Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Salah Sasaran


__ADS_3

"Mereka menuju ke tempat Rio."


Satu laporan membuat seorang pria tersenyum puas. Sebuah perintah lantas dia berikan pada tangan kanannya tersebut. Si pria mengangguk lalu undur diri dari hadapan sang tuan.


"Hari ini sakit hatimu akan ayah balaskan, putriku."


Pria itu memeluk sebuah boneka, kesukaan sang putri semasa remaja. "Johannes Arka Kian Rivaldy, tunggu giliranmu."


*


*


"Tinggal saja di sini." Pinta Leon pada Lyli. Sang adik tidak mau ditinggal di kantor polisi tempat sang kakak berdinas.


"Tidak mau. Mereka gak ada yang bisa diajakin bercanda. Lempeng semua kayak jalan tol mukanya." Semua bawahan Leon saling pandang mendengar ucapan adik kapten mereka.


Ian tertawa mendengar alasan Lyli. "Ya, kamu tinggal belokin, biar gak lurus mulu." Lagi satu si biang lawak buka suara. Makin bingunglah anak buah Leon.


"Haisshhh, kalian berdua ini bisa ikutan daftar stand up comedy. Kalau lagi konyol kayak orang gila." Maki Leon masuk ke dalam mobilnya.


"Ikut ya...ya....aku tunggu di mobil deh. Sudah dibela-belain ambil cuti, masak nongkinya di kantor polisi. Gak lucu dong. Masih mending ikut jemput kakak ipar yang lagi diculik. Keren gak tu."


Lyli terus mengekor di belakang sang kakak. Sebab sang kakaklah yang paling susah diajak kompromi. Leon dan Ian saling pandang. Hingga keduanya saling pandang.


"Di mobil aja. Jangan ke mana-mana." Leon memberi syarat pada sang adik. Lyli langsung memberi tanda hormat pada Leon. Tanda dia akan patuh pada permintaan Leon.


Beberapa waktu kemudian. Leon dan Ian sampai di sebuah rumah yang menurut bawahan Leon adalah rumah di mana Mada berada. Dan memang iya, sebab The Eye juga bilang begitu.


Beberapa anggota turut serta dalam aksi itu. Ian sedikit kepo dengan apa yang akan terjadi. Sebab The Eye mengatakan kalau Rio-lah yang sudah membawa Mada.


"Drama keluarga di mulai," kekeh Ian dalam hati.


Lyli manyun kala Leon benar-benar tidak mengizinkan dia turun. "Duduk di sini atau tak suruh mereka bawa balik kamu ke kantor." Leon berucap tegas.


"Nurut aja Ly, entar kayak kemarin lagi." Ian turut menambahkan. Satu tatapan dari Leon membuat Ian nyengir. "Gak ada apa-apa. Jangan khawatir."

__ADS_1


Sementara itu di dalam rumah itu. Rio baru saja membuka pintu kamar Mada. Pria itu sepertinya baru saja kembali dari suatu tempat.


"Oke, kali ini kupastikan tidak akan ada yang mengganggu kita. Kita akan bersenang-senang kali ini." Rio menatap tajam pada Mada yang langsung memojokkan tubuhnya ke sudut ruangan.


Hanya ada dua orang yang berjaga di ruang tamu. Dan mereka sudah Rio usir begitu pria itu sampai di sana.


"Mau ngapain kamu?!" teriak Mada.


"Meneruskan yang tadi. Tadi kan belum jadi. Jadi sekarang kita akan benar-benar melakukannya." Seringai Rio mengerikan.


Mada seketika berlari ke arah pintu, mencoba melarikan diri. Satu dikte dari Leon ternyata merasuk ke benak Mada. "Lari kalau kamu dalam bahaya. Lawan kalau kamu merasa terancam. Jangan takut, aku akan mencarimu kalau aku kehilanganmu." Demi Leon, Mada akan melawan Rio. Terlebih mereka akan menikah. Dia akan berusaha menjaga dirinya untuk Leon.


"Wahhh..kau berani melawan sekarang," kata Leon takjub. Dia tidak pernah menyangka kalau kucing imutnya bisa juga menunjukkan cakarnya.


Pintu dikunci jadi Mada tidak bisa membukanya. Sementara di lantai bawah, Leon dan Ian sudah masuk ke ruang tamu. Sepi, keduanya saling pandang. Sampai satu teriakan terdengar dari lantai dua.


Dua pria itu segera melesat naik ke lantai dua. Menuju sebuah kamar, di mana sumber teriakan berasal. "Brengsekk kau. Berani kau mencakarku!" maki Rio merasa perih di kedua siai wajahnya. Pria itu kini menindih tubuh Mada di atas kasur. Rio berusaha mencium Mada, tapi Mada terus berontak.


