Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Baper


__ADS_3

Setelah Rio pulang, Lyli menerobos masuk kamar sang kakak. Kamar yang sangat maskulin. Dindingnya dicat dengan warna coklat gelap. Jika bukan karena lampu gantung yang bersinar cukup terang, kamar itu pasti terlihat suram. Lyli menunggu di sofa, sementara sang kakak berada di kamar mandi.


Saat pria itu keluar dari sana, Lyli melotot. "Kenapa melotot?" tanya Leon santai.


"Tolonglah, Kak. Kita bukan anak lima tahun yang bisa telanjanggg di mana saja." Sungut Lyli, protes pada sang kakak yang hanya memakai handuk di pinggangnya.


"Ah elah, masak mau nerkam kakak sendiri." Ledek Leon dari walk in closetnya.


"Isshhh, gak gitu juga kali." Elak Lyli.


Tak berapa lama Leon sudah memakai pakaiannya. Lantas duduk di dekat Lyli. "Ada apa?"


Lalu Lyli mulai bercerita. Atau lebih tepatnya bertanya soal Mada. Leon sesaat terdiam. Sebab dia hanya menolong Mada sesuai kapasitasnya sebagai manusia yang harus saling menolong.


"Malah diam. Ayo jawab!" Lyli terus mengejar jawaban dari sang kakak. Sementara Leon malah diam berpikir. Tak lama pria itu mulai menjawab pertanyaan sang adik. Dia menjelaskan bagaimana dia bertemu Mada.


"Serius? Kakak gak tahu siapa dia. Sudah di selidiki?" cecar Lyli.


"Kakak gak tahu siapa dia. Dia cuma bilang namanya Mada. Itu doang."


Lyli manggut-manggut, mendengar penjelasan sang kakak. Gadis itu pun ikut berpikir. Hingga sebuah pikiran tercetus di kepala Lyli. "Dia bukan penjahat kan?"


"Isshh sembarangan. Justru kemungkinan dia adalah korban."


Lyli mengusap dagunya pelan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai pertanyaan Leon membuat Lyli salah tingkah.


"Lalu tugasmu sendiri bagaimana?" Lyli nyengir mendengar pertanyaan Leon. "Masih belum berhasil."


Sorot mata Leon menajam. "Alah Kak, susah tahu buat nyelidikin Ian. Mana suruh nyari bukti kalau donor ginjalnya ilegal lagi. Semua ada datanya, legal. Hitam di atas putih. Kak, aku tu dah lihat, kalau rumah sakitku mendahulukan yang urgent dan tidak mampu. Walau pasiennya punya uang, tapi kalau masih bisa dimundurkan dan ada yang lebih membutuhkan. Pasien itu yang didahulukan."

__ADS_1


Leon mengerutkan dahi. Bagaimana sih tingkah polah Ian ini. Pintar sekali mencari simpati dari kalangan bawah. "Kalau Kakak terus menekan rumah sakit Ian, yang ada kakak di demo orang pinggiran. Kakak nyari deh mana ada rumah sakit yang suruh bayar semampunya buat transplantasi ginjal. Masuk akal gak tu." Kata Lyli lagi.


Sejauh yang Leon selidiki, memang hanya rumah sakit Ian yang berani melakukan hal itu. Tidak masuk akal sih. Untuk transplantasi ginjal, organnya saja sudah bernilai miliaran dengan biaya operasi mencapai ratusan juta. Dan Lyli pernah mendengar ada yang hanya bayar 50 juta. Itupun setelah bertemu Ian, 50 juta itu dikembalikan, karena mereka menjual seluruh tanah dan rumah tempat tinggal mereka. Hingga setelah operasi ini selesai mereka akan tinggal di kolong jembatan.


"Bagaimana?" tanya Lyli memastikan. Leon mendesahhh frustrasi. Sebenarnya kecurigaan Leon adalah Ian terlibat sindikat penjualan organ dalam manusia skala internasional. Jika begitu, Ian bisa jadi buronan banyak pihak.


"Selidiki terus. Kakak masih penasaran dengan Ian." Giliran Lyli yang mendengus kesal. Ian memang mengejarnya, tapi pria itu tidak pernah menimbulkan rasa curiga di hati Lyli. Ian selalu bersikap seperti biasa, natural tanpa terlihat dia menyembunyikan sesuatu atau berbuat salah.


