ambil, hingga benda bulat itu mengenai kepala Lyli.
"Brengsek kau Rio!"
"Sudah dibilang itu top secret!"
"Di sini gak ada yang namanya rahasia. Semua serba open.....mmmpphh....Ian!!!!"
Lyli memekik saat Ian membungkam bibir Lyli dengan ciuman. Telinga suami Lyli itu lama-lama panas juga, setelah sang istri sejak tadi berdebat tiada henti dengan Juan dan Rio.
"Bisa diam tidak? Kita ke sini mau senang-senang. Bukan mau berdebat. Oke caraku, cara kami mungkim salah. Maaf untuk itu."
"Ck...lain kali pertimbangkan keselamatan orang lain. Kali ini Faaz. Kalau sampai...."
"Dia adalah prioritas untuk kami." Mark memotong ucapan Lyli. Raja Negara M itu terlihat begitu berwibawa. Sangat serasi dengan Lyn yang anggun. Ditambah kehadiran Faaz yang menyempurnakan kebahagiaan keluarga kerajaan itu.
__ADS_1
Ian merasa tercubit hatinya. Dia dulu sempat mengacaukan kebahagiaan keluarga itu dengan ide gilanya ingin memiliki Lyn. Rasa bersalah itu masih sering menghantui Ian. Meski Mark berulangkali mengatakan kalau mereka telah memaafkan Ian. Mengingat pria itu sudah menyelamatkan Lyn, sampai mengalami koma, selama Lyn mengandung Faaz.
"Jangan mengingat masa lalu. Mulai hari ini mari mulai hidup baru. Hidup bahagia untuk semua orang." Ucapan Lyn disambut tepuk tangan semua orang. Meski Lyn menujukan ucapannya pada Ian. Lyn tahu kalau Ian masih merasa bersalah padanya.
"Hiduplah dengan baik mulai sekarang." Sorot mata Lyn penuh dengan doa untuk Ian dan Lyli.
Pesta itu berlanjut dengan makan dan minum. Semua orang terlihat bahagia. Apalagi Lyli, wanita itu sangat senang saat tahu, kapal itu akan bersandar di pelabuhan negara M. Tempat yang dihadiahkan oleh Mark dan Leon, sebagai tujuan bulan madu untuk Ian dan Lyli.
Hampir tengah malam, saat kapal itu melintas di tengah Samudra Atlantik. Semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing. Namun keamanan tetap berada di level pertama. Dengan The Eye memimpin pengamanan ekstra ketat itu.
Ian dan Lyli sebagai pengantin baru, mendapat kamar di lantai atas. Dengan rooftop yang tembus pandang dengan view langit malam yang bertabur bintang. Sama dengan kamar Mark dan Lyn.
"Kenapa kalian melakukan ini?"
"Apa lagi sih Ly? Semua cuma prank aja. Gak lebih." Balas pria yang hanya memakai handuk kimono, setelah Ian selesai membersihkan diri. Sementara Lyli baru saja selesai membersihkan make up di wajahnya.
Mendengar jawaban Ian, Lyli mendengus kesal. Gadis itu masuk ke kamar mandi, baru saja menghidupkan shower, Lyli lupa kalau dia sejak tadi tidak bisa membuka gaunnya. Dia ingin keluar, tapi gaunnya terlanjur basah. Gadis itu membuka pintu kamar mandinya.
"Ian...." panggil Lyli, lirih. Gadis itu cukup malu dengan Ian, terlebih setelah mereka sudah menikah. "Apa?" tanya Ian santai.
"Bukain, tolong." Mohon Lyli malu-malu. Ian menyeringai mendengar permintaan sang istri.
Ian menurunkan resleting yang ada di punggung Lyli. Gadis itu segera berlari masuk ke kamar mandi begitu resleting sudah terbuka. Meninggalkan Ian yang mengulum senyumnya.
Lima belas menit berlalu, Lyli keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono, sebab dia sama sekali tidak menemukan pakaian apa pun di kamar mandi. Lyli dengan santai menuju meja rias setelah tidak melihat Ian di kamar. Namun dugaannya salah, satu pelukan Lyli dapat saat gadis itu tengah menyisir rambutnya.