"Diam kau!" satu tamparan mendarat di pipi Mada. Plaakkkkk, wanita itu meringis, saat rasa perih dan panas menerpa pipinya.


"Kita impas sekarang! Jadi diam! Dan nikmati saja." Rio mulai mencoba mencium bibir Mada. Sampai satu tendangan di pintu membuat Rio menoleh dan menghentikan aksinya.


Tanpa kata, Leon langsung menarik kerah baju Rio, membawa tubuh pria itu menjauh dari Mada. Lantas menghajarnya tanpa ampun.


"Jadi kau pelakunya? Kau yang sudah menyekap Mada, hampir melecehkannya. Menganiayanya? Kau gila Rio! Kau gila!"


Leon melampiaskan amarah sekaligus rasa terkejutnya, plus rasa leganya. Bukan Lyli, sang adik yang menjadi korban kebejatan Rio.


"Dia yang menghancurkan keluargaku. Jadi aku ingin balas dendam padanya!" teriak Rio, tidak kalah kerasnya. Wajah pria itu sudah babak belur dengan darah keluar dari sudut bibirnya.


"Semua bisa diselesaikan! Tapi bukan begini caranya!" pekik Leon sama kerasnya.


"Aku tidak percaya pada polisi. Mereka tidak bisa berbuat adil. Mereka membuatku menderita. Maka aku akan membalasnya sepuluh kali lipat pada mereka!" Rio meluapkan emosinya.


Di tempatnya Mada menangis terisak, sambil memeluk lututnya. Pakaian wanita itu sudah koyak di beberapa tempat. Ian yang sejak tadi hanya menonton sambil bersandar di tembok, perlahan mendekati Mada. Meminta jaket yang dipakai Leon, pria itu menyampirkannya ke bahu Mada.

__ADS_1


"Berhentilah menangis, kau sudah aman sekarang. Dia cuma salah paham padamu. Kalian hanya salah paham." Perkataan Ian, membuat Mada mengangkat wajahnya. Perlahan ditatapnya wajah Ian.


"Ian......" Leon dan Rio tentu terkejut, mendengar Mada mengenali Ian.


"Siapa kau? Kenapa dia tahu namamu?" Rio bertanya penuh rasa penasaran.


Ian terkekeh. Pria itu meraih tubuh Mada, membawanya keluar dari kamar yang bagi Mada akan jadi sebuah tempat yang penuh kenangan buruk.


"Duduklah di sini. Tenanglah ada aku. Dia tidak akan berani mengganggumu. Seperti dulu." Kata Ian menenangkan.


Brukkkkk


Leon melempar tubuh Rio, hingga pria itu tersungkur di lantai, di depan Mada. Mada langsung memundurkan tubuhnya. Wanita itu memeluk lutut. Sangat ketakutan.


"Sekarang katakan alasanmu melakukan semua ini. Berhubung kita saling kenal. Kita akan menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan...cih...aku tidak punya keluarga macam kau. Sebelum aku menyeretmu ke penjara." Leon menunjuk wajah Rio dengan amarah membuncah di dada. Calon istrinya hampir dilecehkan oleh kekasih adiknya. Setidaknya Lyli dan Rio belum putus.


Ian hanya menjadi penonton dalam kesempatan ini.


"Rio jawab!" raung Leon.


"Dia adalah anak dari orang yang telah membuatku yatim piatu!" Rio berteriak tidak kalah keras dari Leon.


"Kau ada buktinya?" tantang Ian. Pria itu duduk di sebelah Mada. Dengan Mada yang seolah mencari perlindungan pada Ian. Sebab hanya Ian yang terlihat tenang. Leon yang biasanya mampu menguasai diri, kini gagal melakukannya. Keadaan Mada membuat Leon sadar, kalau dia sangat mengkhawatirkan wanita itu.


Rio terdiam mendengar pertanyaan Ian. Bukti memang ada. Namun dia pikir, Ian tidak akan percaya begitu saja. Leon dan Ian saling pandang. Sesekali mereka melihat pada Mada yang masih terisak.


"Lihat! Kau kembali dibodohi!"


"Aku tidak bodoh!" bentak Rio.


"Kalau begitu katakan siapa? Siapa yang sudah memberitahumu, kalau Mada adalah sasaran balas dendammu. Jangan sampai kau salah sasaran. Seperti yang kau lakukan padaku." Suara tegas Ian membuat Rio mendongak menatap pria itu.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2