Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Kebetulan


__ADS_3

"Lepaskan!" Mada berteriak, saat Rio melempar tubuhnya, masuk ke kamar sebuah rumah yang Mada tidak tahu itu di mana. Satu kecerobohan Mada buat, membuat Rio berhasil menculik wanita itu.


"Kali ini tidak akan kubiarkan kau lolos lagi." Kata Rio penuh ancaman. Pria itu menatap penuh nafsuu pada Mada. Sudah lama dia menahan diri untuk tidak menerkam Mada. Namun kali ini dia tidak akan menahannya lagi. Hari ini, wanita itu harus jadi miliknya.


Atas dasar apa Rio menyekap Mada dan berniat meniduri wanita itu. Semua itu berawal dari dikte seseorang empat tahun lalu. Setelah kematian Carlos, ada seorang pria yang datang pada Rio, menyerahkan dua benda yang menjadi bukti sebuah kejadian yang membuat pria itu menaruh dendam.


Satu, soal kematian Carlos yang ternyata di manipulasi oleh pihak Kerajaan M. Meski kini semua sudah diluruskan oleh Ian. Carlos adalah tersangka dan Ian adalah korban.


Satu hal lagi soal orang yang sudah membuat keluarganya hancur. Membuat Rio seolah-olah sendirian di dunia ini. Padahal tidak. Pria itu masih punya seorang saudara perempuan. Namun Rio tidak pernah tahu. Untuk membalas dendam, Rio diarahkan untuk menculik keturunan terakhir dari keluarga yang sudah membuat Rio yatim piatu. Dan orang itu adalah Mada.


Mada akan jadi sasaran Rio dalam menuntaskan balas dendamnya. Setelah hari itu Mada berhasil melarikan diri. Hari ini dan seterusnya, Rio memastikan kalau Mada akan menyesal telah hidup di dunia ini.


"Lepaskan aku. Lepaskan aku," mohon Mada berulang-ulang. Tangis ketakutan terlihat di wajah Mada. Wanita itu benar-benar takut melihat Rio. Terlebih pria itu terlihat sangat menyeramkan sekarang.


"Jangan mimpi! Kau akan ada di sini sampai aku puas denganmu."


Mada langsung memundurkan tubuhnya. Bayangan pelecehan yang hampir terjadi padanya, kembali terbayang di benak Mada.


"Kau takut? Jangan khawatir, kali ini aku akan benar-benar memasukimu. Kita akan bermain dengan benar kali ini." Kata Rio, pria itu mulai mendekati Mada. Tangan Rio mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Hingga kemeja itu berakhir di lantai. Menampilkan tubuh toples milik Rio, yang bagi sebagian wanita akan membuat tergoda. Tapi tidak untuk Mada. Wanita itu hampir menjerit jika saja Rio tidak membungkam bibir Mada dengan ciuman.


Bola mata Mada membulat. Satu dorongan reflek Mada lakukan, membuat tubuh Rio hampir terjengkang.


"Bibirmu benar-benar manis, Mada." Seringai Rio mengerikan.


"Jangan mendekat! Jangan dekati aku!" pekik Mada. Namun Rio justru kian bersemangat. Dia suka wanita yang ketakutan di awal, tapi akan mendessahh ketagihan sampai akhir. Mada jelas belum pernah tersentuh oleh siapapun.


Rio kembali mendekati Mada. Kali ini tangan pria itu sudah berada di kemeja Mada, satu tarikan dan kemeja itu robek di bagian depan. Kulit putih dan mulus serta dada yang terlihat kenyal membuat gairah Rio naik seketika.


"Waktunya untuk bermain, sayang." Teriakan dari Mada tidak Rio hiraukan saat pria itu mulai mencumbu tubuh seksi Mada.

__ADS_1


Di sisi lain. Leon jelas belingsatan, calon istrinya menghilang. Mada setuju untuk menikah dengan Leon. Setelah menggunakan waktu tiga hari untuk berpikir. Leon menekankan satu hal pada Mada soal pernikahan yang akan mereka jalani. Tidak ada kata cerai dalam pernikahan mereka nantinya. Dan Mada setuju akan hal itu. Mereka sepakat akan belajar saling mengènal dan mencintai setelah menikah.