"Susah lah, Kak." Keluh Lyli.


"Kenapa? Apa kau tidak tega padanya? Atau kau takut kalau ternyata dugaan kita benar. Dia terlibat seorang bandit dan kini dia tengah mengejarmu. Atau kamu ada rasa padanya."


"Alamat dia jadi bandit kena karma dong. Rasa apaan sih?"


Leon menatap Lyli dengan tatapan tidak percaya. Pria itu menggelengkan kepalanya. Selanjutnya keduanya berbincang tentang banyak hal. Maklum saja pekerjaan mereka sering menyita waktu mereka untuk bertemu.


*


*


Di samping itu, Ian sering menggunakan dana pribadinya untuk membayari biaya operasi orang yamg tidak mampu. Penghasilannya menjadi mafia sejak dulu, menjadikannya pria kaya raya terselubung. Di tambah lagi ada suport dana dari negara M. Negara itu membuat anggaran tersendiri donasi ke rumah sakit Ian.


Setelah laporan The Eye selesai dan tidak ada hal yang mengganggu bisnisnya. Ian menyuruh The Eye untuk pergi dari hadapannya.


Bersamaan dengan itu, masuklah Lyli setelah mengetuk pintu. "Apa ini?" tanya Ian sambil membuka berkas yang di bawa Lyli. Ian membacanya sekilas.


"Kamu yakin?" tanya Ian. Dan Lyli mengedikkan bahunya, tidak tahu.


"Kamu tahu operasi itu sangat berbahaya bagi pasien. Satu small error, si pasien bisa mati."

__ADS_1


"Tapi dia yang minta dan dia siap dengan resikonya. Bahkan jika harus mati. Setidaknya dia sudah pernah mencoba. Untuk kematian aku rasa kemungkinannya tipis. Mengingat konsisinya prima saat ini."


Dua orang itu saling pandang. Keduanya mencoba menyelami rasa satu sama lain.


"Ada banyak hal bisa terjadi di ruang operasi, kesembuhan pasien atau tercorengnya reputasi dokter, yang bertanggung jawab atas tindakan operasi tersebut. Kamu ingin mengorbankan karier sempurnamu, untuk melakukan hal yang belum tentu hasilnya."


Lyli selama ini dikenal sebagai dokter bedah saraf yang cukup mumpuni. Jarang sekali Lyli melakukan kesalahan fatal dalam operasinya. Gadis itu masuk dalam jajaran dokter terbaik di rumah sakit milik Ian.


"Kalau karierku hancur di bidang ini. Aku bisa pensiun dini. Cari kesibukan lain." Sambar Lyli cepat. Ian seketika tersenyum tidak percaya. Semudah itu Lyli berkata akan pensiun dari pekerjaannya sekarang.


"Kamu yakin? Kamu bisa melepaskan semua ini setelah kamu berjuang sekian lama untuk sampai di titik ini." Tanya Ian lagi.


Menjadi dokter spesialis membutuhkan rentang waktu yang lama untuk mendapat pengakuan dari dunia medis soal kemampuan dokter yang bersangkutan. Lyli misalnya, baru setahun terakhir kemampuannya diakui oleh banyak dokter senior. Setelah Ian bangun dari koma. Analisa Lyli yang tepat soal keadaan Ian, membuat tim dokter bisa memutuskan terapi obat apa yang pas untuk Ian waktu itu.


"Aku yakin. Apa kamu tidak percaya pada kemampuan dan analisaku?" tanya Lyli sembari menatap mata Ian.


"Bukan tidak percaya. Tapi aku mencemaskanmu." Kata Ian balik menatap Lyli lembut.


Jantung Lyli seketika berdegup kencang bak genderang mau perang. "Baper deh gue." Batin Lyli kesal dalam hati. Gadis itu jadi salah tingkah dengan wajah merona merah. Lyli tidak berani memandang wajah Ian.


"Bodoh kamu Ly, masak iya kamu bakalan baper lagi sama Ian, kayak sepuluh tahun lalu." Maki Lyli pada dirinya sendiri.


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2