"May I?" tanpa basa basi Ian meminta haknya.
"Ha?" Lyli melongo mendengar permintaan Ian. Meski dia sadar dengan statusnya yang sekarang, Ian berhak mendapatkannya.
"Gak bisa besok?" Tawar Lyli.
"No! Seharusnya kemarin aku dapatnya. Gak ada tawar menawar." Pria itu lantas mencium bibir Lyli. Lembut tapi menuntut. Awalnya Lyli ingin bernegosiasi lagi. Namun ucapan dari Mada, membuat Lyli tidak lagi menolak keinginan Ian.
Gadis itu mulai mengikuti permainan Ian, yang jangan diragukan lagi kemampuannya. Mantan player yang tobat, sentuhannya tentu sangat sulit ditolak. Ian cukup berhati-hati saat mencumbu Lyli. Tahu Lyli masih suci dalam artian belum pernah disentuh pria manapun sampai tahap bercinta.
Pria itu bermain sangat lembut, menunggu Lyli sampai benar-benar masuk dalam permainannya. Baru Ian mulai melakukan penetrasi. Meski begitu, Lyli tetap saja menangis, saat Ian berhasil memasuki tubuh Lyli untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Lah kok pake nangis. Kan tahu kalau diunboxing pasti sakit." Ledek Ian sambil mencium kening Lyli saat pria itu mençoba menggerakkan tubuhnya.
"Yaelah, gini amat nasib gue. Bertahun-tahun gua sakit hati sama lu, lama gue coba lupain elu. Eh ujung-ujungnya elu juga yang dapat." Keluh Lyli kocak di antara desahhhan yang terdengar di kamar mewah itu.
Ian hampir tersedak menahan tawa. Ada saja lawakan Lyli di tengah sesi panas mereka yang terjadi di tengah laut lepas.
"Percaya dengan peribahasa kalau jodoh tidak akan lari ke mana. Itulah aku dan kamu. Jadi nikmati saja menjadi nyonya Rivaldy." Kekeh Ian sembari memacu diri di atas tubuh seksi Lyli.
"Ya mau bagaimana lagi. Sayang dong maharnya aja berlian segedhe ini....aaahhhh....." Lyli meringis kala Ian menyentaknya.
"Bisa tidak melawaknya besok saja. Malam ini kita kebut untuk membuat calon istri Faaz."
Lyli membulatkan mata mendengar perkataan Ian. Wanita itu tidak menyangka kalau suaminya akan berpikiran seperti itu.
"Kamu masih mengharapkan Lyn?" tanya Lyli mulai emosi.
"Ngapain nyari yang lain kalau di depan mata ada tubuh senikmat ini. Masih segelan semua lagi. Percaya sama aku, aku cuma cinta sama kamu." Lagi, Ian menegaskan perasaannya pada sang istri.
"Bisa aku pegang omonganmu?" tantang Lyli.
"Aku Johannes Arka Kian Rivaldy berjanji, hanya akan mencintai Lyandra Daniela Ortega selama hidupnya. Astaga Ly, gak cukup apa ijab kabulku kemarin? Cuma kamu doang yang aku cinta." Tegas Ian.
Senyum Lyli mengembang mendengar ucapan Ian. Wanita itu perlahan mengangkat tubuhnya, lantas mencium bibir Ian, "Aku mencintaimu, Ian. I love you." Bisik wanita itu.
Ian ikut tersenyum mendengar ungkapan cinta dari Lyli. I love you too, forever." Detik berikutnya, dua insan itu kembali melanjutkan sesi panas mereka, di atas kapal pesiar dalam perjalanan menuju negara M.
END
***
Ian dan Lyli pamit dulu ya guys...
Untuk Ian dan Lyli, author akhiri sampai di sini. Terima kasih untuk dukungan dari para readers semua.
Jumpa lagi di karya author yang lain. Papay 🥰🥰😘😘
__ADS_1
***