Namun pria itu harus menelan rasa marah ketika dia baru saja kembali dari toko perhiasan untuk membeli cincin bersama Lyli. Anggotanya melapor kalau Mada diculik pria tidak dikenal, di area minimarket di luar mess. Area di luar kendali mess. Tempat yang sebenarnya Leon anjurkan untuk membawa teman jika Mada ingin pergi ke sana.


"Bagaimana? Sudah ketemu?" Leon bertanya panik. Melihat trauma yang di alami Mada, pria itu takut kalau setelah ini makin sulit untuk menyembuhkan trauma wanita itu.


"Siap, Kapt. Kami belum menemukan Bu Kapten."


Leon mendelik mendengar laporan anak buahnya. Rumor pernikahannya sudah menyebar luas rupanya. Tentu saja semua anggota divisi tempat Leon bertugas sangat senang, pimpinan mereka akan menikah. Terlebih Mada sudah banyak berbaur dengan anggota Bhayangkari lainnya. Hal itu tentu menjadi poin lebih bagi Mada untuk menyandang Ibu Kapten bagi mereka.


"He...he...sorry Kapt, kebiasaan." Abri, suami Indira nyengir mendapat pelototan dari atasannya.


Lyli yang rupanya mengekor di belakang Leon beberapa kali menganggukkan kepala, membalas sapaan bawahan sang kakak. Gadis itu melihat sang kakak sangat kebingungan, juga cemas dengan keadaan Mada. Membawa paperbag berisi cincin untuk Mada, gadis itu mendekat ke arah Leon.


"Ketemu belum?" tanya Lyli setelah mencolek lengan sang kakak. Leon menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Lyli. Pria itu terlihat frustrasi.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" Leon sudah sangat cemas dengan keadaan Mada. Takut kalau penculiknya berbuat nekad. Menyakiti Mada atau.....Leon menggelengkan kepala menghilangkan bayangan paling mengerikan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.


Anggota Leon sudah melakukan pencarian menyeluruh. Meretas CCTV jalan atau di manapun kemungkinan scan mata Mada terlihat.


Lyli mengirim pesan pada Ian beberapa menit lalu, sebab gadis itu ada janji dengan pria itu, setelah mengantar sang kakak membeli cincin. Saat ini Ian sudah sampai di depan kantor polisi


"Ngapain kamu ke sini? Mau jadi donor darah buat nyamuk lagi?" ledek Leon. Ingat saat Ian kapok tidur di sel karena banyak nyamuk.


"Enak saja. Katanya lagi nyari orang. Sudah ketemu belum?" balas Ian cepat.


"Belum sih. Eh dari mana kamu tahu?" Leon memicingkan mata pada sang adik.


"Nanti keburu kakak ipar kenapa-napa. Kakak yang rugi, dia mulus lo. Sayang kalau sampai lecet," kekeh Lyli.

__ADS_1


Ian membulatkan mata mendengar Lyli menyebut kakak ipar. "Woi...lu mau kewong? Siapa calonnya?" tanya Ian asal.


Bawahan Leon saling pandang mendengar gaya bicara Ian. Pria yang beberapa waktu lalu sempat tidur di penjara mereka.


"Nikah....kawin mah gak usah kasih tahu elu. Kampret!" Jawab Leon enteng. Pria itu melihat Ian yang kepo.


"Siapa calonnya? Gue kenal gak?" Ampun deh Ian kalau mode tengilnya kumat. Hilang semua aura mafia yang ada di dirinya.


"Kamu gak kenal." Tegas Leon.


"Makanya kenalan dulu. Kan dia calon kakak ipar gue." Ian kambuh narsisnya.


"Gue belum ACC ya lu sama adek gue," ancam Leon.


"Gak lu restuin, gue seret adek lu ke kasur langsung. Pilih mana?" tantang Ian.


"Kurang ajar lu ya!" Dua orang itu malah gelud sendiri. Sampai seorang anak buah Leon berteriak, sudah menemukan lokasi Mada. Ian melotot mendengar nama Mada di sebut.


"Mada? Sheria Amada, calon istri lu?" tanya Ian tidak percaya.


"Wah kenapa jadi runyam begini. Ini namanya kebetulan atau apa ya," batin Ian tertawa mendengar Mada adalah calon istri Leon.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2